Thanat mengemas barang-barangnya, saat ini ia tengah memilah berkas yang harus diserahkan kepada Viktor. Baginya Apple adalah pasien spesial, bukan karena perasaannya kepada Tay tetapi memang Apple merupakan pasien yang memiliki semangat paling tinggi diantara pasien lainnya. Berbincang dengan Apple sangatlah menyenangkan, bukan berarti dia tidak profesional. Hanya saja karakter Apple yang sesungguhnya sangatlah menyenangkan, terkadang tanpa di sadari Thanat melakukan sesi konseling untuk dirinya sendiri melalui Apple. Penat yang ada di pikirannya perlahan berkurang, ia juga senang melihat kemajuan Apple yang semakin baik. Thanat tersenyum melihat rekam medik Apple, lalu dia mengambil selembar kertas notes dan memberi catatan tambahan untuk Viktor. Setelah itu ia menaruh semua berkas itu ke dalam map berwarna oranye. Thanat kemudian kembali membereskan beberapa buku dan barang lainnya yang masih berada di dalam ruang kerjanya atau mungkin bisa kita bilang sekarang bekas ruang kerjanya?
Tok-tok,
Seseorang mengetuk pintu ruangan itu dua kali, hingga Thanat menoleh ke arahnya melihat siapa yang datang. "Viktor!"
"Hai!"
"Masuk Vik, bantuin gue sini."
"Hmmm, lo beneran pergi nih?"
"Well, you can see.."
"Terus ?"
"Ah iya, ada yang mau gue kasih ke elo." Thanat mengambil map oranye tadi dan kemudian memberikannya kepada Viktor.
"Apa ini?"
"Kerjaan..."
"Jiah, orang lain pergi ninggal kenang-kenangan. Lo pergi ninggalin kerjaan."
"Berkesan kan punya gue."
"Beban hidup gue bertambah yang ada..."
"Hahaha, tenang aja dia udah sembuh kok. Hampir sih... gue rasa udah bisa dilepas obat tapi pelan-pelan."
"Iya kah?"
"Yup! Lo gak usah khawatir gue gak kasih lo pasien yang ngerepotin. Tenang aja..."
"Ha-ha... semoga aja.."
Percakapan mereka terhenti ketika seorang suster mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan menyela pertemuan mereka. Thanat walau sudah akan pergi tapi tetap harus melakukan beberapa kunjungan dan konseling di hari terakhir dia. Setelah mendengar apa yang suster itu sampaikan Thanat hanya mengangguk dan kemudian berpaling ke Viktor.
"Kayaknya gue gak bisa lama-lama ngobrol sama lo."
"It's okay, lagian gue ke sini cuman mau ketemu lo sebentar."
"Oke, gue tinggal ya."
"Yup, bye..."
Kemudian Thanat pergi meninggalkan Viktor sendirian di dalam ruang kerjanya.
-
Sun kembali ke rumah saat hari telah gelap. Ia menaruh tas dan beberapa alat melukisnya di dekat sofa kemudian ia duduk di sana tanpa melepas jaketnya, mengambil remot dan mulai menyalakan tv. Seorang lelaki bernama Mike yang telah lama menjadi kepala pelayan di keluarga Sangpotirat datang bersama seorang pelayan lainnya membawakan segelas air putih agar bisa diminum oleh Sun yang baru saja datang. Pelayan itu menaruhnya di atas meja di samping kaki Podd yang saat ini juga sedang membujur di atas meja. Setelah menaruhnya pelayan itu pergi namun Mike tetap tinggal.
Sun hanya menatap acuh Mike, sedangkan Mike mengeluarkan sesuatu dari sakunya seperti sebotol obat tanpa label di dekat air minum Sun.
"Anda harus minum obat anda hari ini Tuan Sun."
Sun ingin sekali tidak mendengar apa yang Mike katakan tapi badannya kemudian bergerak dan mengambil obat itu lalu menegaknya bersamaan dengan air yang ada di sampingnya. Setelah memastikan Sun meminum obatnya, Mike mengambil botol itu kembali dan pergi meninggalkan Sun sendirian di sana.
"Oh Sun? Kamu di rumah?" tiba-tiba seseorang muncul dari dalam.
"Hmm, baru aja nyampe. Phi juga tumben di rumah?"
"Lah emang biasanya enggak?"
"Biasanya aku kira Phi lupa jalan pulang ke rumah."
"Hahahaha, ngaco kamu. Phi ingatlah... Cuman..."
"Cuman Phi bucin aja sama khun Gawin.. Iya kan ngaku aja deh..."
Podd tidak membalas ledekan Sun, ia hanya duduk di sebelah Sun dan memukul pelan tubuh Sun.
"Ngaco kamu ya..."
"Udah ngaku aja...:"
"Idih..."
"Hahahahahaha..."
"Oh iya Sun, kamu beneran gak mau ketemu Gawin?"
"Hmm? Gak ah..."
"Gak enak tahu bohong sama dia."
"Phi gak cerita bukan berarti Phi bohong kan?"
"Sampe kapan lo mau menutup diri?"
"Phi, Sun baik-baik aja."
"Tapi..."
"Udah lah Phi, toh Sun juga gak menutup diri banget..."
"Iya tahu, cuman apa sih enaknya di rumah aja?"
"Kata siapa Sun di rumah aja?"
"Ya nggak gitu maksud Phi.."
"Ya terus apa? Phi, selama ini kita baik-baik aja kan? Terus kenapa sekarang jadi masalah?"
"I saw that kid's Instagram, and he called you Podd." Sun yang mendengar ini seketika terdiam. Ia tidak tahu bagaimana saudara kembarnya bisa mengetahui hal ini.
"Why? Can you explain something to me?"
Sun hanya terdiam menatap layar tv yang sedari tadi berganti tanpa ada yang menonton. "Sun?" panggil Podd
"Sun?"
"Nothing, I have nothing to explained." kemudian Sun berdiri menaruh remot tv dengan serampangan begitu saja meninggalkan Podd yang memiliki segudang pertanyaan di benaknya.
###
Special thanks buat semua yang udah baca cerita ini. Maaf kalau updatenya lama. thanks juga buat vote dan commentnya. Buat yang udah baca dan baru baca jangan lupa buat vote dan comment ya. Aku juga mau berinteraksi sama kalian yang baca tulisanku. Even, tulisanku gak bagus-bagus banget tapi kalian mau ngeluangin waktu buat baca ini. Would be nice to get to know you. :)))
###
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNNY X PODD AU : Running Out
FanfictionThis is an Alternate Universe story of Podd x Khao, which including Gawin, Luke, Earth, Joss, Gun, Bright, Thanat, Tawan... And other cast who will appear following the story. Disclaimer! BXB AU 18+++ Sexual assault, kidnapping, and other gore conte...
