Podd dan kuda merahnya memasuki pelataran, ia memarkirkan di samping jaguar hitam milik Tay yang telah berada di sana sedari tadi. Podd dengan setelan jas biru dongker, kemeja biru, dasi hitam, dan sepatu hitamnya berjalan melintasi lorong demi lorong galeri bagai burung merak. Langkahnya yang lebar sesuai dengan kaki jenjangnya membuatnya menemukan Tay Tawan lebih cepat dari dugaannya. Hanya saja langkah itu terhenti, ketika ia mendengar suara familier yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Sun?" Podd yang melihat itu langsung menyembunyikan badannya di balik tembok. Berharap tidak ada yang melihatnya karena kalau sampai ketahuan Sun pasti akan sangat marah. Bimbang, akhirnya Podd memutuskan meninggalkan ruangan itu namun langkahnya kembali terhenti saat seseorang memanggil namanya.
"Podd? Phi Podd?"
"Who?" Podd yang tidak mengenali suara itu segera membalikkan badannya. Ketika ia melihat pemuda itu, sedetik kemudian tubuhnya telah di peluk erat. Podd yang kebingungan tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini.
"Phi? Kenapa gak bilang kalau Phi disini?"
(damn, who is him? Sun's boyfie?) Podd hanya bisa tersenyum canggung, tubuhnya masih menegang karena pemuda itu masih memeluk Podd dengan erat.
"Phi Podd juga belajar seni?"
"Hah? Ah iya, kamu sendiri?"
"Aku baru aja jadi asisten di sini. Bukankah kemarin aku sudah bilang kalau hari ini aku mulai bekerja di sebuah galeri seni?"
"Ah-hmm, sepertinya begitu...ha ha.." (damn you Sun, what the f*ck is this?)
"What is this? Phi Podd lupa?" suara pemuda itu kini terdengar sedikit kecewa dengan jawaban Podd.
"Nonononononono! Enggak, nggak lupa. Phi inget kok. Tapi Phi gak tahu kalau kamu kerja di sini."
"Eh, iya kah? Apa aku semalam lupa memberi tahu nama galerinya?"
"Nah, kayaknya gitu... kamu lupa kasih tahu nama galerinya."
"Hehehe, mian..."
(Gosh! Sun, are you dating a foreigner?) kemudian terdengar suara seseorang memanggil pemuda itu menggunakan bahasa korea. Pemuda itu dengan lantang menjawabnya, lalu kemudian dengan tiba-tiba mengecup pipi Podd dan melambaikan tangan kepadanya.
"Sampai jumpa nanti malam" ujarnya sambil berbisik, setelah itu ia pergi meninggalkan Podd sendirian di sana.
"Damn, why do I have to see this?" suara Tawan kini memenuhi telinga Podd memberikan hawa dingin yang sama sekali tidak ia inginkan.
"Don't tell anyone, Tay! you got that?"
"Aye-aye captain." jawab Tay yang kemudian merangkul pundak Podd untuk menyeretnya meninggalkan tempat itu.
-
"... so he supposedly Sun's boyfriend, am I right?" Podd hanya mengangguk di depan turntable miliknya sambil membasahi tangannya dengan air dan mulai meremat tanah liat yang tengah setengah jadi itu.
"Then, why...:?"
"Entah, tapi yang jelas ini tidak baik. Bukankah begitu?"
"Tentu saja, gimana kalau besok-besok Gawin yang mergokin elo bukan gue? Kan anjir seru kali ya?"
"Tay, should I turn you into a doll?"
"You held a clay not wax."
"I could change it..."
"Okay-okay... Sorry, I'm not gonna say it again."
"Tapi lo yakin gak papa?"
"Maksud lo, Tay?"
"Ya, itu kembaran lo kayak gitu."
"Terserah dia, toh selama ini juga gak kenapa-kenapa kan?"
"Hmmm, tenang banget. Gak khawatir?"
"Kalo elo jadi gue, elo pasti bakal bereaksi sama kayak gue Tay."
"Enggak, nggak mungkin. Kalo gue jadi elo, gue bakal bawa adik gue ke psikiater buat tahu kenapa dia gak mau orang-orang tahu kalau dia saudara kembar lo dan kenapa dia suka banget ngaku-ngaku jadi elo."
"Let him be Tay, let him be..."
"Be what Podd, what are you hiding from me?"
Podd tidak segera menjawab pertanyaan Tay, dia hanya menatap Tay dengan tatapan yang dingin kemudian mengangkat salah satu tangannya dan memberikan tanda pad Tay untuk mendekat. Tay yang melihat itu kemudian mendekatinya yang sedetik kemudian Podd menarik tangan Tay agar tubuhnya sedikit membungkuk dan melumat bibir Tay sebagai sinyal agar Tay berhenti bicara.
"Damn you Podd!" ucap Tay ketika akhirnya berhasil melepaskan genggaman Podd. Setelah berada di jarak aman, Tay segera mengusap bibirnya yang basah karena liur mereka yang bertautan sejenak.
"Then, shut up."
"Whatever, I'm leaving."
Tay yang kesal karena ciuman Podd kini berjalan keluar ruangan meninggalkan Podd dan tembikarnya. Podd yang melihat sikap kekanak-kanakan Tay hanya dapat tersenyum tipis untuk menunjukkan kegembiraannya.
"Well, his shock face is the most adorable." ujarnya lagi di depan meja putarnya yang kini tak lagi membentuk sebuah gerabah melainkan wajah seseorang yang sangat ia sayang.
-
Sun merapikan peralatannya, setelah itu ia menutup pahatan yang sedang ia kerjakan. Sepertinya hari ini dia memilih untuk selesai lebih cepat. Suara denting bilah besi dan palu masih ada yang terdengar tetapi sudah tidak sebising tadi. Beberapa diantara mereka memilih tinggal sedikit lebih lama untuk menyelesaikan pahatan mereka walau langit perlahan merubah warnanya. Sun terkadang terpaku dengan tempat ini. Galeri yang di bangun Tay berada di tempat yang sedikit jauh dari pusat kota namun tidak begitu dalam hingga hiruk pikuk kota tak terdengar. Berada sedikit lebih tinggi dari tempat lain memberi keuntungan bagi para seniman yang belajar disini untuk mendapatkan inspirasi lebih dari yang biasanya mereka bisa dapatkan. Langit senja kali ini berwarna jingga kemerahan, bagi sebagian orang pasti melihatnya sebagai pemandangan indah. Tapi tidak dengan Sun, dia tidak hanya melihat tapi juga membau, indranya selalu mendapat stimulan lebih dari sekelilingnya, seperti bau segar yang sedang dia rasakan saat ini.
"Damn, I'm thirsty" bisik Sun.
"PHI PODD!" Sun, terkejut mendengar suara itu. Seketika ia menoleh dan melihat seseorang yang sangat ia kenali. Seseorang itu melambai dari jendela pintu dengan begitu bersemangat melayangkan senyumnya yang begitu lebar kepada lelaki yang kini hanya menatapnya dengan wajah datarnya tanpa membalas lambaian tangannya. Melihat itu pemuda itu langsung berjalan mendekati Sun dan memeluknya. Sun yang masih tidak bereaksi kini mengangkat tangannya dan menaruhnya pada pinggul pemuda tersebut untuk melepaskan pelukannya secara perlahan.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
"Uh? Bukannya tadi siang aku sudah bilang lagi ya?"
"Hmm? Apa maksudmu?"
"Ah kalau dipikir, Phi kamu ganti baju?"
"Siapa... ah, iya aku tidak ingin bajuku kotor."
"Haha, padahal kau begitu tampan tadi."
"Benarkah?"
"Tentu saja, kenapa tidak?"
Sun hanya mengamati wajah pemuda itu. Kemudian menghela nafasnya, sepertinya dia tahu mengapa dia begitu haus melihat langit senja.
"Hei, apa kau ingin menginap di tempatku kali ini?" ujar Sun lembut.
"Wow, benarkah?"
"Yup"
"Oh my... why not?! I'll get ready first. Wait me okay?!"
"Okay, I'll wait in the lobby."
"Okay"
Pemuda yang tersenyum manis itu kini pergi meninggalkan Sun dengan seringainya, seringai yang tidak ada satupun yang tahu apa yang membuatnya bisa menyeringai seperti itu. Kecuali Podd yang sedari tadi mengamatinya dari luar melalui jendela. Podd tahu apa yang sedang Sun pikirkan, hanya saja apakah Podd dapat menghentikan apa yang akan terjadi malam ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNNY X PODD AU : Running Out
Fiksi PenggemarThis is an Alternate Universe story of Podd x Khao, which including Gawin, Luke, Earth, Joss, Gun, Bright, Thanat, Tawan... And other cast who will appear following the story. Disclaimer! BXB AU 18+++ Sexual assault, kidnapping, and other gore conte...
