Chapter 40 - Janji?

1.2K 86 4
                                        

Makasih para readers yang udah mau baca cerita aku sampai chap 40 ini, semoga cerita ini bisa sukses dan masuk ke dalam kata 'DINOVELKAN'.

Aamiin..

Buat kalian yang mau baca tapi ga vote? Gapapa, author maklumin. Tapi kalian tau lah ya, bagaimana caranya menghargai karya author demi kalian yang mau dapat cerita yang memuaskan kalian?

Jadi, ga da salahnya dong ya author cuma minta jari kalian itu pencet bintang dan juga komen apa lah yang buat hati author itu seneng, walaupun komen kalian cuma sekedar 'Semangat thor' atau sejenisnya itu ya, jujur buat hati author seneng banget.

Diri mereka merasa kalo mereka itu pasti bisa dengan dukungan kalian, karena bagaimanapun, author itu punya kesibukan masing masing, bukan cuma mau up up up dan up buat kalian yang mau baca cerita tersebut. Bukan hanya di cerita aku, tapi di semuanya pasti author merasa kecewa kalo kalian nggak tinggalin jejak sama sekali.

Yaudah lah ga usah banyak banyak ceramahnya, percuma juga kan kalo tidak mengetuk pintu hati kalian? So! Lanjut aja gasss!

40. Janji?

Hari demi hari sudah terlalui. Pekerjaan dan juga kewajiban harus dijalankan oleh semua orang yang merasa mempunyai tanggung jawab. Termasuk kalian readers, wajib belajar ya!

Rembulan merasa hari ini ia tidak enak badan. Nyatanya, dirinya terbaring lemah di kasur dengan punggung bersandar di tembok dan kaki yang masih terlilit selimut.

Jati yang sedari tadi kelimpungan dengan kondisi Rembulan pun mondar-mandir seperti setrika.

"Mas, udah dong. Pegel lihatinnya. Lagi pula aku udah gak papa, percaya deh. Aku mau kerja!" ujarnya dengan membuka selimut. Namun, buru-buru Jati melilit dirinya lagi dengan selimut itu.

"No!  Kamu istirahat yang cukup dulu, biar pasien kamu dirawat dokter lain, okey? " Rembulan mendengus kesal.

Namun, mulutnya terasa sangat hambar dan juga, ia mencium bau yang tidak enak. Dirinya juga merasa perutnya seperti di obrak-abrik sekarang ini.

Rembulan menutup mulutnya dan berlari cepat ke dalam kamar mandi. Dirinya merasa ada sesuatu yang akan keluar.

Jati menyusul istrinya itu dengan langkah yang tergesa-gesa.

Wlekk ... Huekkk ... Woekk.

Jati memijit tengkuk istrinya itu dengan pelan dan lembut. Rembulan merasakan dirinya sangat pusing dan sangat lemas.

"Keluar deh mas, jangan disini, jorok!" Jati merangkul pundak istrinya itu dan mengambil tisu yang ada disampingnya.

"Gak ada kata jorok di kamus Jati!" ujarnya dengan mengelap bibir Rembulan. Hatinya menghangat kala Jati semakin hari semakin menyayanginya. Ia jadi takut jika suatu saat nanti terjadi sesuatu kepada Jati.

Pusingnya terlalu menyelimuti kepala, hingga beberapa detik kemudian, semuanya menjadi gelap gulita.

"DEK!!"

.

"Gimana kondisi istri saya dok?!" panik Jati kala dokter itu tidak merespon kata-kata ke 3 kalinya yang keluar dari bibir ceriwis itu.

"Tenang ya pak, istri bapak tidak apa apa, hanya saja—"

"Cuma masuk angin biasa kan dok?" Rembulan menimpalinya. Rembulan meraih tangan dokter itu dan menempelkannya di dahi.

Dokter itu tersenyum. "Selamat ya, kalian akan menjadi orang tua sekarang!"

"HAH?!" kejut mereka bersamaan, "Maksud dokter saya hamil?" Rembulan memastikan bahwa ucapan dokter itu memang nyata.

Tentangmu, Abdi Negaraku ( END - SUDAH TERBIT )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang