Kim Namjoon memandang Taehyung yang tengah berdansa dengan Yoongi yang telah resmi menjadi pasangan sehidup semati adiknya itu. Namjoon bahagia tentu saja tetapi ia sedikit iri sebab Taehyung berhasil menikahi cintanya. Sedangkan Namjoon masih berada dalam lingkaran partners with benefit bersama Seokjin.
Namjoon menunduk saat merasakan sebuah tangan menggenggam tangannya. Ia sangat mengenal pemilik tangan yang ujung jarinya sedikit bengkok itu. Kim Seokjin.
"Kau mulai melamun setelah pesta dimulai, Namjoon-ah. Ada sesuatu yang mau kau bagikan?"
Namjoon mengeratkan genggamannya di jemari Seokjin.
"Aku iri melihat Taehyung dan Yoongi Hyung. Mereka saling mencintai dan akhirnya menikah. Bahkan mereka dikaruniai bayi."
Seokjin mengerti hal itu, tentu saja. Secara langsung dan tidak langsung, Namjoon beberapa kali menginginkan hubungan yang lebih serius bersamanya. Namun, Seokjin masih dihantui trauma pernikahan orang tuanya. Ia takut bahwa dirinya akan berakhir tragis karena dibutakan oleh cinta seperti ibunya yang berakhir tewas mengenaskan bersama ayahnya yang sering menyiksa Seokjin.
"Namjoon-ah."
"Hm?"
"Temani aku malam ini."
---
Di dalam kamus Namjoon dan Seokjin, kata 'menemani' berarti ajakan untuk bercinta. Malam inipun tak ada bedanya. Keduanya baru saja selesai dengan kegiatan panas mereka di apartemen Namjoon pada pukul 01.00.
"Tidurlah, Jinseok."
"Aku mau mandi saja."
"Oke. Aku siapkan airnya sebentar."
Seokjin mengangguk dan memejamkan mata sambil mengatur nafasnya. Ia membuka matanya kembali saat Namjoon mendekat dan bersiap menggendongnya.
Namjoon menarik lembut pinggang Seokjin mendekat hingga punggungnya bersandar di dada bidang Namjoon. Dengan telaten, Namjoon memandikan Seokjin dengan air hangat sambil sesekali mengecup pundak atau punggungnya.
"Terima kasih, Namjoon-ah. Giliranku memanjakanmu."
Namjoon tersenyum dan membalikkan posisi mereka. Ia menikmati usapan serta pijatan Seokjin di tubuhnya.
"Kau ingin berkeluarga?" tanya Seokjin tiba-tiba.
"Kalau maksudmu menikah, ya. Tapi aku hanya ingin menikahimu, Jinseok. Jika tidak denganmu, aku tidak mau."
Di belakangnya, Seokjin terdiam. Gerakan memijatnya turut berhenti hingga Namjoon membalikkan tubuhnya.
"Maaf, jika kata-kataku membebanimu. Aku mengerti jika kau belum siap. Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu sampai kapanpun." Namjoon mengecup kening Seokjin.
"Maaf, Namjoon-ah."
"Tidak apa-apa, Baby. Ayo sudah mandinya. Kita perlu istirahat."
Namjoon membantu Seokjin keluar dan mengeringkan tubuhnya sebelum melakukan hal yang sama. Ia berbaring di sisi Seokjin sambil memeluk pria tersebut. Tak lama kemudian, Namjoonpun tertidur.
Sementara itu, Seokjin tak dapat memejamkan mata. Kata-kata Namjoon tentang pernikahan terus terngiang-ngiang. Seokjin menatap wajah tampan Namjoon yang tampak tenang dan Seokjin dirundung kesedihan sebab ia tak dapat mengabulkan keinginan Namjoon.
---
Seokjin terjaga hingga pukul 04.30 dengan kepala yang penuh dengan banyak hal. Akhirnya, ia memutuskan bangun dan mengenakan pakaiannya. Seokjin menulis sesuatu kemudian meletakkannya di nakas agar Namjoon dapat menemukannya. Ia memandangi Namjoon yang masih tertidur pulas.
"Maafkan aku, Namjoon-ah. Aku harap kau melupakanku."
Seokjin menghentikan taksi saat ia telah berada di luar gedung apartemen. Sepanjang jalan, ia menutup mulutnya agar suara tangisnya teredam walaupun sia-sia.
"Ini, ambillah."
Seokjin menatap sopir taksi tua yang menyerahkan kotak tisu ke arahnya.
"Terima kasih."
Sopir tersebut hanya tersenyum sebelum kembali mengemudi. Sesekali ia menatap penumpangnya dengan raut wajah kuatir. Namun, ia tak berhak bertanya sehingga memilih diam sampai mereka tiba di tempat tujuan. RSU Kota Jeju.
"Terima kasih, Pak. Saya mohon ambil kembaliannya."
"Tidak perlu, Anak Muda. Tunggu sebentar, saya ambil kembaliannya."
"Tidak, Pak. Untuk Bapak saja. Terima kasih, Pak." Seokjin membungkuk dan berjalan ke arah pintu masuk rumah sakit.
"Terima kasih. Semoga kau baik-baik saja," gumam sopir taksi tersebut.
---
Namjoon panik. Ia tak menemukan Seokjin di manapun sejak ia bangun. Ia hendak menghubunginya saat melihat secarik kertas di atas nakas dengan tulisan tangan Seokjin.
Namjoon-ah,
Maafkan aku. Aku pengecut. Aku jahat. Aku tidak bisa membuat mimpimu menjadi nyata. Aku tidak ingin menikah, Namjoon. Aku tidak ingin berakhir seperti orang tuaku. Aku takut aku menghancurkanmu jika kita menikah. Aku harap kau akan melupakanku dan menemukan kebahagiaan dan mimpi yang baru.
Terima kasih untuk semua kenangan manis denganmu. Aku mohon, lupakan aku.
Jinseok
Namjoon meremat kertas itu dan melemparkannya ke tempat sampah. Ia menarik-narik rambutnya frustrasi dan mulutnya mengucapkan beberapa sumpah serapah untuk Seokjin.
"Aku tidak terima, Jinseok Sialan! Aku akan membuatmu kembali padaku!"
- Bersambung -
ANDA SEDANG MEMBACA
Namjoon's Proposal
RomanceKim Namjoon, seorang dokter bedah muda yang disegani oleh para dokter serta perawat lain di RSU Kota Jeju. Tak pernah tersenyum sejak mantan tunangannya meninggalkan dirinya begitu saja demi lelaki lain. Ia menganggap cinta serta perasaan orang lain...
