Kim Seokjin

2.5K 220 23
                                        

Seokjin terbangun saat merasakan sinar matahari menembus jendela kamarnya. Ia meregangkan tubuh, bangkit, dan berjalan ke kamar mandi dengan mata yang belum terbuka sempurna. Setelah membasuh wajahnya, Seokjin melakukan kebiasaannya setiap pagi. Menuju dapur dan menyiapkan sarapan sebab ia tak pernah berangkat bekerja tanpa  sarapan terlebih dahulu.

Ia menyiapkan dua piring berisikan telur mata sapi, beberapa potong wortel dan brokoli, serta kentang rebus. Tak lupa, ia menyiapkan dua gelas jus jeruk sebagai pelengkap lalu menatanya di meja makan kecil.

Seokjin mengetuk pintu kamar yang ditempati Namjoon namun tak ada sahutan. Ia mengetuknya sekali lagi tetapi hasilnya sama. Ia melihat jam di atas televisi yang menunjukkan pukul 06.30. Dugaannya, Kim Namjoon tak mungkin berangkat sepagi ini.

Ia membuka pintu kamar perlahan dan matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan di dalamnya. Ia mendengar dengkuran halus dari arah tempat tidur.

"Oh, penjahatnya masih tidur rupanya."

Seokjin menepuk bahu Namjoon pelan. "Bangun, Kim Namjoon. Hei, bangun. Udah siang."

Seokjin menepuk bahu Namjoon beberapa kali lagi namun tak berhasil menyeret Namjoon dari alam mimpi. Maka, Seokjin pun membuka tirai yang menutup jendela dan seketika cahaya matahari langsung menerangi kamar tersebut.

Namjoon tampaknya mulai bergerak dan Seokjin membangunkannya sekali lagi.

"Banguuuunnnn, Kim Namjoon!"

"Berisik!" Ucapan Namjoon teredam bantal namun masih dapat didengar Seokjin.

"Bangun! Ayo, bangun. Sudah pagi. Di rumahku nggak ada istilah bangun siang. Ayo ayo!"

Namjoon mulai kesal. Mengapa Seokjin harus rajin bangun pagi sih? Ia menyibakkan selimut lalu berdiri di depan lelaki pengganggu tidur nyenyaknya.

"Dasar pengganggu," ucapnya sebelum menuju kamar mandi.

Masih di posisinya semula, Seokjin terbelalak. Kim Namjoon, Si Dokter Keras Kepala itu baru saja berdiri di depannya hanya dengan mengenakan boxer. Dan suara bangun tidurnya yang serak-serak basah itu...

"Oh My God!" jerit Seokjin di dalam hati.

---

"Kau kenapa? Sakit lagi?" tanya Namjoon pada Seokjin yang tampak tak menikmati sarapannya. Seokjin hanya menggeleng pelan dan kembali memasukkan brokoli ke mulutnya.

Namjoon pun kembali memakan sarapan namun setelahnya, ia meletakkan garpunya dengan kesal yang membuat Seokjin sedikit terlonjak. "Sebenarnya kau itu kenapa? Bukankah kau itu orang paling berisik sedunia? Kalau sakit, bilang. Kenapa diam saja?"

Setelah mengatasi keterkejutannya, Seokjin juga ikut meletakkan garpunya dengan kesal. "Kau itu apa nggak bisa kalau nggak bentak-bentak orang? Pagi-pagi bikin emosi aja!"

Namjoon merasa jengkel dan memutar bola matanya. "Tidak ada gunanya bicara denganmu." Ia menghabiskan sarapan yang Seokjin siapkan lalu meletakkan peralatan makan yang kotor di tempat cuci piring. Tanpa mengucapkan apapun, ia meninggalkan Seokjin di meja makan sendiri.

Saat dilihatnya Namjoon memasuki kamar tidurnya, Seokjin segera memijat pelipisnya. "Aku bisa darah tinggi kalau begini terus."

---

Pukul 09.30 dan Seokjin sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Ia sudah mencuci piring, mencuci baju, juga mengepel lantai. Dan, ia bosan setengah mati karena tidak ada lagi yang dapat ia lakukan.

Dr.Kim Namjoon yang terhormat, dengan semena-mena mengatakan bahwa ia telah diberi izin istirahat dua hari oleh atasannya. Oleh karena itu, ia tak diperbolehkan masuk kantor.

"Tapi aku sudah lebih baik. Kamu bisa cek sendiri kondisiku, kan?" Seokjin memulai argumen dengan Namjoon setelah dirinya dilarang bekerja.

"Untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja, kau perlu istirahat. Lagipula hanya dua hari, kan? Sudahlah aku harus berangkat sekarang."

"Tapi bagaimana kalau aku bosan?"

Namjoon berhenti membetulkan letak dasinya untuk menatap tajam ke arah Seokjin. "Kau kira aku peduli?" ucapnya sebelum merapikan dasinya lalu berbalik pergi meninggalkan Seokjin.

"Kalau tidak peduli, kenapa dia memaksa menginap di sini?" tutur Seokjin entah yang keberapa kali.

---

Tok tok tok!

"Masuk."

"Hyung!"

Namjoon menoleh ke arah pintu masuk dan segera disambut oleh senyum kotak milik adiknya, Kim Taehyung. Namjoon tersenyum, sesuatu yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain.

"Sengaja mampir?"

"Iya. Tadi aku bertemu dengan calon klien baru di dekat sini. Jadi, sekalian saja mampir. Sedang sibuk?"

"Tidak. Hanya membaca beberapa jurnal baru."

"Cari pacar, Hyung. Jangan cuma baca jurnal atau kerja terus."

"Anak kecil diamlah!"

Taehyung tertawa. "Mau makan siang bersama?"

"Tapi aku tidak bisa lama-lama."

"Tidak masalah. Di kafetaria rumah sakit juga boleh."

Namjoon tersenyum mendengar pengertian Sang Adik.

"Ayo!"

- Bersambung -

Namjoon's ProposalTempat di mana cerita hidup. Terokai sekarang