Make Up [stage 2]

2.4K 186 22
                                        

"Perasaan apa maksudmu?"

"Kau ingin kita selalu bersama. Tidak hanya sekarang, tapi juga besok, bulan depan, sepuluh tahun lagi, selamanya. Kau tahu aku membutuhkanmu dalam hidupku. Sama seperti dirimu yang membutuhkanku."

"Kau terlalu percaya diri, Namjoon-ah." Seokjin berbalik dan bersiap melangkah pergi.

"Kalau kau tak menginginkanku, kau tidak akan membiarkanku merayumu dan masuk dalam hidupmu." Namjoon mengambil langkah maju hingga berada di depan Seokjin. "Kalau kau tak membutuhkanku, mengapa selama ini kau dengan sukarela menghabiskan waktu liburmu bersamaku?"

Seokjin terdiam.

"Hatimu pasti sakit saat menulis kalimat bahwa kau harap aku akan melupakanmu. Kau pasti menangis membayangkan aku tidak ada dalam hidupmu lagi."

"Apa maumu, Namjoon?"

"Kejujuranmu, Jinseok. Kau tahu, aku kehilangan akal sehat saat membaca tulisanmu. Aku ingin mencarimu dan menarikmu kembali dalam pelukanku dengan cara apapun." Namjoon menangkup wajah Seokjin. "Kim Seokjin, aku mencintaimu. Aku bisa mati kalau kau hilang dari hidupku."

Seokjin tak menanggapi pernyataan Namjoon.

"Maafkan aku jika aku membuatmu merasa bahwa kita harus menikah. Aku tidak akan menyinggungnya lagi. Just come back to me, Sweetheart."

Namjoon menemukan keraguan di kedua mata Seokjin, seolah-olah pria tersebut sedang mempertimbangkan perkataan Namjoon.

"Jinseok...." Namjoon kembali mendekat.

"Namjoon-ah, hati-hati di jalan."

---

Namjoon tak kembali ke apartemennya. Ia memilih bermalam di sofa ruang kerjanya di rumah sakit. Walaupun ia tak dapat tidur dengan nyaman, setidaknya rasa pegalnya mampu mengalihkan pikirannya dari Seokjin untuk sementara.

Jimin kaget melihat Namjoon telah duduk di dalam ruangan keesokan harinya masih dengan kemeja yang sama dengan satu hari sebelumnya.

"Dr.Kim, Anda bermalam di sini?"

"Hmm..."

Jimin ingin bertanya lebih lanjut tetapi satu jam lagi Namjoon sudah harus menemui pasien.

"Anda mau mandi dulu, Dok?"

Namjoon mengangguk. Untungnya, ia menyimpan pakaian bersih di kantor.

"Jimin, bisa tolong buatkan kopi?"

"Baiklah, Dok."

"Terima kasih."

Sepuluh menit sebelum pasien pertama masuk, Namjoon sudah selesai meminum kopi buatan Jimin dan menelan sepotong roti yang dibawakan perawat tersebut. Pakaiannya pun sudah berganti.

Ia membaca ulang nama-nama pasien pagi ini yang kebanyakan merupakan pasien yang mempersiapkan diri untuk operasi. Sepertinya sampai dengan beberapa minggu ke depan, ia akan sering bolak-balik ke ruang operasi.

"Siap, Dok?"

"Ya. Tolong persilakan Nona Bang Mina masuk."

---

Namjoon mengisi nampan makan siangnya dengan apapun yang ditunjuk oleh pegawai kafetaria. Perutnya keroncongan karena sejak kemarin belum makan, selain sepotong roti dari Jimin tadi.

Namjoon memilih meja kosong pertama yang ia lihat dan mulai makan.

"Dr.Kim, boleh saya duduk di sini?"

Namjoon melihat Dr.Jung Hoseok di depannya dan mengangguk.

"Biasanya Anda makan dengan Jinnie. Dia masih ada pasien?"

Namjoon's ProposalTempat di mana cerita hidup. Terokai sekarang