Verse 1: One Night [21+]

3.7K 192 33
                                        

Namjoon berdiri dan menanggalkan kaosnya lalu menjatuhkannya begitu saja di lantai. Seokjin terpukau menatap tubuh Namjoon yang terpahat dengan sempurna. Setiap lekukan dan otot yang terdapat di tubuhnya sungguh memanjakan indra penglihatan Seokjin.

Seokjin memberanikan diri untuk duduk di hadapan Namjoon dan menyapukan telapak tangannya dari pinggang ke perut sixpack Namjoon.

"Kamu rajin olahraga?"

"Hmm. Setiap hari aku menyempatkan diri berolahraga di apartemen," jawab Namjoon sambil memainkan rambut halus Seokjin. "Hari ini aku belum berolahraga tapi sebentar lagi aku akan membakar kalori."

Seokjin menatap senyum dan tatapan mengundang yang disajikan Namjoon.

"Kelihatannya yakin sekali, Dr.Kim."

"Tentu saja, Dr.Kim. Kau juga akan begitu. Kau pasti tahu bahwa seks selama 25 menit bisa membakar sekitar 100 kalori."

"Aku baru tahu kalau dokter akan berdiskusi tentang kesehatan bahkan sebelum berhubungan intim." Seokjin mendengus geli.

"Kau yang mulai, Sayang." Namjoon menurunkan satu tangan untuk menangkup pipi kiri Seokjin. "Lanjut?"

"Kalau kamu masih mau."

"Jinseok, aku beri tahu satu hal."

"Apa?"

"Pertama kali melihatmu, aku membayangkan bagaimana rasanya bercinta denganmu. Dan, saat itu kau berpakaian lengkap."

"Dasar orang tua mesum!"

"Hanya denganmu, Jinseok."

Namjoon menunduk dan melumat bibir merah Seokjin. Menyesapnya dan menggoda bibirnya dengan ujung lidah.

"Mmm...."

Namjoon memutus ciuman mereka dan menatap lurus ke arah Seokjin.

"Undress me."

Jemari Seokjin menelusuri tepi celana jeans Namjoon sebelum membuka kancing dan menurunkan retsletingnya. Kedua tangannya bekerja sama menurunkan celana Namjoon sementara bibirnya memberi kecupan-kecupan kecil di atas penis tegang Namjoon yang masih tersembunyi di balik boxer-nya.

"Hmm, Jinseok...."

Tangan Seokjin kembali bekerja untuk menurunkan satu-satunya penutup tubuh Namjoon yang tersisa. Saat penis besar Namjoon berdiri tegak di depan matanya, Seokjin berkata, "Aku mengerti mengapa sakit sekali rasanya waktu itu. It's a monster dick!"

Namjoon tertawa. "Ukuranmu juga tidak bisa dibilang kecil, Jinseok."

"Aku tahu tapi dibandingkan punyamu, penisku seperti punya anak kecil."

"Aku tidak peduli, Sayang."

"Kamu pintar memuji."

"Hanya denganmu, Sweetheart."

"Namjoon?"

"Yes, Baby?"

"I wanna please you."

"Silakan, Sayang."

Awalnya, Seokjin sedikit ragu. Ia tak tahu harus memulai dengan cara apa dan pada akhirnya ia memilih mengikuti nalurinya saja.

Seokjin memegang batang penis di hadapannya dan mengecup bagian kepala penis Namjoon. Ia memainkan lidahnya di sepanjang permukaannya dari bagian pangkal hingga ke ujungnya.

"Aku sudah benar?"

"You're doing great, Baby. Lakukan saja yang kau mau, Jinseok."

Seokjin menjadi tambah bersemangat untuk mencari tahu sejauh mana ia dapat menyenangkan Namjoon. Ia memanjakan penis Namjoon dengan gerakan tangan yang dimulai dengan kecepatan pelan dan perlahan ia tingkatkan.

"Hmm, Jinseok...lebih cepat."

Seokjin mempercepat temponya sambil menatap Namjoon.

"Kulum, Sayang."

Seokjin memberi jilatan dari bawah ke atas sekali lagi sebelum memasukkan penis Namjoon ke dalam mulutnya.

"Oh yess, Jinseok. So good, Baby."

Seokjin memberikan layanan oralnya sepenuh hati. Ia menaikturunkan kepalanya juga dengan tempo pelan yang kemudian dipercepat.

Rasa hangat mulut Seokjin di seputar penisnya membuat Namjoon semakin menginginkan lelaki itu. Anehnya, ia tak terganggu sekali dengan kecanggungan Seokjin saat memberinya blowjob. Ia justru merasa hal tersebut menggairahkan.

Namjoon sedikit mengeratkan jemarinya yang tertanam di helai rambut Seokjin saat penisnya merasakan deretan gigi Seokjin di permukaannya.

"Terus, Sayang. So good, Baby."

Namjoon sedikit terkejut saat Seokjin menggigit penisnya.

"Pelan-pelan, Sayang."

Seokjin kembali memajumundurkan kepalanya dengan hisapan yang ia tambah setiap kalinya. Ia lalu mencoba menghisap dan menahan kepala penis Namjoon di antara bibirnya dan dengan gerakan seolah-olah menariknya ke arah berlawanan. Lalu, melepaskannya begitu saja hingga menghasilkan bunyi 'pop!' kencang.

"Fuck!" umpat Namjoon. "That was great, Baby!"

"Suka?"

"Oh ya. Sangat suka, Sayang."

Seokjin tersenyum senang. Ia kembali melakukan hal yang sama dua kali lagi dan yang terakhir berhasil membuat Namjoon menyemburkan spermanya ke arah wajah Seokjin.

"Oh, shit! Maaf, Jinseok. Aku tidak bermaksud begitu." Namjoon membersihkan pipi Seokjin yang terkena semburan spermanya.

"Tidak apa-apa."

"Tunggu sebentar di sini."

Namjoon memasuki kamar mandi Seokjin dan membasahi handuk kecil dengan air hangat. Ia membawanya ke luar dan membersihkan pipi Seokjin lagi.

"Masih ingin terus?"

"Ya," jawab Seokjin tanpa keraguan.

"Aku berharap kau akan bilang begitu."

Namjoon kembali menyatukan bibir mereka namun dengan gerakan yang lebih menuntut. Perlahan, ia merebahkan Seokjin di atas ranjang dan mengungkungnya.

"Aku mungkin akan kesulitan bersikap lembut, Jinseok. Aku memperingatkanmu."

"Aku tidak peduli, Namjoon. Berbuatlah sesukamu. Aku tidak akan keberatan."

Kedua mata Namjoon sedikit menggelap saat kabut nafsu semakin menguasainya.

"Bersiaplah, Jinseok. Aku akan membuatmu menjerit penuh kenikmatan."

- Bersambung -

Namjoon's ProposalTempat di mana cerita hidup. Terokai sekarang