Tawaran Kim Namjoon

2.6K 215 58
                                        

Seokjin menegakkan badan dan mengucapkan selamat tinggal pada Dr.Moon. Ia menghampiri Dr.Hani dan berpamitan. Ia memohon maaf karena tak dapat tinggal lebih lama dengan alasan sudah ada janji yang lain setelah jam kerja. Tidak bohong, kan?

Seokjin berpamitan pada setiap orang yang ia jumpai di ruangan tersebut. Saat akhirnya ia berada di ruangannya sendiri, Seokjin menarik nafas lega.

"Aku tidak pernah suka kalau harus bersosialisasi lama-lama begitu."

Seokjin menanggalkan jas dokternya, melepaskan dasi dan membuka kancing kerahnya, lalu menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku. Rasanya nyaman sekali. Sekarang, ia akan bermain game di ponselnya dulu sembari menunggu Hoseok.

Hoseok menyambangi ruang kerja Seokjin pukul 17.05. Sebelumnya, Seokjin telah mengirim pesan kepada Jungkook dan Jimin bahwa mereka bisa menyusul ke kedai ramen dekat kantor polisi yang tak jauh dari rumah sakit. Seokjin dan Hoseok memutuskan berjalan kaki karena tempat yang dituju hanya berjarak sepuluh menit dari RS Kota Jeju.

"Enak juga ya bisa jalan kaki sore-sore begini," tutur Seokjin saat mereka duduk di dalam kedai ramen.

"Iya, kan? Makanya aku nggak betah harus duduk lama-lama. Kamu tahu, Jin, waktu kuliah dulu, aku dipanggil cacing kepanasan karena tidak pernah duduk tenang sepanjang mata kuliah. Hahaha!"

Seokjin ikut tertawa. Hoseok benar-benar mood booster terampuh yang Seokjin tahu. Mereka berbagi cerita sambil menunggu pesanan dan terus berlanjut hingga Jungkook dan Jimin datang.

Setelah selesai makan, Seokjin memaksa untuk membayar semuanya.

"Aku saja ya. Hitung-hitung traktiran karena aku baru pindah ke sini."

"Kan sudah tiga bulan, Hyung."

"Diem aja, Kook!"

"Iya iya."

"Jin, kita jalan bareng lagi ambil mobil ya."

"Oke, Bos. Eh, Kookie anter Jimin pulang ya. Oke sip! Makasih ya, Kookie. Daaaaa. Hati-hati ya di jalan."

Seokjin dan Hoseok menertawakan kekagetan Jungkook dan Jimin namun terus berjalan ke luar meninggalkan dua orang yang diliputi kecanggungan di belakang mereka.

"Eh, maaf. Saya tidak melihat jalan," ucap Seokjin saat bahunya bertabrakan dengan seseorang di pintu kedai. "Oh, Dr.Kim Namjoon ternyata. Maaf ya." Seokjin mengucapkan kata maaf setengah hati setelah melihat Namjoon. Perasaannya turut memburuk kala melihat Dr.Moon berdiri di samping Namjoon. What a couple!

Seokjin mengaitkan lengannya dengan lengan Hoseok dan sedikit menariknya ke luar.

"Kamu kenapa?" tanya Hoseok saat mereka telah berada di luar.

"Nggak apa-apa. Cuma pingin cepet-cepet pulang."

"Nggak ada hubungannya sama Dr.Kim Namjoon?"

"Hubungan apa? Nggak ada apa-apa di antara kami. Cuma bosen aja lihat dia di rumah sakit terus lihat lagi di sini."

"Lha, kalo gitu kamu bosen lihat aku juga dong?"

"Ya, nggak. Mana mungkin aku bosen lihat kamu, Dr.Hope!" Seokjin melingkarkan lengannya di pundak Hoseok yang hanya tertawa mendengar jawabannya.

---

Dari jendela kaca, Namjoon menatap interaksi Seokjin dan Hoseok. Apakah mereka berhubungan? Tidak mungkin, sebab ialah lelaki pertama bagi Seokjin. Tetapi mereka kelihatan sangat dekat. Ia tak suka. Titik.

Tetapi, apa haknya?

"Namjoon-ah."

Namjoon larut dalam lamunannya hingga tak menyadari panggilan Moonbyul.

"Joon. Kim Namjoon. Hei!"

Namjoon menoleh ke arah Moonbyul.

"Apa?"

"Mau kupesankan? Aku masih ingat kesukaanmu."

"Terserah."

Namjoon kembali menatap ke luar lagi. Sayangnya, bahu lebar Seokjin sudah tak terlihat.

---

Hari-hari Seokjin berjalan seperti biasa sesudahnya. Ia berusaha menghindari Namjoon dan hal apapun yang memungkinkan terjadinya pertemuan dengan pria itu. Dan Seokjin berhasil melakukannya sejauh ini.

Kecuali hari ini. Hari operasi Bae Suji. Sebagai salah satu dokternya, Seokjin merasa perlu memberi semangat langsung kepada balerina tersebut. Oleh karena itu, pertemuan dengan Kim Namjoon tak terhindar.

"Terima kasih ya, Dr.Kim Seokjin, sudah meluangkan waktu ke sini."

"Tidak masalah. Santai saja ya. Semuanya akan baik-baik saja, oke?"

"Oke. Sampai ketemu besok kalau begitu?"

"Pasti. Sampai ketemu besok ya."

Seorang perawat mendorong tempat tidur Nona Bae ke arah ruang operasi. Seokjin tak beranjak dari tempatnya berdiri dan memberikan ucapan Fighting! saat bertatapan dengan perempuan tersebut sebelum pintu ruang operasi tertutup.

"Kau hanya memberi semangat untuk pasien? Tidak untuk dokter bedahnya?"

Tanpa menoleh pun Seokjin tahu bahwa suara tersebut milik Kim Namjoon yang berdiri di sebelahnya dalam balutan baju operasi berwarna hijau. Seokjin menatap Namjoon tanpa senyuman.

"Lakukan dengan benar. Kami berjanji untuk bertemu besok dan aku ingin kami berdua menepatinya."

"Makan malamlah denganku setelah operasi Nona Bae selesai."

"Tidak mau."

"Kalau tidak mau, aku akan menjemputmu akhir minggu ini dan kau harus menemaniku seharian." Namjoon menatap langsung ke dalam bola mata indah milik Seokjin. "Silakan pilih, Kim Seokjin."

- Bersambung -

Namjoon's ProposalTempat di mana cerita hidup. Terokai sekarang