Anna POV
'Aneh sekali, Athanasia mengajak kami untuk menjadi sahabat? Apakah dia benar-benar yakin? Padahal kan dia baru saja mengenal kami. Apakah dia seperti itu hanya supaya dia tidak sendirian? Apakah dia akan memanfaatkan kami? Bagaimana caraku supaya Fajar tidak mau menjadi sahabat Athanasia? Semua orang londo itu jahat pada kami!'
Author POV
Banyak sekali pertanyaan dalam pikiran Anna. Eitss, dia seperti itu karena sayang sama adiknya. Memang sih banyak sekali orang londo yang jahat pada keluarga van dijk, tapi tidak semuanya jahat, hanya saja Anna berpikir seperti itu karena sudah tertanam di pikirannya bahwa semua orang itu jahat. Hmmm, mungkin ini tugasnya Athanasia untuk mengubah itu? Mungkin saja kan?
Anna POV
Entah kenapa aku sedang ingin jalan-jalan sebentar disekitar rumah. Aku tidak ingin mengajak Fajar, aku sedang ingin menenangkan pikiranku. 'Eh, itu Athanasia bukan?' tanyaku dalam hati. Namun aneh saja jika benar itu adalah Athanasia. Setahuku dia itu sangat ceria dan cerewet, tapi kenapa dia sekarang malah menangis? Aku hampiri saja ya? Apakah tidak mengganggu?
Lalu aku berjalan kearah tempat Athanasia yang sedang duduk sambil memeluk lututnya. Setelah sampai didekat dia, tanganku menyentuh pundak Athanasia, dia kaget saat melihatku, dia langsung menghapus air matanya menggunakan sapu tangan.
"Athanasia? Kamu kenapa? Sini cerita padaku."
"Ah, Anna. Aku baik-baik saja kok, jangan khawatir ya."
"Lalu apa yang kamu genggam itu?"
"Apa? Oh ini, ada yang melemparku menggunakan kertas ini, tenang saja ini tidak berguna."
"Boleh aku lihat kertasnya?"
"Ah, jangan!"
"Melihat sikapmu aku jadi curiga. Apa jangan-jangan ini yang membuat kamu menangis?"
"Tidak, tidak, bukan ini. Ini hanyalah sampah yang sudah tidak berguna."
Lalu aku langsung merebut kertas yang ia genggam. Dia berusaha mengambil kertas di tanganku, untungnya aku sedikit lebih tinggi dari dia, jadi dia tidak bisa mengambilnya.
Dengan hati-hati aku membuka kertas yang sudah diremas-remas oleh Atnanasia. Betapa terkejutnya aku saat membaca isi tulisan didalamnya. Begini tulisannya :
Athanasia,
Hey, aku tahu kamu belum bisa bahasa Melayu ya? Baiklah aku akan menggunakan bahasa Belanda. Aku tahu kamu berteman dengan keluarga van dijk, kan? Keluargaku akan mengganggu mereka. Keluargaku akan membuat keluarga van dijk menjadi gelandangan. Keluargaku akan menyiksa hidup kalian. Sayangnya tak bisa mengganggumu. Aku tahu ini jahat, tapi ini kemauan keluargaku, karena katanya keluarga van dijk telah mencoreng harga diri bangsa kita!
Aku juga tentunya ikut setuju pada keluargaku. Keluarga van dijk sangat bodoh, ya? Memilihkan nama seperti orang inlander, aku saja bisa berpikir bahwa itu sama sekali salah! Masa mereka yang sudah dewasa tidak bisa berpikir sepertiku? Aneh. Aku tidak tahu bagaimana jalan pikiran mereka berdua. Mau bagaimanapun tapi, 'Darah lebih kental daripada air,' makanya aku mengikuti kehendak keluargaku.
~Lisa Brouwer.
"
Athanasia, sebenarnya kenapa kamu mati-matian mau menjadikan kami sahabatmu? Padahal kamu baru bertemu kami, aneh jika kamu menangisi keluarga orang lain yang bahkan belum ada 1 minggu kamu temui."
"Enthalah Anna, aku merasa seperti ada yang mnarikku untuk menjadi sahabat kalian. Aku tidak mudah menangis, namun saat aku membaca surat ini hatiku sakit sekali. Sakit. Aku juga tidak tahu kenapa,"
"Anna, bukankah itu sebuah ancaman dan penghinaan? Dosa apa yang pernah keluarga van dijk lakukan pada keluarga brouwer? Tak masalah Anna, jika itu benar-benar akan terjadi, aku pasti akan membantu keluarga kalian. Aku pergi dulu, aku harus berbicara pada keluarga Brouwer yang sudah menyalahgunakan kekuasaan. Tenang saja, Anna. Aku janji."
"Athanasia, jangan kesana! Tolong jangan, kamu memikirkan orang lain, namun bagaimana dengan dirimu sendiri, hah? Sadarlah!" kataku. Aku tahu Athanasia daritadi menahan tangis saat aku datang.
"Anna, aku tidak ingin hidup keluarga Van dijk diganggu. Aku ingin membantu kalian, namun tidak menemukan caranya! Aku terlihat sangat menyedihkan."
"Namun setiap orang pasti punya masalah kan? Keinginanmu sungguh tak wajar!"
Lalu athanasia memelukku, dan dia menangis dalam pelukanku. Aku sedih saat dia sedih, aku merasakan adanya ketulusan saat dia berbicara kepadaku daritadi. Aku mengelus lembut rambut Athanasia yang panjang dan pirang.
"Athanasia, kami sudah biasa seperti ini, sudah terlatih. Jadi kamu jangan terlalu sedih ya? Aku percaya kamu pasti akan membantu keluargaku."
Bukannya diam malah dia semakin menangis. Tangisnya berhenti saat Fajar membaca surat itu, lalu angkat bicara, "Aku mendengar percakapan kalian. Aku mengikuti Anna sampai kesini. Athanasia, jangan sedih ya? Tidak masalah jika ini terjadi."
Aku kaget bukan main, sepertinya Athanasia juga begitu. Athanasia melepas pelukanku, dan lagi-lagi dia menghapus air matanya menggunakan sapu tangan miliknya.
Kami bertiga akhirnya bersama-sama pulang ke rumah kami saat jam makan malam. Aku menceritakan semuanya kepada Pappie dan Mammie.
Awalnya mereka terkejut, namun saat mendengar Athanasia berjanji mereka berdua mulai memperlihatkan senyuman tipis di bibir mereka, sangat damai rasanya jika melihat senyuman itu terukir dibibir indah milik mereka. Mungkin Fajar kecewa karena Lisa brouwer orang yang dia cintai, mungkin ini bisa digunakan untuk menjauhkan Fajar dari Lisa brouwer.
KAMU SEDANG MEMBACA
Athanasia Van Bristen [TAMAT]
Ficción HistóricaDi zaman penjajahan Belanda, punya Mammie dan Pappie tentara, juga tinggal bersama keluarga tiri kira-kira seru? Nggak tuh! [Inspirasi dari Dimas Van Dijk karya Risa Saraswati]
![Athanasia Van Bristen [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/230266342-64-k468957.jpg)