11. Minta Tolong?
"Dokter snelinya merah merah!" ucapan itu menggema ditelinganya. Langkah yang semula kesal dengan hentakan, kini diam terpaku karena kata 'Merah merah'.
Tangannya menutupi bagian belakang yang ia rasa terkena merah-merah itu. Matanya membulat dan hatinya gelisah. Bagaimana laki-laki itu bisa jeli melihat dirinya. Memalukan!
Ya allah, pasti pms nih. Mau di taroh mana muka gue? Batinnya dengan rasa tak karuan.
Jati mendekat dan melepas jaketnya. Kemudian, ia mengikat lengan jaket itu ke pinggang, lalu menutup bagian belakang yang berwarna 'merah-merah' itu. Untung saja, lorong tidak terlalu ramai. Rembulan gugup dengan posisi seperti itu. Tangan Jati yang melingkar di perutnya membuat dadanya bergemuruh.
"Pantesan marah-marah." Jati terkekeh, ia tahu jika gadis ini tengah malu setengah mati karena hal itu dilihatnya.
Jati memegang kedua bahu Rembulan dan mengajaknya berjalan beriringan. "Jalan dok, sebelum warna merahnya nyebar kemana-mana."
Marah, kesal, malu. Perasaan itu menjadi satu. Rembulan menahan rasa kesal terhadap Jati.
"Anter ke kamar mandi aja!" Jati mengangguk dan menuruti apa yang Rembulan minta kali ini. Ia cukup mengerti jika perempuan setiap kali mendapat tamu bulanan, selalu emosi dan egonya tidak terkendali.
Sampainya di depan pintu kamar mandi, Rembulan diam dan nampak malu-malu menghadap Jati.
"Mau apa?!" tajam Jati dengan nada garang. Ah! Ia jadi takut sekarang, singa itu pasti tidak akan mau menuruti permintaanya.
"Nggak mau nggak jadi!" kesalnya lalu memegang knop pintu. Sebelum ia membukanya, suara berat tersebut kembali menghentikan pergerakannya.
"Yaudah mau apa?" lembutnya dengan bersandar di tembok sebelahnya. Rembulan meremas jari-jaringa gugup. Apa yang akan ia katakan sekarang?
"Emm, anu ... " Jati mengernyit heran. "Anu? Anu apa?" nadanya berubah menjadi tajam.
"Minta tolong beliin pem ... "
"Pem ... "
"Pem apa sih? Yang jelas kenapa?" galaknya.
"Beliin ... Pem—balut." Jati memelototkan matanya. Apa? Ia dimintai tolong untuk membelikannya pembalut? Akan di taruh mana wajahnya, jika seorang tentara membelikan wanita pembalut?
"Yang bener aja ah?!" kesalnya dengan berdecak. Rembulan melanjutkan membuka knop pintu itu.
"Nggak mau yaudah!" lanjutnya dengan masuk ke dalam kamar mandi. Jati merutuki dirinya.
"Kalo nggak sayang udah saya terkam tuh dokter!" kesalnya dengan menggertakkan giginya geram.
"Tunggu lima menit!" di dalam sana, Rembulan sangat bersorak gembira ketika Jati mau membelikannya pembalut.
Akh! Tapi ini sangat memalukan. Baru beberapa jam, oh bahkan belum sampai satu jam. Ia sudah meminta tolong sesuatu, yang seharusnya menjadi privasi.
"Yang apa?" tanya Jati sebelum pergi. Rembulan nampak berfikir.
"Terserah!" ucapnya asal. Ia ingin tahu, bagaimana perhatian Jati terhadapnya.
"Nanti nggak pas kalo saya yang milih, biasanya kamu pake yang mana?"
"Kamu ngga bilang, saya beliin mamipoko!"
"YANG NIGHT! YANG ADA SAYAPNYA!"
"Pake sayap nanti terbang!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentangmu, Abdi Negaraku ( END - SUDAH TERBIT )
Fiksi PenggemarREMBULAN SERIES 2 [ HARAP FOLLOW AUTHOR DULU KARENA CHAPTER DI PRIVATE ] [ SILAKAN YANG MAU BACA TAPI JANGAN KECEWA YA! SUDAH TERSEDIA DI SHOPPE @dovelinestore ] Dirinya, Rembulan Adhisti yang pernah ditinggal pergi untuk selama lamanya oleh seorang...
