BLUEOCEAN MANOR
SUV warna hitam terparkir di sebuah pelataran rumah yang begitu luas. Rumah yang luasnya menyaingi istana presiden itu kini dipijak oleh seorang lelaki yang baru saja keluar dari dalam mobil sambil mengenakan kacamatanya untuk menutupi sebagian wajahnya agar tidak terlalu nampak dalam remangnya senja. Ia yang mengenakan setelan jaket dan celana serba hitam hingga kaos dan sepatu itu berjalan ke arah dimana seorang lelaki berumur empat puluh tahunan dengan setelan butler yang serba hitam telah menunggu di depan dua daun pintu yang terbuka lebar. Menundukkan kepalanya dan menengadahkan tangan adalah hal yang dilakukan orang itu, ketika lelaki yang lain menyerahkan kunci mobilnya begitu saja. Kemudian ia berjalan ke arah SUV dan menyingkirkannya dari halaman itu untuk di parkirkan di dalam garasi.
Lelaki yang lain masuk ke dalam rumah dan melepaskan jaket hitam dan kacamatanya, lalu menaruhnya begitu saja di atas salah satu sofa miliknya yang begitu besar. Kemudian dia merebahkan badannya di atas sofa dan seorang pelayan datang menghampirinya sambil membawa segelas air putih yang diletakkan di atas meja. Lelaki itu hanya melirik air yang di sajikan untuknya dan memilih untuk memejamkan matanya dengan satu tangannya berada di kepala menutupi kedua matanya.
Pikirannya hari ini sangatlah runyam, sebagian dari dirinya mengatakan segala kesalahan yang ia perbuat, sebagian lagi mengatakan apa saja yang seharusnya ia lakukan selanjutnya. Bukan untuk membenarkan hal yang salah tapi untuk lari dari masalah. Dia menghembuskan nafasnya beberapa kali berharap semua masalahnya menghilang begitu saja. Tapi tentu saja bukan itu yang terjadi, pada hembusannya yang ketiga sebuah pesan masuk ke dalam ponsel pintarnya. Ia mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya, saat pertama ia merasa kesal mendengar suara itu namun setelah membaca pesan yang ia terima ia segera terduduk. Seketika tubuhnya menegang, seolah ada sesuatu yang mengancamnya.
"Tenang...tenang...semua akan baik-baik saja." Ujarnya pada dirinya sendiri agar membuat jantungnya yang memburu saat ini sedikit lebih tenang.
Lelaki yang memindahkan mobilnya kini telah berada di ruangan yang sama dengannya. Kepala pelayan bernama Mike itu, memberitahunya bahwa tidak ada kejadian apapun yang terjadi selama ia tidak datang berkunjung. Lelaki itu hanya mengangguk kemudian ia mengambil jaketnya dan pergi meninggalkan bagian utama rumah mewah itu. Ia keluar berjalan terus kedalam melalui taman dan akhirnya sampai hingga taman labirin yang berada di belakang rumah. Ia memasuki labirin itu dengan mudahnya tanpa kehilangan arah, bahkan dengan mata terpejam pun ia dapat keluar masuk labirin itu dengan mudah.
Akhirnya ia tiba di sebuah rumah kaca yang berada di tengah labirin. Rumah itu tampak biasa saja, seperti rumah kaca pada umumnya. Terdiri dari dinding dan atap kaca dengan berbagai tanaman yang ada di dalamnya. Namun, tentunya ada satu pembeda dari rumah kaca yang tersembunyi di dalam labirin. Pintu tingkap berwarna putih berada pada bagian paling ujung dari rumah itu. Lelaki itu kemudian membuka pintu tingkap itu dan perlahan turun ke bawah menuju tempat persembunyian yang tidak seorang pun tahu kecuali dia dan para pekerja yang ada di rumah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNNY X PODD AU : Running Out
FanfictionThis is an Alternate Universe story of Podd x Khao, which including Gawin, Luke, Earth, Joss, Gun, Bright, Thanat, Tawan... And other cast who will appear following the story. Disclaimer! BXB AU 18+++ Sexual assault, kidnapping, and other gore conte...
