Running Out Part#1: Section 3

200 19 3
                                        


WHITE ROOM

Lelaki itu akhirnya tersadar setelah beberapa jam, ia berusaha menggerakkan tubuhnya tapi upayanya sia-sia. Mata yang ditutup kain hitam dengan tangan terangkat yang terikat pada kepala kasur tak memberinya ruang untuk banyak bergerak. Ketika ia menggerakan sedikit kakinya yang bebas ia merasakan sakit pada pinggulnya. Seperti ada sesuatu yang mengisi tubuhnya tapi ia tak tahu apa itu. Rasa nyeri itu tak berhenti di situ, ketika ia mencoba menggerakkan lagi tubuhnya dadanya terasa sakit seolah tulang rusuknya ada yang patah.

"Argh..." rintihnya, sambil tetap menggerakkan tangannya membuat kebisingan di ruangan itu.

Suara gaduh yang ia ciptakan berhasil mengundang seseorang yang telah menunggunya siuman sedari tadi. Orang itu kemudian duduk di tepi kasur. Dia yang masih dalam keadaan terikat segera menggeser tubuhnya sedikit ketika merasakan kehadiran orang tersebut.

"Siapa lo!?" tanyanya dengan suara yang bergetar ketakutan. Orang itu tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan.

"Apa mau lo!?" tanyanya lagi, tapi tetap saja tak ada jawaban.

"Anjrit, mau lo sebenernya apa sih!? Heh orang gila!" kali ini ia bertanya sambil mengumpat tapi tetap saja tak mendapatkan jawaban.

Kemudian tiba-tiba orang itu menyentuh tubuh bagian bawahnya, melepaskan celananya dan membuka kaki korbannya selebar mungkin. Pria itu kaget dan berusaha untuk memberontak namun usahanya sia-sia. Orang gila yang ia panggil tadi telah memegangi kakinya ke atas sambil menyentuh bagian belakang tubuhnya.

"Anjrit lo! Lo mau apa hah!? Nyulik si nyulik tapi gak gini mainnya!? ARGH...!!!" pria itu menjerit kesakitan, ia merasakan sesuatu dikeluarkan dari tubuhnya lalu dimasukkan kembali oleh orang itu. Tak hanya sekali atau dua kali, gerakan orang itu semakin lama semakin berirama. Rasa sakit yang dirasakannya kini berubah menjadi rasa lain yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, hingga badannya mulai menegang.

"Is it good?" tanya orang itu setelah melihat korbannya sedikit tenang dan hanya menggeram rendah.

"Good dari hongkong! Lepasin gue gak!?" mendengar itu membuat orang itu tertawa rendah dan membuka penutup mata yang menutupi mata pria itu. Pria bernama Khao itu tidak segera membuka matanya, ia memejam erat matanya sambil sedikit menahan nafasnya. Orang yang ada di hadapannya kini hanya tersenyum tipis lalu tangannya bergerak membelai wajah Khao yang masih bertahan dengan ekspresi ketakutannya, dengan jari-jarinya mulai menelusuri leher, dada, perut dan yang terakhir pinggul Khao yang kemudian ditarik lagi olehnya untuk mendapatkan posisi nyaman baginya. Khao terkejut dengan pergerakan yang tiba-tiba membuatnya membuka mata dan melihat siapa yang telah mengerjainya seperti ini. Ketika melihat wajah orang itu, Khao hanya bisa terdiam. Terkejut? Tentu saja siapa yang tidak terkejut jika dia adalah orang yang telah menjadi kekasihnya selama beberapa bulan terakhir ini.

"Kau!?" serunya. Lelaki itu hanya tersenyum melihat kekasih kecilnya terkejut seperti itu.

"So, is it good?" tanyanya lagi.

"Phi, jangan bercanda deh. Lepasin dulu ini ikatannya."

"No, jawab dulu pertanyaan Phi."

"No it wasn't good at all. Puas?" mendengar jawaban itu membuatnya mengulum senyum. Kemudian ia menghela nafas dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.

"Phi? Phi mau kemana!? Phi!? Lepasin Khao dulu Phi!" jeritan Khao hanya terdengar seperti rengekan baginya, tak ada keinginan untuk menghiraukannya. Ia kemudian berjalan begitu saja dan kembali mengunci ruangan itu, meninggalkan Khao yang setengah telanjang, terikat di atas ranjang dan tentunya dengan tubuh yang tengah panas setelah seseorang yang saat ini tengah menculiknya, memainkan tubuhnya seperti tadi.

SUNNY X PODD AU : Running OutCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang