"Apa Kak?" Tanyaku langsung.
"Lo kenapa?" Bukannya menjawab, Kak Agam malah bertanya balik.
"Nggak papa."
"Boong. Lo nggak mungkin nggak papa. Mata Lo merah, apalagi hidung Lo. Udah kayak tomat."
Aku diam tidak menanggapi.
"Lo kenapa gue tanya?" Tanya Kak Agam menekan di setiap katanya sembari mengguncang bahuku.
Air mata kembali meleleh. Sungguh, aku tidak kuat untuk menahannya lagi.
Tiba-tiba, Kak Agam menarikku ke pelukannya. Aku membulatkan mata. Kaget dengan tindakannya Kak Agam.
Aku berusaha untuk lepas. Tapi cengkraman Kak Agam terlalu kuat.
"Plis, untuk kali ini aja" ucapnya masih mendekapku. Aku menyerah.
"Nangis sepuas Lo, Ca" sambungnya. Kini Kak Agam menepuk-nepuk punggungku.
Tidak bisa dielakkan lagi. Untuk pertama kalinya, ini terasa nyaman.
"Lo menyedihkan, Ca" ucapku mengasihani diriku sendiri.
Pintu rooftop terbuka. Seseorang berdiri di sana. Mematung. Tampak kaget dengan pemandangan di depannya. Tangannya menggenggam.
Dareel?!
Ia berbalik arah. Mengapa Dareel ke rooftop? Siapa yang sedang ia cari?
Aku sama sekali tidak mengejarnya. Biarlah. Dareel mungkin nyaman seperti ini. Aku cukup sadar diri.
****
"Ca, Dareel tadi ke rooftop, nggak?" tanya Moana saat aku sudah kembali ke kelas.
Aku membulatkan bola mataku. "Kenapa emang?" tanyaku mencoba untuk santai.
"Tadi ketemu di depan ruang guru, kan. Kayak ngurus apaa gitu. Terus gue nyuruh dia ke rooftop."
"K-kenapa?" aku tergagap.
"Gue bilang kalo Lo di sana lagi nangis. Dia langsung pergi."
"Nggak tau deh, ke rooftop atau ke mana" Sambungnya.
APA?!
Berarti Dareel tadi sedang mencariku? Emang bener iya?
Aku segera beranjak. Berlari ke kelasnya. Oh, tidak mungkin dia di sana. Karena besok dia akan berangkat, tidak mungkin kan, kalau dia mengikuti pelajaran. Aku kelimpungan mencarinya. Dareel ke rooftop untuk aku? Aku masih bertanya-tanya dalam hati. Aku segera ke kantin. Mencarinya di pojokan kantin. Tidak ada juga. Aku frustasi. Kemana dia pergi?
"Nyari gue?" tanya seseorang di belakangku.
Aku segera berbalik arah. Aku kenal dengan suara itu. Tidak bisa dielakkan.
"I-ya."
"Kenapa?"
"Reel, kamu tadi ngapain ke sana?" tanyaku.
"Siapapun boleh kesana, kan? Bukan cuma Lo sama anak Alastor itu" tegasnya.
"S-sorry" ucapku. Entah apa tujuanku meminta maaf.
Hening sesaat. Aku kehilangan kata-kataku.
"Kalian pacaran?" tanya Dareel memecah keheningan. Sukses membuatku terlonjak kaget. Sejak kapan dia perduli dengan urusan orang?
"NGGAK" kilahku cepat.
"Oh" Sambungnya datar.
"Kenapa tanya gitu?"
"Nggak papa."
"Reel" panggilku.
"Hm."
"Selamat ya, akhirnya kamu yang menang, dan aku yang kalah. Kamu bisa bebas dari aku. Karena aku nggak akan ganggu kamu lagi. Sesuai dengan kesepakatan kita di awal dulu. Maaf, kalau selama ini aku udah banyak menyita waktu kamu" ucapku lalu mengusap air mata yang entah kapan turunnya.
"Ya, kita nggak perlu temenan, Reel. Kamu pasti seneng, ya" sambungku lalu tersenyum getir.
"Oh ya, hati-hati buat besok. Semoga selamat sampai tujuan. Aku rasa, ini pertemuan terakhir kita, Reel. Habis ini nggak bakal ada si hoodie pink yang duduk di pojokan kantin, nggak ada lagi orang yang aku panggil makhluk Uranus, dan setiap pulang sekolah, aku bakal langsung pulang ke rumah."
HUAH! Ada perasaan sedikit lega sekarang. Kata-kata itu akhirnya keluar juga setelah menahannya di dalam dada.
"So, semoga harimu selalu menyenangkan di sana."
"Besok di bandara, jam delapan. Jangan sampe telat, ataupun nggak dateng. Gue bakal bilang sesuatu ke Lo."
Aku mengernyitkan dahi. Bingung dengan ungkapan Dareel.
"Bilang apa?" tanyaku penasaran.
"Pengakuan" ungkap Dareel sebelum pergi menjauh.
"KENAPA NGGAK SEKARANG AJA! KENAPA HARUS BESOK" aku berteriak. Berharap Dareel mau berhenti dan menjelaskan pengakuannya.
Namun, ia terus melanjutkan langkahnya tanpa mau berhenti. Berbalik pun tidak.
Pengakuan? Maksudnya?
Aku tidak paham sama sekali. Dareel selalu begini, menggantung tanpa memberi kepastian.
****
Aku berlari, berharap pesawat untuk mengantarkannya ke negeri pecahan es itu belum terbang. Aku melirik jam yang melingkar di tangan. Jam delapan lewat dua puluh menit. Keterlambatan yang sama sekali tidak bisa ditoleransi. Aku terus merapalkan doa, agar Dareel belum berangkat.
Aku merasakan air mengalir dari pelupuk mata. Dareel pasti masih di sini, dia belum pergi. Aku yakin. Aku berlari ke ruang boarding. Semoga mereka masih di sana. Termasuk Dareel.
Dari balik kaca, aku mematung. Pandanganku menyapu di seluruh ruangan. Ruang boarding sudah kosong. Tidak ada orang lagi di sana.
Jadi, aku benar-benar terlambat?
Dareel benar-benar pergi?
Tidak ada lagi kesempatan. Pertemuan kemarin benar-benar jadi yang terakhir. Dia tidak akan kembali. Setidaknya untuk beberapa tahun kedepan.
Aku berjalan lunglai. Tidak bersemangat. Pandanganku mengabur. Air mata lagi-lagi turun. Aku mengusapnya kasar.
"Bodoh," ucapku memukul kepalaku sendiri.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
MICCA [END]
Novela JuvenilMicca Lotenna, Gadis mungil yang memiliki kepribadian yang luar biasa. periang, usil, dan ceroboh. Awal masuk SMA, wajar jika ia bertemu dengan teman baru. Yang menarik perhatiannya adalah pria yang selalu memakai hoodie berwarna pink. Dia pendiam...
![MICCA [END]](https://img.wattpad.com/cover/230271123-64-k804077.jpg)