Seokjin membuka pintu rumahnya dan melangkah masuk dengan Namjoon di belakangnya. Seokjin memilih masuk ke kamarnya sementara Namjoon duduk di depan televisi tanpa menyimak apa yang ditayangkan. Kepalanya penuh dengan pertanyaan dan Seokjin.
Setelah beberapa menit termenung, Namjoon menyusul Seokjin. Ia tak menemukan Seokjin di kamarnya hingga dapat dipastikan bahwa Seokjin berada di kamar mandi. Namjoon menanggalkan pakaiannya satu per satu sebelum membuka pintu kamar mandi dan melihat Seokjin yang duduk di tepi bathup sambil memejamkan mata.
"Hei," sapa Namjoon.
"Hei. Maaf, aku tidak menawarimu untuk mandi tadi."
"Tidak apa-apa." Namjoon mengisi bathup dengan air hangat dan sabun. Ia masuk terlebih dahulu sebelum menuntun Seokjin untuk duduk dengan sangat hati-hati. Namjoon memijat pundak Seokjin pelan dan mencium kepalanya beberapa kali.
"Aku tidak membencinya."
"Hm?"
"Bayi kita. Aku tidak membencinya. Hanya saja, aku memang tidak pernah berpikir untuk memiliki anak."
Namjoon menyandarkan punggung Seokjin di dadanya.
"Kita tidak perlu membicarakannya sekarang, Sayang. Kau pasti lelah."
"Kau juga." Seokjin membawa telapak tangan Namjoon ke atas perutnya yang rata lalu menumpangkan tangannya sendiri di atasnya. "Namjoon-ah, aku iri padamu. Orang tuamu sangat baik dan kau memiliki Taehyung, ditambah Yoongi Hyung sekarang. Aku sendirian. Orang tuaku sudah tidak ada dan tidak ada saudara."
"Kau memilikiku. Keluargaku juga menyukaimu." Namjoon berkata sambil mengangkat telapak kanan Seokjin ke bibirnya.
"Ya, kau benar." Seokjin mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan luka di pergelangan tangannya. "Kau ingat, aku terkena panic attack saat kau menyentuh ini?"
"Eum."
"Aku bercita-cita menjadi dokter bedah. Ayahku juga seorang dokter bedah. Dia terkenal sekali bahkan sampai sekarang. Terkenal sangat tampan, pintar, ahli bedah terbaik, dan juga sangat biadab." Suara Seokjin mulai bergetar.
"Kau tidak harus meneruskannya, Sayang."
Seokjin menggeleng. "Aku sudah menyimpannya bertahun-tahun dan sakit sekali rasanya. Aku perlu mengatakannya. Mungkin bisa melegakan perasaanku."
"Baiklah. Aku tidak akan memotong ceritamu."
"Ayahku mulai memukuliku setelah ia pulang dari Thailand. Itu dua puluh tahun lalu. Awalnya karena aku mendapat 99 dalam ulangan. Sesudahnya, apapun bisa dijadikan alasan menyiksaku. Ibuku tidak percaya setiap kali aku mengatakannya, hanya pembantu keluargaku yang tahu. Dia mencoba membawaku pergi tapi ayahku menuduhnya menculikku dan memasukkannya ke penjara. Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi."
Namjoon mendengarkan dalam diam walaupun darahnya terasa mendidih mengetahui masa lalu orang yang ia cintai.
"Dia meniduri beberapa mahasiswinya dan memaksa salah satunya untuk aborsi saat tahu gadis itu hamil. Dia menjadi pecandu alkohol dan diusir dari ruang operasi karena datang dalam keadaan mabuk. Aku diterima di jurusan kedokteran dan dia berkata bahwa aku diterima karena aku anaknya. Aku berteriak bahwa aku tidak mau menjadi sepertinya. Kesalahan besar. Dia memukul tanganku dengan botol kaca. Tidak berhenti saat botol itu pecah, meremukkan tulangku, dan membuat uratku hampir putus."
Tangis Seokjin sudah tak terbendung. Namjoon memeluk dan membisikkan kata-kata penenang di telinganya.
"Ibuku buta akan cintanya pada ayahku. Dia menganggap semua yang menimpaku sebagai kesalahanku. Dengan bodohnya, dia lalu naik ke mobil dengan ayahku yang sedang mabuk. Mereka kecelakaan dan langsung tewas seketika."
ANDA SEDANG MEMBACA
Namjoon's Proposal
RomantikKim Namjoon, seorang dokter bedah muda yang disegani oleh para dokter serta perawat lain di RSU Kota Jeju. Tak pernah tersenyum sejak mantan tunangannya meninggalkan dirinya begitu saja demi lelaki lain. Ia menganggap cinta serta perasaan orang lain...
