Running Out Part#2: Section 5

100 7 0
                                        

APART 239

Gawin telah tiba di sebuah kompleks apartemen yang tidak terlalu jauh dari kantornya. Pria gempal itu kemudian turun dan membukakan pintu untuk membantu Ibu Khao turun dari mobilnya. Setelah Ibu Khao turun, Gawin menuntunnya berjalan dibantu dengan Sorot lampu berwarna kuning yang ada pada pinggir jalan, menyorot langkah mereka dalam gelapnya malam. Hingga mereka tiba di depan pintu apartemen yang ditinggali oleh keluarga Khao. Tak lama kemudian mereka telah masuk ke dalam apartemen itu. Ja yang mendengar suara pintu dibuka segera berjalan ke arah sumber suara, meninggalkan ayahnya yang telah ia baringkan di atas kasur.

"Mom?" panggil Ja dan setelah melihat siapa yang masuk, Ja mempercepat langkahnya dan kemudian ia memeluk Ibunya erat.

"Mom, dari mana saja? Mom membuat Ja khawatir, Daddy juga..." suara Ja yang bergetar membuat Ibu Khao menitikkan air mata. "...Mom? Mom nangis?" tanya Ja lagi.

"Sebaiknya Ibu anda diajak untuk duduk terlebih dahulu." sela Gawin, untuk memberikan kesempatan kepada Ibu Khao istirahat sejenak sebelum menjawab pertanyaan yang tentu saja akan dilontarkan oleh Ja bertubi-tubi. Gawin bisa melihat itu, karena ia dapat merasakan rasa khawatir yang membuncah dalam diri Ja.

Kemudian Ja menuntun Ibunya untuk duduk di sofa. Ia membantu Ibunya melepaskan jaket, tas, sepatu dan bahkan menawarinya untuk berganti pakaian dan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Ibu Khao hanya mengangguk, setelah itu masuk kedalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Ja yang melihat betapa lelah wajah Ibunya berjalan ke dapur untuk membuatkan makan malam. Gawin yang sedari tadi berdiri di sana, hanya bisa berdiam diri sambil menunggu pemilik kediaman ini menyadari keberadaannya di sana agar ia bisa berpamitan untuk pulang. Tapi sepertinya rencana Gawin untuk segera pergi dari tempat itu gagal, ketika Ja selesai menyiapkan makan malam Ibu Khao telah selesai membersihkan badannya. Ia sedikit terlihat lebih segar dari sebelumnya. Kemudian berjalan ke arah meja makan sambil menggandeng tangan Gawin, Ia mengajak Gawin untuk makan bersama.

"Pak detektif makanlah bersama kami." ajak Ibu Khao sambil mendudukkan Gawin di sebelah kursi yang ia duduki. Gawin hendak menolaknya namun ketika ia melirik ke arah Ja, ia mendapati Ja menggeleng - tanda agar Gawin tidak menolak permintaan ibunya. Akhirnya Gawin ikut makan malam bersama dengan mereka. Makan malam mereka cukup hening, hanya terdengar denting sendok dan garpu yang saling bersinggungan.

"Kalau boleh tahu, siapa nama pak detektif?" tanya Ja memecah keheningan mereka.

"Gawin."

"Pak Gawin?" sahut Ibu Khao.

"Panggil saya Gawin saja bu, saya sepertinya tidak terpaut jauh dengan putra sulung Ibu."

"Kalau begitu Gawin..." ujar Ibu Khao sekali lagi kali senyum merekah di wajahnya. semburat kerutan muncul pada sudut matanya. "...Apakah putra Ibu akan ditemukan?" tanyanya kemudian, yang membuat semburat kerutan di sudut matanya menghilang.

Gawin terdiam, ia tidak merasa kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibu Khao. Hanya saja saat ini ia sangatlah tidak tahu apa yang harus dikatakan kepadanya. Ia tidak mungkin mengumbar janji kosong, tapi menamparnya dengan kenyataan bukanlah hal yang ingin Gawin sampaikan dengan mulut Gawin sendiri. Gawin tidak sanggup, ia tidak sanggup menahan beban yang harus ia tanggung bila ia sendiri yang mengatakannya kepada keluarga korban.

Hening kembali merayapi apartemen 239, hingga akhirnya Gawin beranjak dari kursinya dan berlutut di depan Ibu Khao. Melihat itu tangis Ibu Khao pecah, air matanya mengalir begitu saja walau bibirnya tertutup rapat menahan diri untuk berteriak - meracau, agar tidak membangunkan suaminya. Gawin hanya bisa menundukkan wajahnya sambil berlutut. Seolah ia meminta ampunan kepada Ibu Khao, bukan karena Khao yang belum ditemukan. Lebih karena dugaannya mengenai kekasihnya Podd yang menjadi tersangka utama kasus ini. Walau belum terbukti dengan pasti, tetapi apakah selama ini prasangka Gawin pernah salah? Hal inilah yang semakin membuat Gawin merasa bersalah kepada Ibu Khao yang kini sedang menahan tangis.

Gawin kemudian bangkit dan menyeret kursi makan yang berada di sebelah Ibu Khao. Berusaha untuk duduk lebih dekat dengannya, Gawin menggenggam tangan Ibu Khao yang ia remas sendiri. Berharap rasa gemetar pada tubuhnya segera mereda. Melihat tangan Gawin menyentuh tangannya pandangan Ibu Khao yang tadi tertuju pada lantai kini terfokus pada Gawin.

"Ibu... Ibu, saya tidak bisa menjanjikan banyak. Tetapi satu yang bisa saya lakukan saat ini. Berusaha. Saya akan berusaha sekuat tenaga agar anak Ibu bisa ditemukan. Tapi saya mohon kepada Ibu agar tidak berharap terlalu banyak. Beberapa hari telah berlalu, bahkan penculiknya tidak menghubungi Ibu sama sekali. Hal ini mengindikasikan penculik tidak memiliki motif pemerasan dan cukup menyulitkan kami, tapi bukan berarti tidak dapat kami usut." Gawin berusaha menjelaskan situasi yang sedang terjadi kepada Ibu Khao. wanita paruh baya itu hanya dapat menyimak apa yang Gawin katakan, bahkan putranya Ja tidak menyela perkataan Gawin.

"Jadi saya berharap Ibu mau bekerjasama dengan kami. Ibu mau tahu bagaimana cara membantu kami?" tanya Gawin kemudian. Ibu Khao yang mendengar itu mengangguk antusias.

"Ibu dan Bapak tidak keluar sendirian, sebaiknya di rumah dan menunggu kabar dari kami. Jika Ibu dan Bapak ingin keluar beritahu Ja. kasihan anak sulung Ibu, perasaan tidak tenang memikirkan Ibu dan Bapak serta adiknya yang hilang pasti membuatnya tidak fokus saat bekerja..." mendengar itu Ibu Khao kemudian melihat ke arah Ja lalu mengangguk kan kepalanya memberi Gawin tanda bahwa dia paham dengan apa yang dimaksud oleh Gawin.

"...dan satu lagi, jika Ibu tahu kebiasaaan Khao yang tidak biasa sebelum dia menghilang tolong beritahu kami. Mungkin saja hal kecil itu bisa membantu kami untuk menemukan Khao."

Ibu Khao hanya mengangguk. Kini raut wajahnya sudah tidak seperti sebelumnya. Air mata yang tadi mengalir telah berhenti digantikan harapan untuk membantu kepolisian agar bisa segera menemukan putra bungsunya. Tapi walau telah merasa ada harapan, Ibu Khao hanya terdiam merenung. Baik Ja maupun Gawin saat ini sedang menatap Ibu Khao dengan awas. Tak ada ada satupun dari mereka yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh perempuan paruh baya yang saat ini sedang tampak kosong, seolah berpikir tapi disisi lain nampak kebingungan. Dengan wajah datar yang sedikit linglung tiba-tiba Ibu Khao berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan Gawin dan Ja. Gawin yang tidak mengerti ada apa menatap Ja meminta penjelasan. Tapi Ja juga hanya dapat mengangkat pundaknya memberikan sinyal bahwa ia juga tidak mengerti apa yang terjadi.

Setelah beberapa saat Ibu Khao kembali lagi ke tempat dimana Ja dan Gawin berada. Sambil menenteng beberapa buku dengan sampul hitam polos.

"Khao sangat suka menulis, entah itu tentang kesehariannya atau tentang kami. Terkadang ia menulis cerita pendek tapi ia tidak pernah menunjukkan kepada siapapun. Bahkan pada Ibunya sendiri tidak ia tunjukan."

"..." gawin terdiam menunggu penjelasan dari Ibu Khao.

"Saya menemukannya ketika membersihkan kamarnya beberapa hari yang lalu sebelum Khao menghilang. Saya tidak tahu apakah ini dapat membantu, tetapi..." kemudian Ibu Khao memberikan buku itu kepada Gawin. "... semoga bisa membantu penyelidikan anda." ujarnya kemudian. Gawin langsung saja menerima buku itu ia mulai membuka lembar demi lembar tapi sepertinya akan memakan waktu yang cukup lama untuk membaca semuanya.

"Menginap lah, anda bisa menggunakan kamar anak saya Khao." Gawin yang mendengar permintaan Ibu Khao hanya tersenyum kemudian mengangguk.

"Maaf sebelumnya bolehkah saya bertanya?" tanya Gawin kemudian.

"Ya?"

"Bukankah sebelumnya ada dua detektif datang kemari?"

"Detektif?"

"Ya, Detektif Luke dan Detektif Joss."

Ibu Khao tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak berusaha mengingat. Gawin yang sedari tadi melihat reaksi Ibu Khao hanya bisa terdiam. Dalam otaknya ia tahu jika Joss dan Luke belum datang kemari. Mereka belum memeriksa kediaman keluarga korban. Hal penting yang seharusnya mereka prioritaskan malah terabaikan. Demi membuat Ibu Khao percaya kepadanya malam itu Gawin menginap di apart 239, ditemani buku-buku milik Khao yang butuh ia baca segera agar dapat menemukan Khao. Seorang pemuda berumur dua puluh tahunan yang memiliki bakat melukis dan menulis yang tidak biasa. 

SUNNY X PODD AU : Running OutCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang