Seokjin menarik nafas dan melangkahkan kaki keluar dari lift. Ia berjalan terus berpura-pura tak mengenali pemilik punggung tegap beberapa meter di depannya itu.
"Tuhan, tolong aku!" jerit Seokjin di dalam hati saat ia melihat bahwa Namjoon akan membalikkan badannya. "Jangan menatapnya, Jin! Menunduk saj-"
"Jinnie!" seru seseorang di sisinya.
"Hobi!" Jin balas berseru. Tuhan langsung mengirim malaikat terbaik untuk menyelamatkan dirinya. "Hobi, I love you!"
"Hahahaha! Siapa yang tidak?"
Suara tawa Seokjin dan Hoseok memenuhi lobi bagian bedah. Seokjin tak menyadari, kalaupun sadar ia juga tak akan peduli, tatapan Namjoon ke arahnya.
"Kamu kenapa di sini?"
"Ada pasien. Aku bantu bagian bedah. Kamu ngapain di sini?"
"Bosan. Jam praktikku sudah selesai. Tadinya aku mau main dengan anak-anak tapi mereka masih tidur. Jadi, aku jalan-jalan saja."
"Eh, nanti malam makan bareng mau?"
"Boleh boleh. Aku senang ada teman mengobrol. Oke, aku ke ruanganmu jam 5?"
"Oke. Makasih ya."
"Ekhem. Dr.Kim Seokjin, kita mulai sebentar lagi." Seokjin dan Hoseok menoleh ke arah Namjoon yang ternyata sudah berdiri di samping keduanya.
"Sampai nanti ya, Hobi. Aku ketemu pasien dulu. Daaaaa...."
"Oke oke. Daaaaaaa...."
Seokjin langsung melangkah ke arah ruangan Namjoon tanpa melirik pemilik ruangan.
"Hai, Jiminie!" Seokjin bahagia sebab satu malaikat lain bernama Park Jimin berada di dekatnya.
"Hai, Dr.Kim. Senang sekali kelihatannya."
"Iya, habis ketemu malaikat." Seokjin duduk di kursi di hadapan Jimin dan menopang dagu. "Sibuk ya hari ini?"
"Seperti biasa."
"Eh, ngomong-ngomong kamu punya pacar?"
"Kenapa tiba-tiba tanya itu?"
"Kookie bilang kamu manis soalnya."
"Kookie?"
"Eh, itu Jeon Jungkook. Anak koas."
"Yang tadi di ruangan Dr.Kim?"
"Waaahhh ternyata kamu merhatiin dia juga ya! Gimana? Oke nggak orangnya?"
"Hmm...tidak tahu. Kan belum kenal."
"Iya juga sih. Nanti aku kenalin mau? Ikut makan bareng aku sama Dr.Jung Hoseok sekalian aja ya. Nanti aku ajak Jungkook."
"Ekhem! Park Jimin, tolong panggil Nona Bae."
"Baik, Dok." Jimin tersenyum dan mengedipkan mata ke arah Seokjin yang membalasnya dengan kedipan juga.
"Selamat sore."
"Selamat sore, Nona Bae. Silakan duduk," ucap Namjoon sebagai awal konsultasi hari itu.
Setengah jam kemudian, konsultasipun berakhir dengan kesediaan Nona Bae untuk dioperasi. Namjoon yang akan memimpin langsung operasi yang dijadwalkan lima hari lagi tersebut.
Seokjin tersenyum sebelum Nona Bae keluar dan mengambil catatan yang ia letakkan di hadapannya.
"Sudah, kan? Aku mau ke ruanganku."
"Kim Seokjin, duduk sebentar. Aku mau bicara."
Seokjin menghela nafas mendengarnya.
"Oke. Tiga menit."
Namjoon melirik ke arah Jimin yang paham akan situasinya. Maka, ia pun berpamitan ke pantry.
"Masih ada pasien?"
"Tidak."
"Apa kau baik-baik saja?"
"Tidak."
"Apa kau bisa tidur semalam?"
"Tidak."
"Aku juga tidak bisa."
