"Maukah kamu jadi kekasihku?"

238 18 0
                                        

Athanasia POV

Aku lulus cumlaude! Aku hanya 2 tahun di Den Haag, setelah penantian panjang akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan sahabat kecilku, papa, dan mamaku. Bahkan saat ini aku sudah berada tepat di depan pintu berwarna coklat, yap, itu adalah pintu utama rumahku.

Tok

Tok

Tok

"Hai, jum! Lama tidak bertemu."
Sapaku pada seorang bedinde.

"Oh, hallo nona. Mari saya antar nona masuk."

"Ah, begini saja, tolong kamu suruh yang lain untuk membawa barang-barang bawaanku kedalam kamar, sementara aku akan langsung menemui papa dan mama."

"Ya, nona."

Mereka membawa barang-barang bawaanku kedalam kamar, namun aku langsung menuju ruang keluarga untuk menemui papa dan mama.
Terlihat ada laki-laki dan perempuan paruh baya yang sedang sibuk berbincang satu sama lain, aku senang karena ternyata mereka berdua sehat, juga bahagia.

"Hallo papa, hallo mama," mereka sangat terkejut karena aku ada di belakang sofa yang sedang mereka duduki.

"Hallo Athanasia," kata papa sambil menyesap kopi.

"Hey, setidaknya bicaralah yang menyenangkan pada anak kita, sudah dua tahun kita tidak bertemu semenjak hari itu. Hallo Athanasia sayang, bagaimana kabarmu? Mama sangat rindu pada putri mama ini. Dulu kita berpisah saat umurmu masih 3 tahun, dan lihatlah sekarang, kamu sudah besar dan cantik. Oh ya, selamat ya sudah lulus cumlaude! Bagaimana kalau nanti mama bikinkan roti?"

Aku baru sadar kalau mama ini benar-benar cerewet, tapi aku senang.

"Hahaha, seperti yang mama lihat, kabarku baik, terimakasih atas ucapan selamat nya, umm mama tidak perlu repot  membuatkan kue. Apa saja yang terjadi saat aku tidak ada disini?"

"Tidak ada apa-apa," jawab papa dengan sangat santai.

"Heii, bukankah sudah kubilang barusan? Bicara pada anak kita dengan kalimat yang menyenangkan. Hmm yang terjadi disini ya? Ah! Sahabatmu, Fajar dengan Anna, mereka berdua selalu datang kesini, entah untuk berbincang, makan bersama, atau membahas kamu. Dan papamu ini sangat pelit dalam berbicara ya? Bagaimana kamu bisa betah tinggal bersama orang yang seperti es ini?"

"Hahaha, benarkah itu? Iya, dari dulu memang papa dingin seperti es, tapi bukankah es juga bisa cair? Papa kadang juga cerewet, ya walaupun cerewetnya papa adalah sedikit bicara bagi orang cerewet."

"Hahaha, benar juga!"

"Sudahlah, jangan bahas aku terus. Athanasia kamu pasti lelah, cepat mandi lalu istirahat."

"Ya papa."

"Nanti kamu mau bertemu dengan sahabatmu kan?"

"Ha? Bagaimana mama tahu?"

"Aku ini kan mamamu, pastinya tau. Jika ingin mengunjungi mereka, pergilah ke kantor T.H.B, mereka ada disana."

(Kantor T.H.B = Tentara Hindia Belanda, why you so serious? Jangan cari di google, karena itu enggak ada :>)

"Ha? Bukankah itu kantor pusat tentara di Bandoeng? Mereka berdua kerja disana?"

"Ya, mereka sama sepertimu, cumlaude. Mereka sangat pintar, Fajar sebagai ketua di bidang strategi dan Informasi, sedangkan Anna adalah asisten dia. Mereka tidak terlalu sibuk, hanya dipanggil pada saat ada tugas saja."

"Oh, begitu ya? Terimakasih informasinya mama."

"Sama-sama."

* * *

Athanasia Van Bristen [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang