Mereka berjalan menuju pelaminan, untuk mengucapkan selamat kepada Zeo dan juga Brivi.
"Hai?" Rembulan mematung ditempat, setelah ia menyalami Brivi.
Dadanya mendadak nyeri dan sesak. "Kapten mas?" Rembulan menjatuhkan air matanya.
"Kamu kenapa nangis?" Jati memegang lengan perempuan itu. Rembulan masih diam.
Laki-laki itu, mengikuti arah pandang Rembulan. "Maaf, anda siapa?"
"Rangga Gunadharma. Kakak dari Brivi, dan juga tunangan Rembulan."
Deg!
"Selama ini lo kemana? Sepuluh tahun lo ninggalin gue." Jati melihat istrinya yang terlihat sangat rapuh, segera memeluknya.
.
"Kemana aja?"
Rangga menengok. "Sebenarnya, saya belum mati, dhis!"
"Iya terus kemana?!" Rembulan menangis dan membentak Rangga. "Pendidikan kopassus."
.
"Apa hubungan kapten sama Brivi?"
"Saya kakaknya Brivi."
.
Suasana hati Rembulan menjadi acak dan juga sulit menebak kisah selanjutnya. "Padahal, orang yang kamu nikahi sekarang sama sekali tidak baik untuk kamu!"
Rangga mencoba menggenggam tangan Rembulan, namun gadis itu menepisnya.
"Baiklah. Suatu saat kamu akan mengerti." Rembulan langsung berbalik dan menuju Jati yang sudah menunggunya.
Dengan cara ini, pasti kamu akan kembali kepada saya, Adhis!
.
Rembulan menengok. "Ini jelas nyata, El!"
"Ternyata, lo udah termakan sama kapten mas lo, yang udah ninggalin lo bertahun-tahun!" Ella beranjak pergi dari sana. Ia rasa, Rembulan sama sekali tidak mempercayai ucapannya.
.
Perempuan itu menunjukkan cetakan foto dan memperlihatkannya pada Jati. "Ini Kowal yang tadi kan? Kenapa sampai bisa digendong kaya gini?!"
"Gue lebih percaya sama Bang Arma!"
.
"Kamu lebih percaya sama masa lalu kamu dibandingkan sama suamimu sendiri dek!" Rembulan membalikkan badannya.
"Kalau begitu, kenapa mas sama sekali enggak pernah cerita tentang Kowal itu?!" marah Rembulan.
"Dek, di bawahan mas. Mas juga sudah jelasin itu sama kamu. Tolong kamu percaya sama mas!"
Rembulan hanya terkekeh sinis.
.
Ia mengambil ponselnya, lalu menghubungi Pram yang masih ada di Bandung.
"Bantu saya buat bongkar kebohongan Rangga."
.
"Gimana sama rumah tangga lo? Gangguan dari dia?"
"Gerva kabarin gue, kalau Rangga berubah jadi ambis buat memiliki Rembulan lagi."
"Sial!"
Pram menghentikan mobilnya, ketika mobil itu berhenti di salah satu restoran disana.
"Pakai jaket, topi! Jangan baret. Tutup identitas, siapin kamera." Jati mengangguk paham.
.
Rangga menyodorkan satu koper kepada orang itu. "Imbalan kamu. Tiga ratus juta, untuk satu permainan hebat ini."
"Wah-wah, menepati janji sekali." orang tersebut menerima koper itu.
Jati mengambil ponselnya, lalu menyimpan rekaman itu. Pram dan Jati mengangguk bersamaan, lalu keluar dari restoran itu.
.
"Ikut gue, atau gue kasar sama lo?!" tekan Pram saat Rembulan terus memberontak.
.
"Dengar!" Mereka mendengar rekaman itu tanpa melewatkan apapun.
"Kalau mau bukti foto, gue enggak cuma foto dia. Gue punya rekaman video!" Pram menunjukkan rekaman video kepada Rembulan.
.
"Gue cuma mau bilang lan. Stop pergi sama Rangga! Dia monster bagi lo! Dia mau pisahkan lo dari Jati." Rembulan melepas pelukannya dengan Jati.
Jati langsung memegang tangan itu, lalu berkata, "Stop siksa diri kamu sendiri. Aku selalu maafin kamu apapun kesalahan kamu!"
Rembulan jatuh ke lantai, dan membanting vas bunga yang ada di meja. "Bunuh gue mas, bunuh gue!"
Jati menggelengkan kepalanya. "Kamu itu ngomong apa? Kamu istri aku, kamu separuh nyawa aku. Jangan ngomong yang enggak-enggak, dek!"
"Gue udah nyakitin lo mas, gue enggak pantas buat lo!" Jati mencium keningnya lama.
Cukup sekian spoilernya. Part-part di atas akan ada yang aku hapus yaa!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentangmu, Abdi Negaraku ( END - SUDAH TERBIT )
FanfictionREMBULAN SERIES 2 [ HARAP FOLLOW AUTHOR DULU KARENA CHAPTER DI PRIVATE ] [ SILAKAN YANG MAU BACA TAPI JANGAN KECEWA YA! SUDAH TERSEDIA DI SHOPPE @dovelinestore ] Dirinya, Rembulan Adhisti yang pernah ditinggal pergi untuk selama lamanya oleh seorang...