"Bagus."
"Dengar, Kim Seokjin, bisa kau lupakan yang terjadi antara kita semalam?"
"Apa memangnya yang terjadi antara kita semalam? Oh, maksudmu tentang kamu yang mengambil keperjakaanku? Atau tentang kamu yang tiba-tiba pergi?"
"Aku tahu kau marah."
"Marah? Hahaha!" Seokjin menggelengkan kepala. "Kim Namjoon, kau memang bajingan."
Seokjin meninggalkan Namjoon di ruangannya. Ia berlari ke arah lift dan naik ke lantai teratas. Untungnya, ia hanya sendiri di sana.
"Aaaaaaarrrrrrrgggghhhhhhhh!!!"
Seokjin membanting buku di genggamannya ke tanah lalu menendang dinding beton yang berada di dekatnya.
"Bajingan! Sialan! Asshole! Son of a bitch! Fuck you, Kim Namjoon!"
Seokjin tak pernah mengumpat. Ia merasa inilah saat terbaik menumpahkan semua kosa kata buruk yang ia ketahui. Seandainya ada orang yang melihatnya sekarang, Seokjin tak peduli. Ia hanya ingin melepaskan sakit hatinya. Penderitaannya.
Ia membenci Namjoon yang berhasil memporak-porandakan hatinya dalam waktu singkat. Ia membenci Namjoon yang begitu lihai membuatnya bersedia menyerahkan kesucian. Ia membenci perlakuan manis Namjoon yang membuatnya berpikir bahwa pria itu menginginkannya. Ia membenci Namjoon.
Namun, ia lebih membenci dirinya sendiri.
---
Saat Seokjin merasa lebih tenang, ia kembali ke ruangannya dan mendapat pesan bahwa semua dokter umum diminta berkumpul di ruangan kepala pukul 16.30 untuk berkenalan dengan tiga staf baru.
"Oke. Setengah jam lagi. Istirahat dulu." Ia bersandar di kursinya dan memejamkan mata. Ia merasa sedikit lebih lega setelah berteriak namun akibatnya, sekarang ia merasa lelah.
Tepat pukul 16.30, perkenalan ketiga staf baru dimulai. Atasan Seokjin, Dr.Ahn Heeyeon atau lebih akrab dengan panggilan Dr.Hani, memperkenalkan seorang dokter dan dua orang perawat.
"Ini Dr.Moon Byulyi. Dulu, Dr.Moon pernah bekerja di sini juga sebelum pindah ke Taiwan. Kapan itu ya? Delapan tahun lalu ya, Dok?"
"Benar sekali, Dr.Ahn."
Seokjin mengerutkan alis. Dr.Moon tampak familier di matanya. Di mana mereka bertemu sebelumnya ya?
"Halo, Dokter ehm Kim Seokjin. Benar?"
"Iya, benar." Seokjin menjawab pertanyaan Dr.Moon yang entah sejak kapan telah berada di hadapannya.
"Aku dengar Anda dekat dengan Dr.Kim Namjoon. Sedekat apa?"
Aha! Seokjin ingat sekarang. Dr.Moon adalah wanita yang memeluk Namjoon di ruangannya kemarin.
"Saya hanya diminta menggantikan dokter lain yang bekerja dengan Dr.Kim sebelumnya."
Dr.Moon tampak tersenyum namun bagi Seokjin, itu merupakan senyuman merendahkan.
"Well, aku hanya mau bilang satu hal. Kim Namjoon itu milikku."
Seokjin menghadiahkan senyuman terbaiknya. Ia lalu membungkuk dan berbisik, "Silakan ambil. Aku tidak tertarik mengoleksinya."
- Bersambung -
ANDA SEDANG MEMBACA
Namjoon's Proposal
RomanceKim Namjoon, seorang dokter bedah muda yang disegani oleh para dokter serta perawat lain di RSU Kota Jeju. Tak pernah tersenyum sejak mantan tunangannya meninggalkan dirinya begitu saja demi lelaki lain. Ia menganggap cinta serta perasaan orang lain...
