WHITE ROOM
Entah sudah berapa hari Khao terkurung di dalam ruangan ini, yang ia tahu bahwa beberapa kali lelaki itu datang dan yang dilakukannya adalah memberinya makan, memandikannya dan berbicara kepadanya namun hal itu selalu berakhir dengan siksaan yang tidak pernah Khao bayangkan sebelumnya. Kali ini Khao mengenakan baju berwarna putih kebesaran dan celana pendek berwarna hitam seperti yang pertama kali ia kenakan ketika ia tersadar. Namun, kini bedanya lelaki itu tidak mengikat kedua tangan Khao melainkan merantai kaki Khao dengan rantai yang cukup panjang sehingga Khao bisa berjalan ke kamar mandi. Pernah sekali lelaki itu memasang kateter pada tubuh Khao, dan itu membuatnya menjerit kesakitan. Walau hal itu sempat membuatnya merasa senang sesaat karena bisa mendengar Khao merengek kepadanya untuk berhenti. Akan tetapi setelah itu dia memutuskan untuk melepaskan kateter itu karena merasa malas harus membereskan air seni Khao yang berada di dalam kantong. Tapi tetap saja walau lelaki itu tidak memasang kateter ia memasangkan hal lain pada tubuh Khao.
Kali ini di bagian belakang tubuh Khao telah tersumbat replika kesayangannya yang bisa bergetar selama 24 jam tanpa henti. Dia sengaja memesannya khusus agar memiliki ukuran yang sama dengan miliknya. Entah telah berapa lama benda itu tersemat pada tubuh Khao, walau tangan Khao bebas tapi ia tidak berani melepaskan benda itu. Ia sangat takut jika lelaki itu mengetahuinya dan melakukan hal yang lebih membuatnya ngeri. Khao yang sedari tadi berbaring membelakangi pintu kini menggerakan tubuhnya ketika lelaki itu masuk ke dalam ruangan itu.
"How's you feel?" tanyanya
Khao terdiam dan hanya menatapnya lemah. Ia tidak tahu apa yang akan lelaki itu lakukan hari ini kepadanya, yang ia tahu saat ini adalah tubuhnya sangatlah merasa lelah dan pikirannya telah hilang akal bahkan untuk merasa takut pun ia sudah tidak mampu. Dia yang melihat Khao seperti itu hanya terdiam kemudian berjalan menghampiri Khao.
"Hey, answer me!" perintahnya. Tetapi Khao tetap bergeming tidak menjawab.
"You want to do this? Not answering me?!" tiba-tiba suaranya meninggi, tangannya bergerak mengangkat tubuh Khao dari pembaringannya. Mengguncang-guncangkan tubuh yang telah kehilangan jiwa itu.
"ANSWER ME!" teriaknya kali ini, Khao hanya menggerakan mata sayunya menatap mata lelaki yang kini penuh dengan amarah dan rasa kesal karena diabaikan oleh mainannya sendiri. Setelah menatapnya Khao tersenyum lemah, ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi kekasihnya yang berwarna kemerahan.
"Hai Phi... Khao baik-baik saja. Phi sendiri apa kabar?" ujarnya lirih.
Mendengar itu dia menghembuskan nafas, seolah merasa lega akan sesuatu yang ia sendiri tidak paham. Kemudian tangan segera bergerak cepat ke bawah melepaskan celana Khao. Khao yang sudah tidak kaget lagi dengan perlakuan ini, kini bersikap pasrah. Khao bahkan tidak melawannya sedikitpun. Lelaki itu kemudian membalikan badan Khao, memeriksa apakah mainan kesayangannya masih tersemat pada tempatnya atau tidak. Melihat Khao tidak melepaskan benda itu dengan sendirinya membuatnya tersenyum puas, kemudian ia mengecup tengkuk dan telinga Khao sembari berbisik.
"Good boy, I'll give you reward after this." Khao yang mendengar itu hanya bisa menahan air matanya dan mengangguk pelan. Lalu lelaki itu dengan kelihaiannya mengeluarkan benda itu secara perlahan dari tubuh Khao. Setelah berhasil mengeluarkannya dia mengecek tubuh Khao seberapa parah luka yang ia berikan. Ketika ia melihat ada sedikit darah ia segera mengambil obat luka yang selalu ia sediakan di atas nakas yang berada di dekat pintu masuk. Setelah itu ia mengobati tubuh Khao dan mengenakan celana Khao kembali. Khao yang sedari tadi hanya bisa merintih lemah kini merasa sedikit nyaman dengan tubuhnya.
Lelaki itu kini hanya mengamati tubuh Khao yang tergeletak di atas ranjang besi tanpa kasur ini. Kemudian tangannya bergerak meraih tangan Khao yang pergelangannya masih memiliki bekas kemerahan karena ikatan sebelumnya.
"Maaf...:" katanya tiba-tiba, mendengar itu mata Khao yang sedari setengah terpejam lemah kini terbuka lebar. "....aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku sangatlah menyukaimu, melihatmu di luar sana tanpa aku bisa bebas menghampirimu sangatlah menyiksa. Aku ingin sekali mengatakan kepada dunia siapa diriku. Tapi sayang aku... aku...." kekasihnya meracau, apakah dia mabuk? Adalah pertanyaan yang terlintas dalam benak Khao, tapi Khao hanya terdiam mendengar racauannya. Kemudian lelaki itu mengangkat tangan Khao dan menempelkan pipinya pada punggung tangan kecil yang berwarna putih tersebut.
"...Aku benar-benar menyukaimu Khao, Phi suka sama Khao. Tapi Khao selalu saja berkata bahwa Phi telah memiliki pasangan. Phi tidak mengerti.... Mengapa Khao terus saja menyiksa Phi seperti ini?" kali ini ucapannya membuat Khao merasa marah. Khao tidak paham mengapa dia berkata bahwa lelaki yang Khao lihat berjalan dengannya beberapa hari sebelum ia disekap bukanlah kekasihnya, padahal Khao melihat dengan mata kepala Khao sendiri lelaki yang di hadapannya ini mencium lelaki lain dan menatapnya dengan penuh cinta. Tapi setelah mendengar racauannya, apakah ini salah satu kebohongan seorang yang bilang mencintai dirinya? Khao masih bertahan dengan diamnya, kini ia mencoba memejamkan mata sepenuhnya. Berharap sesi hari ini segera berakhir dan lelaki itu segera pergi dari situ. Hanya saja sepertinya hal itu tidak akan terjadi, tiba-tiba saja kekasihnya naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Khao sambil memeluk dan menciumi leher dan telinganya.
"Percayalah padaku Khao, Phi benar-benar suka sama Khao. Tidak ada laki-laki lain dalam hidup Phi selain Khao." bisiknya di telinga Khao, yang tentu saja tidak akan pernah bisa diterima begitu saja oleh Khao.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNNY X PODD AU : Running Out
FanfictionThis is an Alternate Universe story of Podd x Khao, which including Gawin, Luke, Earth, Joss, Gun, Bright, Thanat, Tawan... And other cast who will appear following the story. Disclaimer! BXB AU 18+++ Sexual assault, kidnapping, and other gore conte...
