Dua Puluh Delapan

3.7K 265 9
                                        

      "Namanya  sudah Jodoh. Ya, tidak akan  kemana. Padahal sudah mutar kemana-mana"
                         -Unknown-
                                  ❤️
   







"So,gimana hasil semalam?"kepo Diska begitu mereka janjian makan siang.

"Lancar. Lamaran resminya dua minggu lagi," beritahu Salwa. Diska menganguk mengerti.

"Kalau sudah yakin, ada baiknya segala yang tertinggal di masa lalu diselesaikan. Agar tidak ada kendala ke depannya." Diska memberi saran.

      Salwa terdiam sesaat sebelum mengiyakan. Benar, sekalipun tidak ada hubungan lagi Salwa masih harus menjelaskan pada Rama.

"Kamu benar,Dis,"

"Udah muter kemana-mana, eh jodohnya mentok ke dia juga."Salwa cemberut mendengar ledekan Diska. "Padahal katanya nggak mau sama dia lagi."
 

     Salwa mendesah dengan pandangan menerawang. "Aku juga nggak nyangka bakalan sama dia akhirnya. Doain semua lancar," Diska mengangguk.

"Pasti. Gue nggak mau Lo mewek dan kabur lagi," kesal dengan Diska, Salwa langsung melemparinya dengan tissue bekas.
      

       Bisa dibilang Hadi merupakan cinta pertama. Pacar pertama bagi Salwa. Seperti kata orang cinta pertama itu punya tempat khusus di hati. Dia mungkin terlupa dan terganti namun ada kalanya kenangan akannya menyeruak seiring berjalannya waktu.

     Dalam kasusnya, Salwa tidak pernah bisa benar-benar melupakan Hadi. Sekalipun ada Rama, ingatan tentang Hadi selalu mengikuti langkahnya.

     Bisa dibilang setelah Hadi, hanya Rama yang bisa mengetuk pintu hatinya. Meski akhirnya sadar kalau perasaannya hanya sebatas itu. Sayang tapi tidak benar-benar bisa mencintainya.

     Bersama Rama dia menemukan sosok saudara lelaki dan Ayah yang tidak pernah dimilikinya. Rama memperlakukannya dengan hati-hati seolah takut menyakitinya.

     Sosok Rama yang lembut dan mengayomi membuatnya serasa dilindungi. Salwa tidak pernah berniat menyakitinya saking baiknya.

    Namun perjalanan waktu membuatnya menyakiti lelaki itu. Bahkan mungkin sekarang dia akan kembali menorehkan luka bagi Rama.

    
"Assalamu'alaikum," suara yang dihafalnya menyapa dari seberang. Salwa tersenyum mendengarnya.

"Wa alaikum salam, apa kabar Mas?"

"Alhamdulillah Mas baik, kamu sendiri?"

"Salwa juga baik. Mas lagi dimana sekarang?"  terakhir Salwa mengetahui kalau lelaki itu berada di Kalimantan.

"Di Dumai. Kenapa? mau nyusulin Mas?" goda Rama yang dibalas kekehan Salwa.
"dengar kamu ketawa gini Mas senang dengarnya."

"Makasih Mas buat segalanya dan maaf."

"Nggak perlu berterimakasih, sudah seharusnya Mas melakukan itu. Jadi ada apa?"

"Harus ada apa-apa emang baru boleh nelpon Mas," Salwa cemberut meski Rama tidak bisa melihatnya.

"Bukan gitu, tapi Mas kenal kamu gimana. Salwa memejamkan matanya sesaat. Dia tau apa yang disampaikannya akan menyakiti hati pria baik itu.

"Minggu depan Salwa mau lamaran."

      Ada jeda beberapa detik sebelum Rama mengeluarkan suaranya. "Alhamdulillah, Mas senang dengarnya."  Salwa menyadari serak dalam suaranya. Memilih memejamkan matanya untuk mengurai sesak yang tiba-tiba hadir.

Kembali PulangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang