[Present Day]
WHITE ROOM
Tubuh yang telah menegang itu kini hanya bisa terkulai pasrah menunggu lelaki itu datang kembali untuk menyelesaikan pekerjaan yang ia mulai. Lama Khao menunggu, tapi dia tak kunjung juga kembali.
"Sial Phi pergi kemana lagi? Masa iya aku di tinggalin dalam keadaan kayak gini lagi?" gerutu Khao dalam hati.
Tak lama kemudian gagang bundar pada pintu bergerak, ketika terbuka tanpa sengaja Khao memberikan ekspresi senang seperti anjing yang telah lama di tinggal oleh majikannya.
"Wow... aku tidak menyangka kau akan begitu senang melihatku." ujarnya dengan wajah dingin. Mendengar itu Khao segera memalingkan wajahnya tanpa melihat apa yang dibawa olehnya. lelaki itu masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah troli dengan makanan yang berada dibagian atas dan sebuah kotak berwarna hitam dibagian bawah. Setelah memposisikan troli itu di dekat kasur Khao, dia kemudian berjalan ke ujung atas kasur untuk melepas borgol yang mengekang tangan Khao selama ini. Khao yang sadar borgolnya dilepas oleh pria yang menculiknya ingin segera melawan dan kabur dari tempat itu. Namun sayang gerakan lelaki itu lebih cepat. Dia segera mencengkram dengan erat tangan Khao yang bebas dan kemudian mendudukkan tubuh Khao dan menahan tangan Khao di belakang tubuhnya, lalu melepas tangan Khao yang satu lagi. Tetapi kali ini bukan borgol yang ada di tangannya yang dilepas melainkan yang terpasang pada teralis kasur. Setelah melepas borgol itu Podd kemudian memasangkannya pada tangan Khao yang ia cengkram saat ini.
"It's hurts..." rengek Khao tapi lelaki itu tidak mendengarkan dan malah berjalan ke arah troli dan mengambil segelas air untuk di minumkan ke Khao. Khao tidak segera membuka mulutnya ketika dia menyodorkan gelas itu pada mulut Khao. Tanpa menunggu Khao membuka mulut lelaki itu langsung mencengkram rahang Khao hingga mulut Khao terbuka dengan paksaan dan kemudian dengan kasar menuangkan air itu ke dalam mulutnya hingga Khao tak dapat bernafas.
Setelah semua air dituang semua olehnya, dia mengambil sebuah piring dan plastik putih yang terdapat bubuk berwarna putih di dalamnya.
"Apa itu Phi?" tanya Khao lagi dan tetap tidak dijawab oleh lelaki itu, ia sibuk membuka plastik itu dan menaburkan bubuk putih ke atas piring yang kemudian ia sendok dan sodorkan ke mulut Khao. Khao yang takut mulutnya dicengkram seperti tadi langsung membuka mulutnya dan memakan apapun yang diberikan kepadanya hingga isi di dalam piring itu habis. Kemudian tanpa memberikan Khao minum, ia menatap jam tangannya seolah menunggu sesuatu. Hingga akhirnya tubuh Khao tiba-tiba tampak lebih tegang dari sebelum ia memakan makanan yang dibawa oleh lelaki itu. Dia tersenyum seolah ini adalah yang ia nanti. Khao yang bingung tidak mengerti dengan keadaan tubuhnya berusaha menjauh dari jangkauan lelaki itu. Tapi semua terlambat, dia telah melepaskan seluruh bajunya dan naik keatas ranjang dengan tubuh yang telah siap melahap Khao bulat-bulat. lelaki yang telah hilang akal itu kini menggeret kaki Khao hingga tubuh mereka bersentuhan. Kemudian melepas kedua tangan Khao yang terikat oleh borgol dan mencengkramnya dengan satu tangan ke atas lalu tangan lainnya membuka lebar kaki Khao untuk memberi jalan agar bagian tubuh miliknya yang telah menenggang sedari tadi bisa segera berada di dalam celah sempit milik Khao.
"Ah! It's always tight as ever..." ujarnya seraya berusaha memasukan semua miliknya. Khao hanya bisa pasrah dengan air mata mengalir berusaha mengontrol suaranya agar tidak terdengar seolah ia menikmati sentuhan yang dilakukan oleh dia yang saat ini menjamah tubuhnya dengan kasar.
"I've stretched you so many times, and you still hold me so tight like this. How amazing..." ujar lelaki yang dulu dan kini masih menjadi kekasihnya beserta pujian yang selalu ia lontarkan kepada Khao ketika mereka berhubungan intim.
Kini lelaki itu telah menggerakkan pinggulnya, melepaskan tangan Khao dan memegangi pinggulnya agar ia bisa memasukkannya lebih dalam lagi. Khao yang kini telah hilang akal, hanya bisa mengikuti arahan darinya. Bubuk putih yang tadi ditaburkan pada makanannya telah menguasai Khao sepenuhnya. Kini bahkan Khao tak sanggup berpikir apakah rasa sakit atau nikmat yang ia rasakan. Sesekali lelaki itu berhenti untuk mengambil barang yang ada dalam kotak hitam dan menggunakannya bergantian dengan dirinya. Mempermainkan tubuh Khao lebih parah dari biasanya.
Lelaki itu memang sengaja membawa mainan kesayangannya untuk di mainkan di sela-sela permainannya. Ia tahu bahwa tubuh Khao tidak akan pernah membuatnya merasa kecewa sebanyak apapun mainan yang ia gunakan padanya dan berapa kali pun ia memasukkan miliknya ke dalam tubuh Khao.
Merintih lirih adalah satu-satunya hal yang dapat Khao lakukan saat ini. Lelaki itu telah meninggalkan dia sendirian di dalam ruang putih yang dingin. Dengan kaki terikat rantai, tubuh yang berantakan penuh dengan bercak merah di sana-sini dan juga bagian tubuh belakangnya yang becek, karena lelaki itu tidak menggunakan kondom saat menjamahnya dengan buas tadi. Kini hanya tinggal Khao seorang dengan tubuh kotor yang telanjang tanpa sehelai kain menutupi tubuhnya.
Lemas, takut, sakit dan dingin rasa campur aduk yang bahkan menangis pun tak dapat membuat Khao dapat merasa lebih baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNNY X PODD AU : Running Out
FanfictionThis is an Alternate Universe story of Podd x Khao, which including Gawin, Luke, Earth, Joss, Gun, Bright, Thanat, Tawan... And other cast who will appear following the story. Disclaimer! BXB AU 18+++ Sexual assault, kidnapping, and other gore conte...
