Kim Seokjin

3.2K 254 30
                                        

Dr.Kim Seokjin mencebikkan bibir sambil komat-kamit menyumpahi Dr.Kim Namjoon.

"Orang kok bisa nyebelin banget! Awas aja dia! Semoga digigit monyet sampe rabies!"

"Siapa yang rabies, Dok?"

"Kyaa!"

Kim Seokjin memegangi dadanya. Jantungnya hampir jatuh ke jempol kaki gara-gara manusia bernama Jeon Jungkook yang berstatus tetangganya ini.

"Bikin kaget aja! Ngapain di sini?"

"Menunggu Anda. Tugas saya minggu ini kan mengikuti dan belajar dari Anda, Dr.Kim Seokjin."

"Kok sial ya aku?"

Tetangganya yang merupakan mahasiswa koas tersebut mencebikkan bibir. "Udah cepetan, harus apa sekarang?"

"Yang sopan dong. Kubikin jelek nanti catatan kamu."

"Iya deh iya. Sekarang saya harus melakukan apa wahai Dr.Kim Seokjin yang terhormaaaaaattt?"

"Masuk ke kolam depan UGD sana!"

Kim Seokjin menjulurkan lidah lalu berjalan dengan santai sambil bersiul. Di belakangnya, Jeon Jungkook menatapnya sambil menghela nafas.

"Untung tetangga. Untung senior. Haaaahhh nasib!"

---

"Halo?"

"Halo, Dr.Kim Seokjin. Saya Bang Mina, perawat baru di bagian bedah. Dr.Min Yoongi meminta Anda untuk ke ruangannya sekarang."

"Oh? Oke. Saya segera ke sana. Makasih."

Seokjin bingung. Untuk apa dokter umum seperti dirinya dipanggil ke bagian bedah?

"Ah, entahlah!"

Ia memberikan Jungkook tugas untuk mencari tahu sebanyak mungkin referensi mengenai penyakit usus buntu, tentu saja dengan menghiraukan keluhan Jungkook. Kemudian, ia menuju ke arah tangga sebab kantor Dr.Min hanya berada satu lantai di atasnya.

Ia tersenyum dan menyapa siapa saja yang ia temui tanpa menghentikan langkah. Saat ia berada tepat di depan ruangan Dr.Min Yoongi, pintunya tampak terbuka sedikit.

"Tapi kenapa harus dia, Hyung?"

Seokjin mendengar suara dingin Dr.Kim Namjoon dari dalam ruangan.

"Joonie-ah, dengar du-"

"Dia masih baru dan sebelumnya dia bekerja di Singapura. Tahu apa dia tentang sistem dan masalah kesehatan di sini?"

Ingin rasanya Seokjin berbalik agar tak mendengarkan ketidaksukaan Dr.Kim Namjoon akan dirinya. Namun, ia menyusun tekad untuk tak membiarkan kata-kata yang didengarnya mengacaukan hal-hal lain. Maka, ia menarik nafas dan menghitung sampai lima sebelum mengetuk pelan pintu kaca di hadapannya.

"Masuk!"

"Permisi, Dr.Min. Anda mencari saya?"

"Ah ya. Silakan duduk, Dr.Kim."

Seokjin mengangguk lalu menggeser dan menduduki kursi di samping Kim Namjoon tanpa menegur atau melirik dokter menyebalkan tersebut.

"Begini,Dr.Kim Seokjin. Ada seorang pasien yang sedang ditangani Dr.Kim Namjoon yang mengidap kanker usus. Pasien ini sudah mengulur-ulur waktu untuk operasi dan kami khawatir bahwa sel kankernya akan merembet ke mana-mana." Dr.Min memperbaiki letak kacamatanya. "Sore ini, pasien tersebut akan berkonsultasi dengan Dr.Kim yang biasanya dibantu oleh Dr.Ahn Sohee yang sedang cuti melahirkan. Nah, saya ingin meminta Dr.Kim Seokjin untuk menggantikan Dr.Ahn dalam hal ini."

"Tapi, bukankah sebaiknya dokter bedah lainnya yang membantu? Selain itu, saya belum tahu riwayat pasien tersebut."

"Bilang saja kalau tidak mampu menangani tambahan satu pasien," tutur Kim Namjoon.

"Joonie-ah, tenang dulu." Dr.Min menengahi. "Mohon maaf jika ini mendadak, Dr.Kim. Saat ini semua dokter bedah kami sudah menangani cukup banyak pasien jadi kami meminta bantuan departemen lain. Selain itu, saya membaca CV Anda dan Anda pernah menulis dua jurnal kesehatan tentang kanker usus waktu di Singapura, benar?"

"Benar, Dr.Min."

"Bagus sekali kalau begitu. Jadi, jika Anda bersedia, saya senang sekali. Untuk riwayat kesehatan serta rekam medis pasien ini, akan dijelaskan oleh Dr.Kim Namjoon."

Seokjin menoleh ke arah pria di sisi kanannya yang melipat tangan di depan dada. Tampak jelas bahwa Kim Namjoon tak menyukai keputusan Dr.Min.

"Joonie-ah, tolong ajak Dr.Kim Seokjin melihat rekam medis Nona Bae Suji, oke? Makasih," ucap Dr.Min semena-mena. "Nah, sekarang boleh keluar. Saya ada janji lain. Terima kasih ya, Dr.Kim Seokjin."

"Kembali, Dr.Min."

Seokjin membungkuk hormat lalu meninggalkan ruangan menyusul Namjoon yang sudah keluar terlebih dahulu. Saat ia menutup pintu ruangan Dr.Min, ia melihat dokter sombong itu bersandar di dinding dengan kedua lengan masih terlipat di depan dada.

"Dengar, Kim Seokjin. Aku menolak ide Dr.Min untuk melibatkanmu. Jadi, sebaiknya kau tak usah pura-pura tertarik. Tidak usah ikut campur. Ini pasienku. Mengerti?"

Seokjin memasukkan kedua tangan ke dalam saku jas dokternya. Ia memonyongkan bibir sambil seolah-olah berpikir.

"Ya ya ya. Saya mengerti, Dr.Kim."

"Bagus."

Namjoon berjalan meninggalkan Seokjin namun langkahnya terhenti saat mendengar, "Saya mengerti bahwa Anda adalah manusia keras kepala dan sombong."

- Bersambung -

Namjoon's ProposalTempat di mana cerita hidup. Terokai sekarang