Seokjin masuk dan menutup pintu ruangannya begitu saja hingga membuat Jungkook terlonjak.
"Kenapa, Hyung?"
"Nggak apa-apa. Udah selesai?"
"Sedikit lagi. Ini sudah sampai di bagian bla bla bla...."
Seokjin mengangguk tanpa mendengarkan yang diucapkan Jungkook sama sekali. Pikirannya tertinggal di depan pintu ruangan Kim Namjoon.
---
Namjoon menyantap makan malam sambil mengamati Seokjin yang sejak tadi tak mengeluarkan sepatah katapun. Seokjin bahkan tak repot-repot melihatnya.
"Tadi kenapa pulang duluan?"
"Nggak apa-apa." Seokjin merampungkan makan malamnya dan meletakkan semua di tempat cuci piring. Setelah itu, ia memilih masuk ke kamar dan membaca buku demi menghindari Namjoon.
Namjoon menghela nafas perlahan. Ia yakin bahwa perubahan sikap Seokjin terjadi setelah melihat kejadian di ruangannya. Ia merasa sangat sial sebab mantan tunangannya tiba-tiba menemui dan memeluknya tepat beberapa detik sebelum Seokjin masuk.
"Apa sebaiknya dijelaskan?" Namjoon berkata pada dirinya sendiri. "Sudahlah. Lupakan saja."
Namjoon memutuskan mencuci peralatan makan kotor sebelum kembali ke kamarnya. Namun, perasaan kesalnya melihat Seokjin yang diam saja, membuatnya keluar dari kamar lima menit kemudian.
Ia mengetuk pintu kamar Seokjin beberapa kali namun tak ada sahutan. Namjoon lalu memutar kenop pintu dan masuk ke dalam kamar Seokjin. Sekilas tak banyak perbedaan antara kamar yang ia tempati dan kamar Seokjin. Namun, ia melihat beberapa benda kecil dan besar berwarna merah muda di kamar tersebut.
Namjoon duduk di atas kasur dan menekuri telapak tangannya. Ia menoleh ke arah kamar mandi saat pintunya dibuka dan kedua matanya melebar. Seokjin, yang belum menyadari kehadiran Namjoon, sibuk mengeringkan rambut. Bagian atas tubuhnya terpampang jelas sementara bagian pinggul sampai lutut tertutup handuk.
Pikiran Namjoon mulai melayang ke mana-mana saat menatap air yang beberapa kali menetes turun dari bahu Seokjin dan terus ke bawah. Tenggorokannya terasa kering seketika.
"Astaga!" Seokjin terpekik pelan saat bertatapan dengan Namjoon. "Kamu ngapain di sini?"
"Itu...tadi pintunya tidak terkunci. Jadi, aku masuk."
"Kenapa ke sini?"
"Mau bertanya sesuatu tetapi apa ya? Aku tiba-tiba lupa." Otak Namjoon memerintahkannya untuk berhenti menatap Seokjin tetapi kedua matanya terpaku di kulit mulus serta tubuh ramping milik Seokjin.
"Anu...itu...bisa tolong mmm berbalik sebentar? Aku mau pakai baju."
"Ah iya. Maaf."
Seokjin menangkap rona merah di pipi Namjoon. Pria tersebut pun tiba-tiba merapatkan pahanya dan menunduk. Seokjin memanfaatkan kesempatan itu untuk melangkah ke arah lemari pakaian. Sayangnya, ia tersandung kakinya sendiri dan terjungkal.
"Aaaww!"
"Eh, kamu tidak apa-apa?"
"Aduuhhh...."
"Sini aku bantu pelan-pelan." Namjoon perlahan-lahan dan hati-hati mengangkat tubuh Seokjin dan membawanya ke kasur. Seokjin mengubur wajahnya di dada Namjoon selain karena menahan sakit juga karena menutupi rona merah di pipinya.
"Tunggu sebentar."
Namjoon keluar dan segera kembali dengan sebuah handuk yang diisi es batu untuk mengompres pergelangan kaki kanan Seokjin.
"Hanya ini yang sakit?"
Seokjin mengangguk. Ia yakin suaranya akan bergetar jika ia mencoba berbicara. Tangan kiri Namjoon yang berada di betisnya juga memperburuk situasi sebab ia merasakan sesuatu yang panas merambat naik hingga ke arah tengah tubuhnya.
"Kau perlu sesuatu? Minuman?"
Seokjin menggeleng.
"Kenapa menunduk? Kau baik-baik saja?"
"Hmm...."
"Kim Seokjin."
"Ya?"
"Lihat aku." Namjoon mengangkat dagu Seokjin. "Ada yang sakit, hm?" Namjoon bahkan merasa heran mengapa ia dapat berbicara selembut itu kepada Seokjin yang sering beradu mulut dengannya.
"Nggak ada."
"Yakin?" Seokjin mengangguk satu kali. Ia memperhatikan Namjoon yang terang-terangan menatap bibirnya. Ibu jari Namjoon yang berjarak beberapa centimeter saja dengan bibirnya perlahan mengusap belah bibir berwarna merah itu.
"Bibirmu yang paling aku ingat sejak kita pertama bertemu. Sangat menggoda." Namjoon menaikkan pandangan hingga bertatapan langsung dengan Seokjin. Kedua pipi merah Seokjin menambah kesan cantik di mata Namjoon.
"Aku benar-benar ingin menciummu sekarang. Boleh?"
Tersihir pesona Namjoon, Seokjin mengangguk. Ia menutup mata saat bibir mereka bertemu. Kali ini, Namjoon tidak mengecup Seokjin melainkan benar-benar mencumbu bibirnya.
Seokjin melingkarkan kedua tangannya di sekitar pundak Namjoon dan menariknya mendekat. Ia mengusap tengkuk Namjoon perlahan dan memperdalam ciuman. Sebuah tindakan yang dianggap sebagai lampu hijau oleh Namjoon untuk berpindah ke arah dagu dan leher jenjang Seokjin.
"Ah...." erangan Seokjin terlepas dari mulutnya. Seokjin menahannya dengan telapak tangan dan seketika Namjoon menghentikan ciumannya di leher Seokjin.
"Aku suka itu. Jangan ditahan."
Namjoon membaringkan Seokjin dan melanjutkan ciuman yang terputus. Dengan penuh keahlian, tangan kirinya mengelus bagian samping tubuh Seokjin dan terus turun hingga menyentuh tepian handuk yang masih Seokjin kenakan. Namjoon melepaskan ujung handuk yang diselipkan di pinggang ramping lelaki di bawahnya lalu mengelus kulit yang masih lembab tersebut.
"Aahh..."
Erangan Seokjin sungguh memabukkan dan Namjoon menyukai bahkan menikmatinya. Ia meninggalkan jejak kemerahan di setiap bagian yang bibirnya lewati.
Di bawahnya, Seokjin membusungkan dada saat Namjoon menggoda putingnya yang semakin mengeras.
"Oh God!" teriak Seokjin saat Namjoon menggigitnya.
Senyum Namjoon terkembang saat memandang tubuh polos Seokjin menggelinjang di bawahnya.
"Kim Seokjin, aku menginginkanmu."
- Bersambung -
ANDA SEDANG MEMBACA
Namjoon's Proposal
RomanceKim Namjoon, seorang dokter bedah muda yang disegani oleh para dokter serta perawat lain di RSU Kota Jeju. Tak pernah tersenyum sejak mantan tunangannya meninggalkan dirinya begitu saja demi lelaki lain. Ia menganggap cinta serta perasaan orang lain...
