Happy reading💞
Athanasia POV
Akhirnya hari ini aku diperbolehkan kembali kerumah, karena ini sudah bulan Juni. Aku akan kerumah keluarga Van Dijk dulu saja setelah itu baru pulang.
Saat aku sedang berjalan, tepat didepan asrama aku melihat ada sado milik keluargaku. Aku berdecih, tentu saja aku tidak bisa kerumah keluarga Van Dijk dulu, baiklah aku akan menerima ini, pasti akan ada waktu untukku kesana. Aku mendekat kearah sado, tiba-tiba ada seorang jongos membawakan koperku, aku mengucapkan kata terimakasih, lalu masuk kedalam sado. ( Oh ya, si Athanasia ini sudah bisa bahasa melayu).
'Ada yang aneh, kenapa jongos nya adalah seorang yang belum pernah aku lihat? Jangan-jangan semua jongos dan bedinde diganti?'
Setelah beberapa menit duduk manis didalam sado, membelah keramaian yang diakibatkan oleh orang pribumi dan londo yang sedang berlalu lalang, tibalah aku didepan rumah. Saat aku masuk kedalam rumah diikuti dengan seorang jongos yang membawakan koper milikku, aku melihat ada papa yang sedang membaca media cetak, mama yang sedang memoles mukanya dengan bedak, dan Valeri yang sedang membaca buku.
Aku lelah menatap mereka, lalu aku mulai berdehem yang mengakibatkan kesibukan mereka terhenti.
"Oh, Athanasia! Apa kabar? Pappie dengar prestasimu sangat amat bagus dan tiap hari selalu meningkat. Oh iya, kamu benar benar cantik! Lihatlah kamu bertambah tinggi, badanmu bagus, dan ... Mata kamu sangat biru, lebih biru daripada punya papa." a
Aku sangat benci untuk pujian, lagipula tumben sekali Pappie perhatian sampai segini banyaknya?
"Hallo semuanya. Seperti yang kalian lihat, aku baik-baik saja. Terimakasih atas pujiannya." Ayolah, aku ingin ini cepat berakhir, dan daritadi Valeri melihat kearahku dengan tatapan sinis dan benci, mungkin benci karena aku dipuji Pappie? Entahlah aku juga tidak peduli. Sikapku masih sama, dingin, sinis, dan tidak banyak bicara.
"Baik darimana, huh? Lihatlah kulitmu sangat pucat, bahkan mirip seperti mayat."
"Ada apa denganmu? Kamu jadi jarang bicara dan sikapmu menjadi dingin? Apa kamu benar-benar baik?" lagi-lagi Valeri mencari perhatian.
"Aku hanya lelah, biarkan saja. Sekarang aku hanya mau ke kamar untuk merapikan barang-barangku, lalu aku-" ucapanku disela oleh Mammie.
"Biar bedinde saja yang merapikan! Kamu tidak lihat mereka sebanyak ini sedang menunggu untuk membatumu?" lalu mama menunjuk para pribumi perempuan, aku yakini bahwa itu adalah bedinde. Jumlahnya ada 8 orang, mereka berdiri berjejer.
"Tidakkah mama lihat bahwa mereka sangat lelah?" tanya ku, sikap iba ku masih ada.
"Bukan urusan kita!" mama menatapku dengan tatapan tajam.
Lalu dua orang bedinde maju, aku menyerahkan barang yang aku bawa kepada seorang, lalu seorang yang lain mengambil dari jongos.
Saat aku hendak melangkahkan kakiku untuk kekamar, tiba-tiba papa bilang begini, "Hari ini kamu tidak boleh keluar rumah." Aku hanya mengangguk, sembari menatap pappie.
'Tidak masalah, berarti besok aku diperbolehkan keluar rumah.'
KAMU SEDANG MEMBACA
Athanasia Van Bristen [TAMAT]
Historical FictionDi zaman penjajahan Belanda, punya Mammie dan Pappie tentara, juga tinggal bersama keluarga tiri kira-kira seru? Nggak tuh! [Inspirasi dari Dimas Van Dijk karya Risa Saraswati]
![Athanasia Van Bristen [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/230266342-64-k468957.jpg)