Seokjin tak dapat bereaksi.
"Itu hukumannya."
Bibir Seokjin terbuka dan tertutup berkali-kali setelah Namjoon mendaratkan kecupan.
"Selamat malam."
Seokjin menatap punggung Namjoon yang tak lama kemudian hilang ke balik pintu kamar. Ia menyentuh bibirnya.
"Itu...ciuman pertamaku."
---
Seokjin bangun dengan keadaan kacau. Ia kesiangan dan kepalanya masih dipenuhi adegan kecupan dari Kim Namjoon.
"Ya Tuhaaaaannn...kepalaku rasanya mau pecah!"
Seokjin keluar dari kamarnya dengan harapan Namjoon sudah berangkat bekerja. Namun, takdir berkata lain. Ia melihat Namjoon yang tampak mempesona dalam balutan kemeja biru langit serta celana kain berwarna navy.
"Sial, kenapa dia belum berangkat?" guman Seokjin. Ia pun langsung berbalik dan membuka kulkas berpura-pura mencari sesuatu.
"Selamat pagi," sapa Namjoon.
"Selamat pagi," balas Seokjin dengan suara lirih dan tanpa berbalik menghadap Namjoon. Ia tahu bahwa itu tidak sopan tetapi biarkanlah.
Deg!
Seokjin terbelalak saat punggungnya bersentuhan dengan dada bidang Namjoon.
"Permisi," ucap Namjoon sambil mengulurkan tangan mengambil selai yang tersimpan di dalam kulkas.
Jantung Seokjin sudah akrobat tak karuan karena sentuhan tersebut ditambah wangi parfum Namjoon menggoda indra penciumannya.
"Harus bagaimana ini????" jerit Seokjin di dalam hati. "Apa aku berbalik saja dan pura-pura tidak ada apa-apa semalam?"
"Kau tidak sarapan?"
"Eh? Oh nanti saja. Belum lapar."
Seokjin menutup pintu kulkas sebab ia tahu bahwa pasti aneh sekali berdiri di sana tanpa melakukan apa-apa. Ia duduk di kursi di seberang Namjoon dan memperhatikan pria tersebut yang kelihatan menikmati roti isi selai di tangannya.
"Kau merasa lebih baik?"
"Ehm...iya. Sudah tidak apa-apa. Nanti siang aku ke rumah sakit." Namjoon melotot menatapnya maka Seokjin segera menambahkan, "Hanya untuk berdiskusi dan berbagi ilmu dengan Jungkook. Aku belum mulai menerima pasien."
"Jungkook yang bertemu di lift kemarin?"
"Iya, yang itu." Seokjin menunduk. Jemarinya memainkan pinggiran alas makan yang berada di hadapannya.
"Oke. Aku berangkat sekarang."
"Oke," tanggap Seokjin tanpa melihat Namjoon. Ia merasakan telapak tangan menangkup pipinya dan menegakkan wajahnya yang saat ini berjarak sangat dekat dengan Namjoon. Perlahan, Namjoon menurunkan kepalanya dan kembali mengecup bibir manis Seokjin. Sedikit lebih lama daripada malam sebelumnya.
Seokjin menutup mata saat bibir mereka bersentuhan dan sorot kebingungan terlihat jelas di mata bulatnya.
"Aku suka rasa bibirmu," ucap Namjoon singkat sebelum beranjak ke pintu depan dengan tas kerja di tangan kanan dan jas tersampir di tangan kirinya.
---
Seokjin membaca sekilas buku catatan yang dulu ia buat saat tengah menulis jurnal kesehatan mengenai kanker usus. Ia masih menyimpannya sampai sekarang dan berharap dapat menyegarkan ingatannya agar dapat membantu dalam kasus Bae Suji.
"Hyung, aku lapar," keluh Jungkook yang duduk di ruang kerja Seokjin dengan setumpuk buku mengenai gangguan pernafasan. "Aku ke kafetaria dulu ya."
"Eits, duduk saja! Kalau kubiarkan, kamu pasti baru kembali dua jam lagi. Aku saja yang ke sana. Mau titip apa?"
Jungkook cemberut namun tetap mengucapkan makanan serta minuman yang ia inginkan.
Seokjin lalu meninggalkan ruangannya dan berjalan santai ke kafetaria. Di tengah jalan, ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita mungil.
"Maaf, Nona. Anda tidak apa-apa?"
"Lihat-lihat kalau jalan," balas wanita tersebut dengan nada ketus lalu pergi begitu saja. Seokjin menggelengkan kepala dibuatnya.
Drrtt! Drrtt!
Ia mengambil ponsel di saku jasnya. Sebuah nomor tak dikenal menghubunginya.
"Dr.Kim Seokjin. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kau sudah di rumah sakit?"
"Eh? Maaf, ini dengan siapa?"
"Kau tidak punya nomorku? Ini Kim Namjoon."
"Ooo...ya, aku sudah di rumah sakit. Sekarang mau ke kafetaria."
"Ke ruanganku sekarang."
"Ada apa?"
"Ke sini saja."
Tut!
Seokjin merasa kesal karena Namjoon memutuskan panggilan begitu saja.
"Dasar diktator! Eh, nama yang bagus untuknya."
Seokjin mengurungkan rencananya ke kafetaria. Ia memilih membeli beberapa cemilan serta minuman untuk Jungkook di vending machine yang ia lewati sebelumnya lalu kembali ke arah ruang praktiknya.
---
Seokjin menerka-nerka apa yang Namjoon inginkan. Tiba-tiba ia memperhatikan penampilannya.
"Kayaknya oke."
Seokjin berjalan sambil menggulung lengan kemeja hitam yang ia kenakan sampai sebatas siku dan tak lupa merapikan rambutnya sedikit walaupun sebenarnya tak perlu.
Ia melihat pintu ruangan Namjoon sedikit terbuka. Ia mengetuknya perlahan lalu mendorongnya terbuka dan melihat seorang wanita sedang memeluk Namjoon erat sementara tangan pria tersebut berada di pinggangnya.
"Oh, maaf. Aku tidak tahu kau ada tamu. Aku pergi dulu," ucap Seokjin cepat dan menutup pintu di belakangnya. Jantungnya berdetak cepat dengan sedikit rasa tercubit. Ia memilih untuk melangkah terburu-buru ke arah lain namun bayangan Namjoon yang berpelukan dengan seseorang sangat menganggunya.
- Bersambung -
Pemirsah! NC dimulai di bab berikutnya ya 😉😉
ANDA SEDANG MEMBACA
Namjoon's Proposal
RomanceKim Namjoon, seorang dokter bedah muda yang disegani oleh para dokter serta perawat lain di RSU Kota Jeju. Tak pernah tersenyum sejak mantan tunangannya meninggalkan dirinya begitu saja demi lelaki lain. Ia menganggap cinta serta perasaan orang lain...
