XXXIV

2.2K 169 6
                                        

Rekomendasi lagu yang cocok untuk menemani chapter ini.

Friends, Lovers or Nothing by John Mayer

Happy reading!!

***
Latisya masih setia menatap laptopnya, walaupun sekarang sedang jam makan siang. Latisya sengaja makan dikantor karena dia ingin memesan tiket konser Westlife. Jangan sampai dia kehabisan, bisa lebih merana hidupnya kalau sampai tidak kebagian tiket.

“Jadi lo mau nonton sama siapa?” Latisya sempat meminta Nabila untuk menemaninya, tapi tidak bisa karena Nabila harus ke Palembang hari itu.

“Nggak tahu, gue pesen dulu aja tiket nya dua.”

“Lo nggak niat lagi nontonnya bareng Ariq kan?” Tanya Nabila berhati-hati.

Kalau sesuai rencana awal memang Latisya akan menonton dengan Ariq, tapi setelah hari itu mereka bahkan tidak saling kontak lagi. Latisya juga sudah mulai back to the reality aja, ngapain lagi nungguin Ariq?

“Mubazir dong lo kalau beli tiket dua tapi nggak tau mau nonton sama siapa.”

“Nanti.. yang penting gue beli dulu tiketnya Bil, karena lebih nggak mungkin kalau gue ke BSD sendirian buat nontonnya.” Nabila mengangguk paham.

Senangnya! Setelah tadi sempat kesulitan untuk masuk websitenya, tapi Latisya akhirnya bisa mendapatkan dua tiket konser Westlife.

“Deuuu bahagia bener lo.. dapet tiket nih ya pasti?” Bima, Adnan, Recky dan Arvin berjalan beriringan, sepertinya baru selesai makan bareng.

“Iya doong.. keren kan gue.” Latisya tersenyum bangga.

Seat yang mana lo ambil? Diamond?” Latisya mengangguk senang dan matanya berbinar-binar, dia terlalu senang karena memang dia sudah lama menantikan konser boyband dari Irlandia ini.

“Busettt.. khayaa benerr.. tapi lo masih belom punya temen nonton kan? Bareng Adnan aja, dia free tuh tiap weekend.” Latisya tersedak saat minum, sedangkan Adnan hanya menggelengkan kepalanya dan segera  masuk keruangannya.

“Gue mau bersenang-senang ya disana!”

“Alahhh.. malem itu juga lo bersenang-senang kan sama Adnan? Kemana aja lo.. parfum botolnya bisa jatuh di mobil gitu.” Bima menggoda Latisya.

Latisya sudah menahan malu seminggu ini, sejak kejadian penyerahan botol parfum itu dia selalu menjadi bahan bully-an para mulut ember ini.

***

Ariq menatap langit malam Medan, tidak banyak bintang di langit. Apa bintang tidak merindukan bulan seperti Ariq merindukan Latisya?

Dia rindu Latisya nya yang selalu mendengarkan ceritanya dengan baik, walaupun mereka jarang bertemu.

Should I try? Ariq terus memikirkan cara bagaimana dia harus memulai semuanya dengan Latisya, walaupun dia sadar ini sudah sangat terlambat. Ariq tahu selama ini dia salah, dia memulai sesuatu yang tidak memiliki akhir bahkan tidak hanya dengan satu, dia juga memulai dengan yang lain.

Pikiran Ariq kalut sejak terakhir bertemu dengan Latisya dan semakin kalut dengan kejadian malam itu. Cintanya tumbuh untuk dua orang, dia tidak ingin jadi laki-laki pengecut tapi tidak ingin juga tidak bertanggung jawab.

Bagiamana? Dia sudah tahu dari awal, dia harus memilih salah satu.

Ariq Desnata : weekend ini bisa kita bicara?

Latisyas Rinjani : Bisa. Kabarin aja nanti.

Ini pertama kali sejak hari itu, Ariq mengirim pesan ke Latisya. Jujur, mungkin kalau dipikir-pikir Latisya tidak pernah merasakan kekosongan lagi kalau Ariq tidak mengirimnya pesan, bukan karena obrolan mereka waktu itu, tapi memang sudah sejak lama. Tapi bukan berarti dia tidak merindukannya sama sekali.

Start with ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang