Running Out Part#3: 3 years ago - Section 1

77 5 0
                                        

-

Podd berjalan tergesa menuju mobil yang telah terparkir di depan Sappo Tower miliknya. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Kuda liar berwarna merah itu melaju kencang membelah jalanan kota metro yang tidak terlalu padat. Sesekali ia menekan klakson sambil mengumpat karena mobil di depannya tidak segera menyingkir. Podd panik, adalah hal yang terpancar dari wajahnya saat ini. Ia berulang kali melihat ke arah ponselnya, berusaha menelpon nomor yang sama berulang kali sambil mengemudikan Ferrari-nya.

"Nomor yang anda tuju sedang berada... tut ---"

"Damned!" maki Podd yang mungkin telah lima puluh kali menelpon nomor itu. Podd mulai memelankan laju kemudinya, ia mulai mendekati tempat dimana ia dibesarkan. Kemudian Podd menelpon nomor lainnya, dan kali ini tersambung.

"Mike!"

"Iya Tuan?"

"Mike, cek Sun sekarang cepat!"

"Tapi Tuan Sun tidak sedang berada di rumah."

"WHAT!?" seketika laju kuda liar itu terhenti. Podd kaget bahwa Sun tidak ada di rumah. Mike segera menjelaskan bahwa tadi Sun berpamitan untuk pergi ke galeri. Setelah mendengar itu Podd segera memutar arah dan melajukan kuda liarnya ke galeri milik temannya, Tay.

-

Suasana siang itu seperti biasa tenang dan menghangatkan bagi para pelukis muda di Sunflowerart. Tay yang telah menjelaskan tentang objek gambar mereka kini berjalan berkeliling ruangan melihat satu demi satu lukisan yang sedang dibuat oleh para muridnya.

"Nice, gambaranmu ada kemajuan."

"Terima kasih, Phi"

"Nah coba kamu mulai berani mempertegas beberapa garis di sini dan...." suara Tay tenggelam oleh deru mesin yang tiba-tiba saja memasuki pelataran galeri miliknya.

"Hmmm, kita lanjutkan nanti ya." ujarnya pada murid yang tadi sedang mendengarkan penjelasan darinya. Setelah melihat muridnya mengangguk Tay segera berjalan keluar menuju mobil merah yang sangat mencolok mata di siang hari itu.

Tok Tok Tok! Tay mengetuk jendela mobil. Podd menurunkan kaca jendelanya.

"Harus banget?"

"Hmmm, Galeri lo rame?"

"Menurut lo?"

"Sun disini?"

"Di belakang, kenapa emangnya?"

"Gak papa, gue butuh ketemu sama dia sekarang."ujar Podd sambil melihat sekeliling galeri milik Tay, seolah-olah takut jika ada yang melihatnya datang berkunjung.

"Parkir mobil di belakang, lewat sana aja aman."

"Oke, thanks ya." Podd memundurkan mobilnya dan kemudian mengarahkan kemudinya berjalan ke tempat parkir di belakang galeri.

Tay yang melihat itu hanya bisa berkacak pinggang, kemudian mengusap rambutnya sendiri dan berjalan kembali ke dalam.

-

Seorang pemuda berkulit putih, dengan otot yang membentuk di seluruh tubuhnya kini sedang duduk di depan kanvas putih kosong tanpa ada coretan apapun. Sun yang hanya mengenakan celana jeans dan kaos oblong tanpa lengan kini tengah memegang paletnya dengan lesu, menatap kanvas putih itu dengan sorot mata yang hampa. Seolah separuh jiwanya pergi meninggal kan raga yang kini terdiam membisu. Podd yang melihat kondisi saudara kembarnya nampak dengan tampannya begitu menyedihkan melepaskan kacamata hitamnya dan berjalan ke arah Sun.

"Sun?" panggilnya dengan suara pelan.

Sun tidak segera merespon panggilan Podd.

"Sun?" panggil Podd sekali lagi.

Tetap sama tidak bergeming. Akhirnya Podd berlutut di samping Sun dan menyentuh tangannya yang sedang tidak memegang apapun. Lalu menggoyangkannya sambil memanggil nama Sun sekali lagi.

"Sun?"

Kini Sun merespon, wajahnya bergerak menunduk lalu melihat ke arah Podd. sedetik kemudian air mata menitik dari matanya. Sun menangis, ia berusaha menelan rasa sedihnya seorang diri. Namun usahanya gagal ketika ia melihat kakak kembarnya berada di sampingnya, memanggilnya berkali-kali.

"Phi... aku... aku..."

"Udah nangis aja, gue ada di sini buat Sun. Sun gak usah takut." ujar Podd yang kemudian berdiri memeluk Sun yang kini telah menjatuhkan paletnya dan menangis sesenggukan di pelukan Podd. hari itu memang sangat terang dan menghangatkan tapi merupakan hari yang memilukan bagi seorang Sun Suphakorn Sangpotirat.

-

Tay masuk dengan membawa tiga buah cangkir berisikan teh hangat untuk dia, Sun dan Podd. mereka bertiga duduk di kursi yang ada berada di pekarangan belakang galeri milik Tay. Podd saat ini masih menggenggam tangan Sun yang bergetar. Ia menundukan wajahnya, berusaha menahan air mata yang keluar terus menerus sedari tadi. Tay duduk di salah satu kursi sambil menaruh gelas di atas meja. Ia menatap Podd dan Sun, melihat sahabatnya sedang menenangkan adik kembarnya yang tidak Tay sangka bisa menangis seperti ini. Podd melihat gelas teh yang ada di meja segera mengambilnya dan memberikan kepada Sun memintanya untuk minum agar perasaannya sedikit lebih tenang. Sun yang tadinya menolak kemudian mengangguk dan mengambil gelas itu dari tangan Podd. meminumnya perlahan sambil mengatur nafasnya yang sedikit tersengal. Baik Podd dan Tay menunggu dengan sabar hingga akhirnya Sun tampak sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Sun menaruh gelas tehnya, masih tetap menundukkan wajahnya namun kali ini suara isakannya sudah tidak terdengar lagi. Tay yang merasa jengah dengan situasi ini kemudian berdehem dan menyeruput sedikit tehnya bersiap memecah keheningan.

"So, anyone willing to tell me what happened?"

Sun masih terdiam, Tay langsung menatap Podd dengan sorot mata ingin tahu yang begitu dalam. Hingga akhirnya Podd menyerah dan menyodorkan ponselnya. Tay menaikan salah satu alisnya dan mengambil ponsel itu kemudian membaca apa yang ditunjukan oleh Podd. Wajah Tay menjadi sedikit serius namun ia masih merasa bingung apa hubungannya berita kematian seorang pemuda dengan Sun. Tay menaruh ponsel Podd di atas meja, dan mulai menaikan salah satu alisnya kembali saat menatap Podd meminta penjelasan lebih tentang apa yang sebenarnya terjadi.

"He was Sun ex, they broke up a month ago."

"Oh SH*T!"

"Yup, you right.." ujar Podd sedikit lesu kemudian mengambil gelas teh miliknya dan meminumnya. Kini Tay mengerti hal mengerikan apa yang telah dan akan terjadi setelah ini.

"Apa polisi akan menyelidiki Sun?" ujar Tay kemudian

"Entahlah, aku tidak tahu sejauh mana hubungan mereka"

Baik Tay maupun Podd kini menatap Sun yang sedari tadi masih berdiam diri tidak ada keinginan untuk menjelaskan apapun kepada kedua orang yang sedari tadi merasa khawatir dengan kondisinya saat ini. Tay menghela nafas, ia menyerah pada tatapan mata Sun yang menunduk seolah memberikan sinyal bahwa ia belum siap bercerita apa pun. Podd kemudian berdiri dan mengambil kemeja Sun yang tersampir pada kursi lalu menutupi waja Sun dengan kemeja itu.

"Ayo pulang, kita bicara di rumah."

Sun hanya mengangguk dan berdiri mengikuti ajakan Podd untuk pulang. Tay ingin sekali mencegah mereka tapi tidak jadi karena percumah juga. Sun tidak akan bicara apapun saat ini bagaimanapun berusahanya dia memaksa Sun untuk berbicara. Tay tetap duduk di tempatnya hingga suara deru kuda liar Podd semakin menjauh dan tak terdengar lagi. Kini dia hanya bisa menunggu, menunggu Podd untuk menjelaskan apa yang sebenar terjadi. Ia kemudian mengambil ponselnya, mengecek berita hari ini dan mulai mencari tahu siapa pemuda itu. Rasa penasaran kini mengambil alih diri Tay Tawan.

SUNNY X PODD AU : Running OutCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang