Seokjin memiringkan tubuhnya ke kiri dan kanan untuk kesekian kalinya namun hasilnya masih sama. Ia belum bisa tidur meskipun saat ini sudah pukul 01.30. Banyak hal tiba-tiba beterbangan di kepalanya dan otaknya tak ingin membiarkannya istirahat.
Tok tok!
"Jinseok, kau sudah tidur?" Suara Namjoon terdengar di telinga Seokjin. Ia memilih membukakan pria tersebut pintu kamarnya dan berhadapan dengan Namjoon. "Aku tidak bisa tidur dan kurasa kau sama. Boleh aku masuk?"
"Masuk saja." Seokjin kembali ke tempat tidurnya dan menepuk sisi kosong di sebelahnya sebagai tanda untuk Namjoon. "Kepalaku rasanya penuh padahal aku harus tidur karena besok jadwalku mulai jam 10."
"Mau berangkat bersama besok? Aku mulai jam 10.30."
"Yakin? Nanti orang-orang bergosip."
"Well, sekali-sekali menyenangkan orang lain kan tidak apa-apa." Namjoon terkekeh pelan. Ia menatap Seokjin yang melakukan hal yang sama. "Jadi, kurasa kau tidak keberatan. Benar?"
"Tidak. Hitung-hitung bisa menghemat bensin karena-"
"Gaji spesialis lebih besar daripada dokter umum."
"Wah, pintar sekali. Hahahaha!"
Seokjin tertawa dan anehnya, Namjoon sama sekali tak terganggu dengan hal itu. Ia menjulurkan tangan untuk merapikan poni Seokjin sementara lelaki itu memperhatikannya.
"Namjoon?"
"Hm?"
"Siapa mantan tunanganmu?"
"Kau tidak memyesal kalau mengetahuinya?"
"Harus begitu memangnya?"
"Tidak harus tetapi kau mengenal orang ini jadi mungkin cara pandangmu padanya akan berubah."
"Oh ya? Aku jadi makin pensaran. Siapa?"
"Dr.Moon."
Seokjin menyipitkan mata mencoba berpikir dan langsung melebarkan bola mata dan menutup mulutnya saat menyadari orang yang Namjoon maksud.
"Dr.Moon Byulyi? Di departemenku? Dr.Moon yang itu?"
Namjoon mengangguk.
"Tapi sering kulihat kalian dekat akhir-akhir ini. Berencana kembali?"
"Aku tidak sama sekali walaupun dia kelihatannya mencoba begitu." Namjoon menatap Seokjin tak berkedip. "Kau marah setelah tahu?"
"Anehnya tidak. Tapi, kurasa aku akan sedikit berbeda dalam menilai Dr.Moon sekarang. Oh, tiba-tiba aku ingat. Waktu dia diperkenalkan, dia mengatakan padaku bahwa kamu itu miliknya."
Namjoon mendengus. "Dia bermimpi."
"Kamu nggak pernah berpikir untuk kembali?"
"Tidak," tegas Namjoon. "Apalagi setelah bertemu dan mengenalmu."
Di dalam hati, Seokjin mengakui bahwa ia senang mendengarnya.
"Jinseok, sini." Namjoon meluruskan lengan kiri untuk dijadikan bantal Seokjin. Seokjin pun menurutinya. Mereka bertatapan agak lama dan saling mengagumi keindahan masing-masing sebelum Namjoon menunduk dan mengecup bibir Seokjin dengan lembut.
"Maafkan aku yang tak pernah ramah padamu sebelumnya."
Satu kecupan di kening dihadiahkan Namjoon.
"Maafkan aku telah bersikap kasar padamu sebelumnya."
Satu kecupan mendarat di hidung Seokjin.
"Maafkan aku meninggalkanmu dan membuatmu merasa dicampakkan."
Namjoon mencium kedua pipi Seokjin.
"Aku ingin membuatmu melupakannya jika aku bisa."
Tatapan Namjoon menghujam kedua bola mata Seokjin.
"Izinkan aku memperbaiki sikapku padamu, Kim Seokjin."
Namjoon kembali menempelkan bibirnya dengan bibir Seokjin. Kedua tangannya menangkup wajah Seokjin dan ibu jarinya mengusap pipi Seokjin menghipnotis pria itu.
"Nggg...." erang Seokjin saat ibu jari Namjoon berpindah ke bagian belakang telinganya.
"Kau sensitif di sini, Baby?" Namjoon berbisik di telinga Seokjin. Lidahnya turut menggoda kulit sensitif Seokjin hingga erangannya kembali merasuki pendengaran Namjoon.
Bibir Namjoon mengecup sisi leher Seokjin, turun hingga bagian tulang selangka.
Seokjin mendesis saat Namjoon menyesap kuat hingga warna merah tercetak di kulitnya. Tangan kanan Namjoon yang berada di balik kaosnya membelai perut, pinggul, dan dadanya mengirimkan sengatan ke setiap inchi tubuhnya.
Namjoon perlahan memindahkan lengan kirinya dari bawah tengkuk Seokjin. Namjoon memposisikan tubuh tingginya di atas Seokjin dan perlahan menarik kaos Seokjin ke atas hingga terlepas sebelum melemparnya sembarangan. Namjoon mengecup dan menjilati perut Seokjin yang cukup berotot dan bagian pinggulnya sementara tangannya menurunkan celana Seokjin.
Wajah Seokjin sudah dihiasi warna merah karena apa yang Namjoon lakukan. Nafasnya tercekat saat lidah Namjoon bergerak memutar di bagian belakang lutut kanannya yang diangkat Namjoon ke bahunya. Kepala Seokjin mulai terasa berputar saat lidah Namjoon menjelajahi paha bagian dalam dan dengan sengaja melewati kemaluannya yang terbungkus celana dalam hitam ketat.
"Namjoon...please."
"Sabar dulu, Sayang." Namjoon menjawab tepat di atas kemaluan Seokjin yang menegang. Nafasnya meniupkan udara panas yang membuat Seokjin yakin ia akan mencapai pelepasannya segera.
"Aku membuatmu terangsang, Jinseok?" Namjoon berbicara dengan bibir yang menempel di kulit sensitif Seokjin.
"Nggghhh....ah!"
Namjoon meninggalkan tanda merah di paha bagian dalam Seokjin yang membuatnya menyemburkan pelepasan pertamanya malam itu di dalam celana.
"Oh just fuck me, Namjoon...."
"As you wish, Baby."
- Bersambung -
ANDA SEDANG MEMBACA
Namjoon's Proposal
RomanceKim Namjoon, seorang dokter bedah muda yang disegani oleh para dokter serta perawat lain di RSU Kota Jeju. Tak pernah tersenyum sejak mantan tunangannya meninggalkan dirinya begitu saja demi lelaki lain. Ia menganggap cinta serta perasaan orang lain...
