WHITE ROOM
Lelaki itu masuk ke dalam ruangan dengan membawa semangkuk air dan beberapa helai handuk. Ia hendak membasuh tubuh kekasihnya yang sejak semalam banjir keringat. Ketika pintu dibuka ia melihat Khao telah menyambutnya dengan tatapan tajam yang menusuk, namun hanya dibalas dengan senyum manis olehnya.
"Akan aku bersihkan tubuhmu." ujarnya dengan suara rendah yang lembut. Khao hanya terdiam dan memalingkan wajahnya ketika Lelaki itu mulai membuka bajunya atau lebih tepatnya merobek satu-satunya baju yang ia kenakan.
"What the fuck! Phi, yang benar saja! Kenapa bajuku Phi robek?!" teriak Khao.
"Aku malas membuka borgol di tanganmu." jawabnya santai, kemudian ia menarik kasur yang ditiduri oleh Khao dan menyisakan ranjang besi yang dinginnya langsung menyentuh kulit Khao. Khao hanya bisa berjengit dan menahan rasa dingin pada tubuhnya. Lelaki itu mengambil handuk dan membasahinya dengan air yang ada dalam mangkuk. Kemudian perlahan ia membasuh tubuh Khao, mulai dari tengkuk lalu ke leher dan kemudian dada secara perlahan. Ia melakukan itu sebanyak tiga kali sebelum akhirnya mencelupkan lagi handuk itu ke dalam mangkuk dan meremasnya. Lalu dilanjutkan dengan membasuh bagian tubuh yang lain.
Khao hanya terdiam, sesekali ia menggeram pelan ketika ia merasakan sensasi aneh saat tangan itu menyentuhnya. Dia mencoba melontarkan sorot mata tidak suka. Tetapi, Lelaki itu bahkan tidak melihat wajah Khao. Ia hanya sibuk membasuh tubuh putih mulus itu dengan perlahan hingga akhirnya ia sampai pada bagian sensitif dari tubuh itu.
"Tak bisakah Phi mengeluarkan benda itu dari tubuhku?" tanya Khao, ketika pantat gempalnya dibasuh.
"Mengapa kau tak mencoba mengeluarkannya sendiri?" mendengar hal itu darah langsung naik ke kepala Khao dan benar saja teriakanlah yang terlontar dari mulut manis Khao.
"APA PHI SUDAH GILA!? PHI YANG PASANG BENDA ASING DI TUBUH KHAO! HARUSNYA PHI YANG KELUARIN JUGA DARI TUBUH KHAO!"
Lelaki itu tertawa terbahak-bahak, tawanya sangat kencang. Saking kencangnya rasa marah yang tadi Khao rasakan seketika berubah menjadi ngeri dan bingung yang bercampur menjadi satu.
"Apa kamu benar ingin aku yang mengeluarkannya?" tanyanya kemudian. Mendengar pertanyaan itu, Khao reflek menggelengkan kepalanya. Namun, detik berikutnya yang terjadi adalah tubuh Khao telah direntangkan kembali dan kedua kakinya telah dinaikan ke atas. Kemudian, kaki indah milik Khao telah dicium-i secara perlahan.
"Phi, hentikan! Kalau Phi tidak mau, nanti Khao akan keluarkan sendiri." pinta Khao sambil menggoyangkan kakinya.
"Jika kau tidak bisa diam, maka aku akan memasukan benda yang lebih aneh daripada yang kamu dapatkan saat ini." ujarnya lirih sambil menatap tajam Khao. Kemudian melanjutkan kegiatannya, menciumi kaki Khao dari betis hingga paha dan pada akhirnya ia mencapai bagian di mana ia meletakkan mainannya. Ia menjilatinya dengan perlahan hingga menjadi ritme yang membuat Khao menggeram rendah.
"Stop it Phi!" pinta Khao di sela-sela gerahamnya.
Dia yang mendengar itu hanya menyunggingkan senyumnya dan tetap lanjut menjilati mainan kesukaannya. Hingga akhirnya ia menggigit mainan itu dan menariknya keluar. Khao yang tidak mendapat peringatan terlebih dahulu hanya dapat melenguh untuk menahan rasa sakitnya.
Ketika mainan itu telah disingkirkan, Dia kembali sibuk menjilati tempat yang tadinya diisi oleh mainannya. Khao menggeram sedikit lebih keras kali ini, kini lidah lelaki itu telah keluar masuk pada bagian rectumnya beberapa kali memberikan sensasi aneh pada tubuh Khao
Setelah lelah bermain menggunakan lidahnya kemudian ia mengambil lotion dalam sakunya. Lalu membasahi jari jemarinya dengan lotion tersebut. Khao hanya dapat pasrah ketika dia melihat lelaki itu bersiap untuk memasukkan jarinya ke dalam tubuhnya. Dia memilih memejamkan mata agar bisa meredam rasa sakit yang bisa muncul begitu saja. Lelaki kekar yang saat ini sangat menikmati pemandangan yang ia lihat, akhirnya memasukkan jari ketiganya sambil menggerakkannya semakin cepat hingga menyentuh bagian yang membuat ekspresi Khao saat ini melotot dengan mata yang berair.
"HAHAHAHAHAHA....!!!!" tawanya yang keras dan mengerikan seolah memberi tahu Khao bahwa ini hanyalah permulaan bahkan ia belum memulainya. Setelah puas bermain dengan tubuh Khao dan membuatnya menegang, lelaki itu kemudian mengeluarkan jarinya lalu mengambil mangkuk dan handuk yang tadi ia bawa.
"Phi, Phi mau kemana?"
"Kenapa? Khao sudah merindukan Phi?"
Melihat wajahnya yang saat ini sangat mengerikan bagi Khao, membuat Khao memalingkan pandangannya tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Lelaki itu hanya menyunggingkan bibirnya lalu berjalan keluar meninggalkan Khao sambil bersenandung kecil seolah ia merasa sangat senang.
Khao yang malang kini hanya sendiri berada di ruang putih yang hawanya mulai mendingin. Tanpa baju dan alas kasur, ia menatap langit-langit dengan tatapan hampa, berusaha mengenang masa dimana pertama kali ia dan lelaki itu bertemu. Masa dimana ia sangat mengagumi pria yang tengah menyekapnya saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNNY X PODD AU : Running Out
FanfictionThis is an Alternate Universe story of Podd x Khao, which including Gawin, Luke, Earth, Joss, Gun, Bright, Thanat, Tawan... And other cast who will appear following the story. Disclaimer! BXB AU 18+++ Sexual assault, kidnapping, and other gore conte...
