16. Imamku
Jam 4 sore sudah tiba. 7 keluarga yang sudah ditemukan mulai menjalani perawatan atau korban meninggal akan segera menjalani pemakaman besok, ataupun lusa.
Rembulan hanya diam di bangku samping kemudi. Ia menatap jalanan yang sangat becek dan penuh lumpur. Sneli yang ia pakai pun berubah menjadi warna mocca karena ulah lumpur yang mengering.
"Kenapa ngelamun?" tanya seseorang disampingnya. Ia menengok dan kembali menatap keluar jendela. "Suka aja!"
Mikirin Mas Bayu sama Mas Bagus, apa kabarnya? Apa udah sadar? Batinnya dengan terus melamun.
Dirinya kebetulan menumpangi mobil militer yang dikendarai oleh Jati. Jarak lokasi longsor dan tenda, hanya beberapa kilo meter saja.
"Jangan suka ngelamun." peringatnya dengan tersenyum tipis. "Kenapa?" tanyanya tanpa melihat Jati.
"Ngelamun bisa buat hati kita pecah." kekehnya dengan menatap jalanan. "Sok tahu!" Rembulan ikut terkekeh mendengar penuturan Jati.
"Bener ya!" sungguh dia adalah orang yang sangat menyebalkan rupanya.
"Apa coba?" Rembulan menatap Jati dari samping.
"Ngelamun itu ibarat kaca, kalo orangnya terus ngelamum, bakal kerasukan dan pasti buat, tidak sadarkan diri. Sama kaya kaca, kalo kaca itu dibanting, ya pecah."
Krik krik..
"Garing mas!" tawa pun pecah dari bibir Rembulan. Bagaimana bisa seseorang disamakan dengan kaca?
Karena setiap tawamu, adalah kewajiban yang harus aku jalankan.
~ Lettu Darmajati
Sampainya di lapangan parkir mobil militer, Rembulan dan Jati segera turun. Tentara yang ada di belakang pun ikut turun.
"Mandi dok, you bauk!" ledek Jati dengan menjepit hidungnya dengan jari telunjuk dan ibu jari.
"Bau-bau gini buat orang kangen!" ucapnya sombong dengan melirik Jati yang terkekeh.
"Iya, saya yang kangen!"
"Ngga nanya!"
"Ngga jawab!"
"Ngga minta!"
"Ngga ngasih!"
"Ngga cinta ngga sayang!"
"Saya cinta dan sayang sama kamu."
Rembulan menatap Jati tak percaya, detik berikutnya. Ia menampakkan ekspresi ngerinya dengan memundurkan kepalanya.
"Muka mu lo dok! Kaya bebek kecebur empang!" ledek Jati dengan menoel pipi Rembulan gemas.
"Ish, apaan pegang-pegang!" ia menepis tangan Jati dan segera berlari dari sana, untung saja. Sifat galaknya tidak terlalu, sekarang ini.
Jati menggelengkan kepalanya dengan terkekeh pelan. Sungguh menggemaskan sifat gadis itu, walaupun judes. Dirinya selalu dibuat melting oleh Rembulan.
.
.
.
.
.
.
.
Maghrib sudah tiba. Banyak tentara maupun tim medis sedang menjalankan ibadah sholat. Kecuali 2 orang yang tengah berebut kran di luar sana.
"Mas galak ish!" kesal Rembulan dengan mendorong pelan dada Jati. "Tadi saya dulu yang kesini!" garangnya.
"Mas ngalah kenapa sih?!" Rembulan nyolot. Pasalnya, ia sudah ditinggal Ella dan juga tim medis yang lain. Ba'da maghrib nanti, tentara dan tim medis akan mengadakan api unggun di tengah-tengah tenda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentangmu, Abdi Negaraku ( END - SUDAH TERBIT )
Fiksi PenggemarREMBULAN SERIES 2 [ HARAP FOLLOW AUTHOR DULU KARENA CHAPTER DI PRIVATE ] [ SILAKAN YANG MAU BACA TAPI JANGAN KECEWA YA! SUDAH TERSEDIA DI SHOPPE @dovelinestore ] Dirinya, Rembulan Adhisti yang pernah ditinggal pergi untuk selama lamanya oleh seorang...
