XXXVII

2.2K 184 9
                                        

Efek domino dari nonton konser itu baru terasa besoknya. Hari ini badan Latisya rasanya remuk, dia sampai pakai koyo semalaman. Tadi saja dia berniat pakai koyo saat mau berangkat kerja, tapi karena baunya too good to be true jadi diurungkannya

“Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.” Bima mencibir saat melewati kubikel Latisya.

“Iya tahu iyaa.. yang kemarin nonton Westlife sekalian ngedate. Pahamm.. pasti berbunga-bunga banget ya rasanyaa..” Arvin menimpali.

“Harusnya kalian traktir gue woii, kalau nggak ada gue mana tahu kalian kalau Latisya nontonnya bareng Pak Adnan.” Recky si pembawa gosip juga ikut-ikutan.

“Lo masa nggak tahu sih Bil kalau Latisya nontonnya bareng Adnan?” Mereka terus berbicara seolah tidak ada Latisya disana.

“Nggak tahu deh gue, tapi yang penting sahabat gue bisa bahagia. Walaupun agak mengejutkan ya.”

“Pagi semuanya..” Adnan menyapa divisinya yang sedang menggosipkan dirinya, tumben hari ini dia datang terlambat.

Hello my loveee..” Bima menyanyikan salah satu lagu Westlife sambil melambaikan tangannya ke arah Adnan.

Who can deny the joy it brigs, when you found that special things, you flying without wings.” Mereka terus menyanyikan lagu Westlife sampai-sampai Recky dan Arvin berdansa.

Latisya melirik ke Adnan, sedangkan Adnan hanya geleng-geleng dengan tingkah anak buahnya.

“Kerja..kerjaaa..” Kemudian dia menuju masuk ke ruangannya.
Sempat diliriknya Latisya yang hanya cemberut karena terus digoda oleh teman satu divisinya.

***

“Gimana rasanya?” Latisya dan Nabila memilih untuk makan siang berdua tanpa begundal-begundal itu, it's time to curcol!

About?”

“Nonton Westlife bareng Pak Adnan dalam rangka ngedate” Nabila  sampai sekarang terus menggoda Latisya, lucu aja gitu lihat sahabatnya ini mau-maunya nonton bareng Adnan.

Your words Bil!” Nabila hanya terkekeh ketika mendapat pelototan dari Latisya.

“Nonton Westlife nya pecah banget.. suara gue aja sampai serak begini. Kalau areng Pak Adnan..” Latisya berpikir kata apa yang pas untuk menggambarkannya tapi tidak menimbulkan sensasi yang bisa menghasilkan fitnah.

He’s nice, dia santai aja waktu gue norak nontonnya.. dan plis itu bukan ngedate. Jangan ikutan laki-laki penggosip itu dong!"

“Hahaha.. soalnya gue nggak habis pikir. Dari sekian banyak orang, kenapa dia yang lo ajak sih?”

“Lo nggak lupa kan kalau gue tadinya minta lo buat nemenin gue. Lagian bukan gue, dia yang tiba-tiba dateng mau beli tiket gue!” Lalu semuanya mengalir hingga Latisya menceritakan apa yang terjadi hari itu.

“Terussss..mmm.. gue boleh bicarain tentang ini nggak?” Sesi curhat masih terus berlangsung, pas sekali mereka sama-sama sedang tidak sholat jadi waktu maksi lebih panjang, dosa gosip pun lebih banyak.

“Apa? Ariq?” Nabila mengangguk, dia masih tidak tega harus menyebut nama Ariq didepan Latisya. Dia tidak mau sahabatnya ini terus-terusan mengingat Ariq.

Well.. apa lagi yang tersisa untuk diceritain tentang Ariq? Kemarin aja gue sampe lupa kalau hari itu dia nikah, sampe sekarang pun nggak gue pikirin. I mean, this is a way to forget him. Jadi gue rasa, gue akan baik-baik aja. Tanpa dia.”  Mendarnya sontak Nabila memeluk Latisya.

Start with ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang