Chapter 34 - Hari Kita

1.5K 81 0
                                        

34. Hari Kita

"Jangan benci, semua nggak bakal berubah."

Seseorang itu sangat meneduhkan Rembulan. Tangisnya bertambah kencang kala laki-laki itu memeluk dirinya tanpa memperdulikan Rembulan yang sudah basah karena air hujan.

"Gue udah terlanjur benci, benci, benci, BENCI!!" jeritnya dipelukan laki-laki itu.

"Benci apa, hm?" tanya laki-laki itu. "Gue benci saat sahabat gue mengkhianati gue!" sesenggukan sudah pasti.

Tangisnya kian memenuhi dan hanyut bersama aliran derasnya hujan. Menenangkan menurutnya.

"Takdir pernah membuat skenario indah dengan sepercik luka. Tapi luka itu akan sembuh pada masanya. Jika luka itu sembuh secara instan, maka enggak ada orang yang akan menikmati rasanya bangkit dari kelemahan!"

"Ngga papa lan, dia berkhianat. Asal, jangan orang yang lo sayang yang berkhianat!" Rembulan mendongak.

"Kenapa lo bisa sekuat ini?" ujar Rembulan dengan tetesan air hujan yang sudah membuat setengah make upnya luntur.

"Karena gue yakin, suatu saat gue bakal punya pengganti dia. Enggak sama enggak masalah. Asal rasa sayangnya sama kaya dia!"

"Tika."

Laki-laki itu, Pram. Yang sejak dua hari lalu menginap di rumah Rembulan. Dirinya adalah laki-laki yang sangat setia dan mempunyai rasa sayang lebih dari antara mereka.

Buktinya, selama tiga tahun sejak kepergian Tika, Rembulan selalu dijaga dan selalu di kawal oleh ketiga orang itu. Ditambah lagi dengan Safiel.

"Waktunya pulang. Gue enggak mau adik manja kaya lo sakit waktu pernikahan besok!" Pram melepas pelukannya dan menarik Rembulan dari sana.

.

Di tempat lain, Rangga tengah menengadahkan tangannya untuk menerima air hujan itu dengan sunyi.

Kesunyian beberapa hari ini memang ia rasakan, sejak Rembulan sudah menjadi milik orang lain.

Ia mengambil undangan putih itu dan menghujaninya bersama.

"Apa kamu lupa sama saya?" gumam Rangga dengan terkekeh. Rangga mendongak dan membiarkan wajahnya dihujam air hujan dengan keras.

"Berapa kali saya harus merasakan sakit lagi?" satu tetes air mata hanyut bersama hujan itu.

Dan kini, ia sudah bukan siapa-siapa dari Rembulan. Hanya orang asing telah datang, setelah sekian lamanya pergi.

°°°

Gadis dengan gaun kebaya putih itu sudah berada persis di depan kaca rias. Acara itu hampir dimulai, sementara Rembulan sangat merasakan gugup tengah melandanya.

"Mbak, jangan tebel-tebel ya make up nya?" ujar Rembulan dengan meneliti make up itu. Perias itu terkekeh pelan.

"Ya ampun lan, ya kali lo mau dandan kaya kartinian!" Yana memutar bola matanya malas. Ella pun sama, ia mendekati Rembulan dan memegang kedua bahunya dan menatap kaca rias.

"Perfect!"

"Enggak ada yang enggak beruntung ketika seseorang udah dapetin lo, kak!" ujar Ella dengan nada manis.

Cek cek!

Rembulan memegang dadanya yang bergemuruh. Make up sudah selesai dan dirinya sudah siap untuk menatap layar monitor untuk menyaksikan bagaimana Jati mengucapkan Ijab Qabul.

"Udah mau mulai lan, sini!" Ella membantu Rembulan untuk berdiri, sama dengan perias itu.

Mereka duduk di depan layar monitor, dibawah sana sudah ada Jati yang berada tepat di depan penghulu dan juga ayahnya. Laki-laki itu memakai baju putih dan juga blangkon. Dibawah sana sudah ramai akan tamu undangan yang sengaja menyempatkan untuk hadir demi prosesi ijab qabul itu.

Tentangmu, Abdi Negaraku ( END - SUDAH TERBIT )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang