Part 19 - Manusia Pengganggu

20 4 2
                                        

Sudut kantin mungkin sudah menjadi tempatnya. Tidak bisa diganggu gugat. Setiap ke kantin orang yang duduk di pojokan selalu Dareel. Warna hoodie nya yang mencolok membuatku mudah menemukannya. Lagian, di SMA ini mana ada cowok yang pakai hoodie pink selain Dareel. 

Mangkuk di depannya sudah kosong, es teh di depannya juga sudah habis. Menyisakan es batu yang perlahan mencair.

"Hai" sapaku kemudian duduk di depannya.

"Temenin aku makan ya," pintaku sembari meletakkan nampan yang berisi semangkuk bakso dan segelas es jeruk.

Ia diam tidak menjawab. Tatapannya menghadap ke luar jendela. Entah apa yang menjadi titik fokusnya.

"Reel, hoodie pink buat aku aja, ya?" ucapku sembari memasukkan bakso ke dalam mulut. Hoodie itu sudah lama menjadi penghuni lemariku. Sejak kejadian hari itu.

"Enak aja" pungkasnya.

"Ihh, pokoknya gak akan aku balikin. Lagian kan, kamu masih ada tuh"

Memang tidak tahu diuntung seorang Micca Lotenna. Dareel sudah berbaik hati meminjami, eh malah nglunjak.

"Nglunjak Lo ya, tau gitu gue biarin aja kemarin."

Aku terkekeh pelan. Sedetik kemudian, bakso yang masih di mulut salah masuk ke saluran pernafasan. Tau kan, rasanya kayak apa? Mana ni bakso sambelnya 2 sendok munjung lagi.

Dareel langsung berdiri. Berjalan ke belakangku dan menepuk-nepuk pelan punggungku.

"Kalo makan tu makan aja," celetuk Dareel masih menepuk pundakku. Persis seperti orang tua yang memarahi anaknya.

Tenggorokan ku benar-benar pedas, hidung apa lagi.

"Minum dulu."

Aku meraih gelas di depanku. Hambar. Perasaan tadi aku pesan es jeruk.

Tawa menggelegar dari belakang. Baru kali ini aku mendengar Dareel tertawa.

"Lo salah ambil, Ca."

Ahh, sial. Tapi tak apa, denger Dareel ketawa rasa bahagia mencuat begitu saja.

"Bilang dong, Reel. Ga tau keselek apahh" rajukku pura-pura.

Setelah mereda, Dareel kembali ke posisi semula. Bagaimana aku tidak tambah jatuh? Perhatian kecil seperti ini yang membuatku klepek-klepek dengan makhluk planet di depanku.

Aslinya Dareel baik, hanya saja sikap dingin plus cueknya yang membuat hatiku menangis. Sejak awal, emang begini kan?

"Reel," ucapku menunduk sembari mengaduk bakso yang tinggal 3 butir.

"Bentar lagi mau ujian semester genap ya, Reel. Waktu ku makin menipis. Mana belum ada kemajuan lagi."

Ia mengalihkan pandangannya kepadaku. Meski aku menunduk, tapi aku tau arah pandangannya.

"Bagus dong, biar aja."

Sontak aku langsung mengarahkan tatapan tajam ke arahnya.

"Aihh Dareel. Gimana sihhhh. Kalau tantangan tidak terpenuhi, gak jadi temenan dong, kita?" ucapku sebal.

"Pastinya" ucapnya datar.

"Tapi dengan kita kek gini, kita udah bisa dibilang temen lo, Reel. Aku ngikut kamu pulang tiap hari, abis itu kamu anter lagi kerumah. Malah bisa dibilang, temen rasa pacar" ucapku kemudian terkekeh pelan.

Ia tidak menjawab, hanya mengendikkan bahunya.

"Ish, dasar kanebo kering, makhluk planet, makhluk Uranus" umpatku. Habisnya dia super duper menyebalkan.

"Liat aja nanti ya, persaingan makin ketat dan kemungkinan Lo lolos bisa saja 0,0001 persen. Melihat kemampuan Lo selama ini."

"SHOMBONG AMAAATT."

"Eits, belum tentu juga kamu lolos. Jadi masih ada kesempatan doongg."

"Gue pasti lolos."

"Idihhh, belum tentu pak. Jangan kepedean dulu anda ya."

"Gue pasti bakal berusaha supaya gue lolos, dan gue gak perlu temenan sama Lo" ucapnya membuat hatiku mendidih.

Aku mengepalkan tangan. Kenapa Dareel jadi menyebalkan seperti ini?

"Misiiii missiiiiiii." Aku menoleh ke sumber suara. Kak Agam kembali merecoki ku dengan Dareel. Lagian ini kantin kelas 10, kenapa dia bisa nyasar kesini?

Kak Agam duduk di sampingku. Setelahnya dia mengacungkan jempolnya ke atas. Kemudian menoleh ke arah pintu keluar. Aku mengikuti arah pandangannya. Di sana ada 5 orang yang tersenyum jahil.

"Selamat berjuang kawan" teriak salah satu dari mereka sebelum menghilang dari pandangan mataku.

Begitu juga dengan Dareel. Yang entah sejak kapan pergi dari tempat duduknya.

Aku menghela napas pelan, membuangnya dengan kasar.

"Apa Kak?" tanyaku sebelum ia bersuara.

"Mau makan gue. Kantin kelas 11 penuhhh banget, Ca. Jadi gue mlipir ke sini" ucapnya menyantap makanannya.

Aku ber-oh ria. "Silahkan lanjut Kakak Agam yang agak kurang," ucapku lalu berdiri. Mood makanku sudah hilang semenjak berdebat dengan Dareel.

Baru mau melangkahkan kaki, Kak Agam mencekal pergelangan tanganku. Menariknya agar aku duduk kembali.

"Temenin dulu lah, Ca. Biar ada pawangnya. Nanti gue dikerubutin cewek-cewek lagi. Lo nggak cemburu apa?"

"Helloooowwww, Kakak tersableng denger ya. Mau dikerubutin cewek kek, dikerubutin semut kek, aku ga perduli. BODO AMAAT."

"Lepas gak?" ucapku berusaha melepas cekalan tangannya.

"Nggak bakal, tungguin gue makan dulu."

Oh, Tuhan. Apa ini karma buat aku, gara-gara ngrecokin Dareel mulu?

Dengan kesal, aku turutin apa maunya Kak Agam.

"Cepetan" ucapku kesal.

"Nah, gitu dongg."

****

MICCA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang