Membantu

2.7K 240 15
                                        

Namjoon menyentuh pundak Seokjin dengan hati-hati. Saat tangannya berada di pundak lelaki itu, Namjoon merasakan tubuh Seokjin bergetar ketakutan dan terus-menerus menggumamkan permohonan yang sama untuk tidak memukulnya.

"Hei, lihat aku. Aku Kim Namjoon."

Suara dengan nada tegas namun pelan milik Namjoon berhasil masuk ke telinga Seokjin. Ia menurunkan tangan lalu menatap pria di hadapannya dengan wajah bersimbah air mata. Ia menyadari bahwa yang berjongkok di hadapannya bukanlah monster dari masa lalunya. Monster itu sudah tak ada di dunia ini. Ia aman.

"Kau tidak apa-apa?"

Seokjin ingin menjawab namun lidahnya terasa kelu untuk digerakkan. Ia mencoba berdiri namun kembali jatuh karena kedua kakinya tak sanggup menopang tubuhnya. Beruntung, Namjoon dengan sigap menahan tubuhnya agar tak ambruk ke tanah.

"Pelan-pelan," perintah Namjoon. Ia membantu Seokjin berdiri lalu mengalungkan lengan kiri di pinggang Seokjin sementara lengannya yang satu lagi melingkarkan tangan Seokjin di bahunya.

Seokjin berjalan dengan bantuan Namjoon. Ia mulai menyadari perlahan bahwa dirinya tak menuju mobilnya.

"Itu...mobilku di...sebelah situ."

"Kau mau menyetir sendiri dengan kondisi begini? Yang benar saja!"

Namjoon membuka pintu mobilnya lalu mendudukkan Seokjin di kursi penumpang bahkan memasangkannya sabuk pengaman. Saat dirinya telah duduk di belakang kemudi, ia bertanya di mana tempat tinggal Seokjin.

"Dekat SMA Jeju. Tiga rumah dari situ."

Namjoon tak menjawab namun segera menghidupkan kendaraan dan meninggalkan gedung rumah sakit.

---

"Hei, rumahmu yang kiri atau kanan?"

Namjoon menoleh ke arah Seokjin yang ternyata tertidur. Ia menggoyangkan bahu lelaki itu sampai benar-benar terbangun.

"Sudah sampai?"

"Iya. Rumahmu yang mana?"

Perlu waktu beberapa detik bagi Seokjin untuk memfokuskan pandangannya. Ah, ternyata memang ia sudah sampai.

"Terima kasih," ucap Seokjin lemah. Ia membuka sabuk pengaman lalu turun dari mobil. Namjoon mengamati Seokjin yang tampak berjalan lunglai menuju rumah bercat putih di kanannya. Saat ia melihat bahwa Seokjin memasuki pintu rumah, ia pun melajukan kendaraannya pulang.

---

Seokjin tak dapat menahan rasa sakit di kepalanya lagi. Begitu kedua kakinya menginjak lantai kayu rumah, ia menuju ke arah sofa dengan cara meraba tembok. Ia benar-benar harus berbaring.

Saat lututnya menyentuh pinggiran sofa, ia segera merebahkan diri dan memejamkan mata. Ia langsung jatuh tertidur tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Namun, bayangan pukulan bertubi-tubi di sekujur tubuhnya membuat tidurnya gelisah. Keringat membasahi tubuhnya dan isakan tangis terdengar di dalam ruangan tersebut berkali-kali.

---

Namjoon selalu berangkat bekerja pada jam yang sama. Ia tak pernah terlalu awal atau terlambat barang semenit pun. Ia menyukai keteraturan, struktur, serta kedisiplinan. Namun demikian, pagi ini sedikit berbeda.

Ia meninggalkan apartemennya seperempat jam lebih awal dan tidak langsung menuju rumah sakit melainkan rumah Kim Seokjin. Sebagai dokter, ia memiliki insting bahwa keadaan Kim Seokjin jauh dari kata baik. Oleh karena itu, ia berniat memastikannya sendiri.

Namjoon hanya perlu sepuluh menit untuk tiba di rumah Seokjin. Ia memasuki pekarangan yang tampak terawat lalu menekan bel. Pintu masih tertutup. Ia pun menekan bel sekali lagi lalu mengetuk pintu. Perasaan Namjoon mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.

Ia memutar kenop pintu dan alisnya berkerut menyadari bahwa pintunya tidak terkunci.

"Kim Seokjin!"

Tak terdengar sahutan. Namjoon melangkah masuk dan terkejut menemukan Seokjin dalam balutan pakaian yang sama dengan kemarin meringkuk di atas sofa. Namjoon menyentuh keningnya dan suhu tubuh Seokjin yang tinggi seakan membakar kulitnya.

Ia segera membuka beberapa pintu untuk menemukan kamar tidur Seokjin. Saat berhasil menemukannya, Namjoon segera mengambil pakaian bersih termasuk pakai dalam untuk Seokjin. Ia kembali ke ruang tamu dan dengan sigap mengganti pakaian yang sudah basah oleh keringat tersebut dengan yang ia bawa.

"Sial!"

Namjoon mengumpat saat melihat kulit mulus Seokjin yang seharusnya tak mengganggunya. Benar-benar putih mulus dan rasa-

"Berhenti! Fokus!"

Namjoon akhirnya berhasil melepaskan kemeja Seokjin dan menggantinya dengan sebuah kaus putih kebesaran. Namun, tantangan baru menghadangnya. Ia harus melucuti celana panjang serta celana dalam Seokjin.

"Kau seorang dokter, Namjoon. Pasti bisa."

Dalam tempo super cepat, Namjoon berhasil melepaskan celana kotor Seokjin dan memakaikan yang baru dan bersih. Hal tersebut membuatnya bernafas lega.

"Akhirnya." Ia mengelap peluh di keningnya. Entah mengapa kali ini lebih sulit padahal ia sudah melihat tubuh telanjang pasiennya ratusan atau ribuan kali.

Erangan Seokjin sampai di telinga Namjoon dan menyadarkannya. Ia segera menggendong Seokjin dan membawanya ke rumah sakit.

---

Antara sadar dan tidak, Seokjin membuka mata. Ia tak dapat mengenali di mana ia berada sekarang. Dari sisi kanannya, ia melihat kain penutup tersibak dan melihat Kim Jaehwan, Sang Dokter UGD.

"Wah, untungnya Dr.Joon segera membawamu ke sini, Dr.Kim. Kalau tidak, entah apa yang terjadi padamu."

"Siapa?"

"Dr.Kim Namjoon. Ia menemukanmu tak sadarkan diri di rumah lalu membawamu ke sini. Pasti tidak ingat ya?"

"Kim Namjoon?"

- Bersambung -

Namjoon's ProposalTempat di mana cerita hidup. Terokai sekarang