Chapter 2 - Tunangan?

3.7K 221 14
                                        

2. Tunangan?

Bugh!

Pelukan mereka berdua terlepas. Rembulan terkejut dengan adanya salah satu laki-laki pemabuk itu membawa sebongkah kayu dan memukul tengkuk Bayu. Bayu benar benar tak mengira, bahwa laki-laki itu mempunyai banyak nyawa dengan keadaan luka yang banyak.

"Mas ... Mas Bayu!" ucapnya ketika Bayu yang mulai menutup matanya perlahan.

"Mas!! Buka matanya!"

"Gue takut ... Hiks! " ia mulai menangis kembali ketika tangannya dicekal oleh laki-laki pemabuk tersebut. Ia memberontak dengan kuat.

Ia mendorong dada laki-laki tersebut hingga ia terhuyung ke belakang. Namun tangannya lagi-lagi dicekal oleh laki-laki lain, lebih tepatnya teman mereka.

Dengan tenaga yang tersisa, Bayu bangkit dan mengambil sebongkah kayu yang berada disampingnya. Kayu yang pemabuk itu gunakan ketika memukul dirinya.

Langkahnya gontai, ia masih meringis kesakitan dengan tengkuk yang nyeri. Dirinya maju perlahan agar kedua laki-laki yang mencekal tangan Rembulan tidak menyadarinya.

"LEPAS!! TOLONG!!" teriaknya dengan air mata yang berurai dipipi. Kedua laki-laki itu tertawa sumbang.

"Lo mau teriak sampe suara lo ilang, nggak akan ada yang dengar cantik!"

Bugh!

Bugh!!

Kedua laki-laki itu terjatuh dan cekalan ditangan Rembulan terlepas. Ia membalikkan badannya. Bayu! Dia tengah berdiri tegap dengan memegangi tengkuknya.

Ketiga orang itu pingsan, oh ... Kecuali ... Laki-laki yang tengah mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku jaketnya.

Bayu yang melihat membelalakkan matanya. Buru-buru Bayu menarik tangan Rembulan dan menyembunyikannya dibalik punggung tegap.

Disana, Rembulan memeluk Bayu dan menggenggam erat tangan Bayu. Ia menangis ketakutan, traumanya sungguh terulang kembali saat ini.

Laki-laki itu menodongkan pisau ke arah Bayu dan Rembulan. Bayu membuka matanya lebar-lebar. Ia mengumpulkan semua tenaganya untuk melawan laki-laki itu.

Ia mendekat, semakin dekat. Namun Bayu melepas pelukan Rembulan dan mendekat kepada laki-laki itu.

"Mas! Mas Bayu!" teriaknya ketika Bayu benar-benar maju selangkah ke arah laki-laki itu.

Terjadilah aksi tangkis, pukul, dan pisau yang laki-laki itu bawa terlempar jauh.

Bugh!!

Bayu memukul pipi yang sudah lebam itu dengan tenaganya. Ia terjatuh dan pingsan seketika. Dan sungguh, Rembulan sangat takut saat semua perkelahian itu terjadi.

Bayu membalikkan badannya dan menghampiri Rembulan. Ia melihat gadis yang tengah terduduk dan memeluk lututnya takut. Tubuhnya bergetar, seakan akan terjadi bencana besar disana.

"Dokter?" Bayu memegang bahu Rembulan. Gadis itu langsung memeluknya dengan takut. Tangisnya kembali pecah saat mengingat luka lama, yang perlahan terbuka kembali.

"Hey, jangan nangis." Bayu menangkup pipi Rembulan lembut. "Ta ... Takut!" katanya dengan terpatah patah.

"Jangan takut."

°°°

"Awwshh ... Pelan-pelan lah dok!" ia meringis kesakitan ketika luka di pipinya diobati oleh Rembulan.

"Udah pelan ini!" Rembulan menatap Bayu datar. Bayu menatap Rembulan lekat.

"Sakit dokter ...." Rembulan menyentuh pipi Bayu lembut. Kemudian ia menekannya.

Tentangmu, Abdi Negaraku ( END - SUDAH TERBIT )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang