Running Out Part#3: 2 years ago - Section 4

51 5 0
                                        

"Phi Podd kenapa?" tanya Sun kepada Podd yang saat ini tengah duduk menyandar pada sofa di sampingnya dan kini tengah menuangkan wishky ke dalam kedua gelas yang telah di isi es batu. Sun langsung meneguknya begitu saja setelah Podd memberikan gelas whisky miliknya.

"Hmmm, Sun should we tell the world that we are twins?"

"Why?"

"I'm tired..."

"But dad..."

"Apakah selamanya kita akan takut dengan orang yang sudah mati?"

"Not at all, but... are you okay?"

"Hmm - mm..."

"Why suddenly...?"


"Tadi pagi, phi ketemu sama kamu. Dia... coba kamu bayangin semisal waktu itu Gawin lihat Sun."

"Ah iya."

"Aku gak mau Gawin salah paham."

"Is that so?"

"Hmmm, are you okay with that?"

"I'll do anything for us" ujar Sun sambil mengangkat gelasnya dan tersenyum hangat sebagai tanda ia mendukung apa yang Podd inginkan. Podd membalasnya senyumannya namun kemudian ia menghela nafas, seolah beban berat yang selama ini mengganjal di hatinya telah terangkat.

"Aku tidak mengerti, mengapa ayah berpikir memiliki anak kembar merupakan sebuah tabu?" ujar Podd kemudian.

"Ayah memiliki kerajaan bisnis yang sangat pelik. Memiliki satu pewaris sudah cukup memusingkan apalagi dua."

"Jika kita bukan anak kembar, apa dia juga akan mengurungmu?"

"Bisa jadi. Memiliki dua anak laki-laki akan membuat persaingan yang tak berarti."

"Begitukah?"

"Entahlah, bagaimana jika Phi menikah dan memiliki anak?"

"Haha, apa kau gila? Gawin akan membunuhku."

"Then why you become gay?"

"Look at the mirror, please."

"No one even knows that I exist. I don't need a child."

"Is that so? Then we have to tell the world, haven't we?"

"Ha ha... that's funny."

"Is it not?"

"Please stop." ujar Sun yang kini meletakkan gelas whisky miliknya di meja setelah menegak habis isinya. podd yang melihat itu hanya tersenyum tipis dan kemudian memejamkan matanya. Suara dengkur pelannya mulai terdengar, Sun hanya dapat melihat wajah kakaknya lekat-lekat yang mana kini pipinya telah bersemu merah karena alkohol yang mereka tenggak bersama.

-

Sun berjalan ke ruang bawah tanah, membuka pintu putih dimana suara erangan itu terdengar. Kini pemuda itu berhenti mengerang ketika terdengar pintu terbuka dengan kasar. Dia tahu bahwa orang yang datang adalah orang yang menyekapnya di tempat ini. Terdiam, dia berusaha untuk tidak berteriak ketakutan. Keringat dingin bercucuran tanpa dapat ia seka, air liur yang mulai mengalir melalui celah bibirnya karena usahanya untuk berteriak kini memberikan sensasi dingin pada wajahnya. Tenggorokannya terasa tercekat, tangannya tak dapat berhenti gemetar, sedangkan air mata terus mengalir membasahi kain yang menutupi matanya.

"Kamu takut?"

Pemuda itu tidak menjawab.

"Aku kira kamu akan senang ketika aku membawamu pulang."

Pemuda itu masih tetap diam.

"Apa kau ingin aku lepas?"

....

"Mengapa kau tidak bersuara sama sekali? Padahal tadi kau sangat berisik." ujar Sun lirih, kemudian berjalan mendekati pemuda itu. Di samping kasur tempat pemuda itu berbaring, terdapat sebuah nakas berwarna putih dengan tiga buah pintu laci. Ia membuka laci paling paling atas dimana beberapa mainan seperti dildo, vibrator, butt plug dan juga lotion. Sun mengeluarkan beberapa mainan itu lalu kemudian duduk di sisi ranjang besi itu. Membuka perlahan penutup mata yang kini telah basah. Pemuda itu tidak segera membuka matanya, ia terisak ketakutan dan semakin menjadi ketika Sun melepaskan benda yang menyumpal mulutnya.

"How's you feel?"

Dia masih terdiam sambil memejamkan mata. Sun kemudian mengambil lotion dan sebuah vibrator kecil lalu mengendurkan rantai yang mengikat kaki pemuda itu dan mengangkatnya, membuatnya bisa melihat bagian rektum pada tubuh putih tanpa cela itu. Sun yang melihat itu hanya tersenyum kemudian ia mengoleskan lotion pada bagian itu. Dingin menyergap tubuh sang pemuda, mau tak mau ia akhirnya membuka mata yang sedari tadi ia pejamkan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah kekasihnya, yang kini tidak ia kenali. Kemudian ia memejamkan mata kembali berusaha menahan tubuhnya yang kini gemetaran karena sentuhan lelaki berbadan besar itu.

"Hmm? I guess you are into this." ujar Sun ketika melihat bagian tubuh pemuda itu menegang.

"No..." ujarnya lirih, yang kini menahan rasa sakit sekaligus nikmat ketika Sun memasukkan jarinya dan bermain dengan area sensitif miliknya.

"Hmmm really?"

"I don't know, Phi Podd. please stop it."

"Whose Phi Podd?" tanya Sun dengan nada sedikit meninggi dan expresi wajah yang berubah kelam.

"You, you are Phi Podd."

"Gosh, do you believe that?"

"What?"

"Damned! You indeed are beautiful dear, but still you were an idiot." Sun tidak lagi menjadi tuan baik hati. Ia kemudian mengeluarkan jarinya dan mengambil dildo dengan ukuran yang cukup besar berwarna hitam dan memasukkan begitu saja ke dalam tubuh pemuda itu. Pemuda itu hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya ketika Sun memasukan paksa tanpa memberi aba-aba. Tak hanya sekali dua kali, Sun menarik dan memasukan dildonya beberapa kali hingga membuat tubuh pemudah itu terluka. Darah mulai mengalir dari tempat dimana sang dildo tersemat. Sun yang melihat itu mengangkat tinggi pinggul pemuda itu dan kemudian menjilatnya. Pemuda yang sedari tadi hanya terkulai lemah kini merintih kesakitan. Mendengar suara rintihan menahan rasa sakit membuat Sun semakin merasa senang dan akhirnya ia meletakkan kembali tubuh pemuda itu di atas kasur, meninggalkan dildo yang masih tersemat di tubuh pemuda itu dengan kecepatan tinggi dan mengikat lagi kakinya seperti semula lalu berdiri untuk meninggalkan pemuda itu sendirian.

"What?! Hey Phi Podd where are you going?"

"Phi, please... don't do this to me!" teriak nya lagi.

Sun mengabaikan rengekan pemuda itu dan menutup kembali pintu besi itu meredam semua jeritan yang akan terdengar sepanjang malam.

-

SUNNY X PODD AU : Running OutCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang