Bab 9: Masihkah?

5.6K 549 28
                                        

"Kak Jeonghan, bisa kau ceritakan apa yang terjadi?" desak Wonwoo. Dia melayangkan tatapan tajamnya, membuat Jeonghan spontan beringsut mundur.

"C-ceritakan apa?"

"Tanda di lehermu. Bukankah itu kiss mark?" Wonwoo menunjuk leher Jeonghan dengan tatapan menyelidik.

Pemilik tanda itu sendiri dilanda kebingungan. Rasanya bekas yang tidak menyerupai garukan ataupun gigitan nyamuk itu belum ada di lehernya kemarin.

"Tunggu, jangan-jangan kau tidak sadar kalau semalam kau dan Kak Seungcheol..." Wonwoo bergumam penuh prasangka.

"Kalau semalam apa?!" sahut Jeonghan galak.

Wonwoo kini menyerangnya dengan tatapan sangsi. "Kau yakin tidak melakukan apapun dengannya?"

"Tidak!"

"Yakin? Mau kita tanya orangnya langsung?"

"Kau--" Jeonghan hampir saja menghardik sepupunya itu, kalau saja ponsel genggamnya tidak mendadak berbunyi. Dia segera mengangkatnya sambil menggerutu. "Halo?"

"Jeonghan, kau di mana? Kapan datang ke rumah?" suara nyaring sang ibu seketika memenuhi pendengarannya.
"Bukankah kau mau makan malam bersama kami? Tadi pagi Ibu sudah menelepon Seungcheol, dan dia bilang dia akan datang berkunjung nanti malam. Memangnya dia tidak memberitahumu?"

"Apa? Makan malam bersama?" Jeonghan mengernyit.

Merasa penasaran dengan percakapan itu, Wonwoo menepuk pundak Jeonghan, "Itu siapa?"

Jeonghan menjauhkan ponselnya dan menjawab lirih, "Ibuku. Dia menyuruhku datang ke rumah bersama Seungcheol untuk makan malam bersama."

Mendengar nama Seungcheol disebut, Wonwoo tidak melewatkan kesempatan itu dan segera berteriak. "Tante! Aku juga ingin ikut makan malam!"

Jeonghan terperanjat dan langsung mendorong sepupunya menjauh, namun sayang sang ibu sudah terlanjur mendengarnya. "Loh, itu suara Wonwoo? Kau di rumah Wonwoo, Jeonghan?"

Jeonghan berdecak kesal dan menghela nafas. "Iya..."

"Ya sudah, ajak saja Wonwoo sekalian ke sini. Sampai jumpa pukul tujuh nanti ya."

Hal pertama yang Jeonghan lakukan setelah memutus sambungan telepon itu adalah menatap sepupunya nyalang. "Untuk apa kau ikut segala?"

Wonwoo menyengir. "Kebetulan aku sedang rindu masakan tante."

Jeonghan sudah hafal betul dengan gelagat sang sepupu. Kebohongan Jeon Wonwoo bisa terlihat dari caranya menyungging senyum. "Awas kalau kau bicara macam-macam di depan orang tuaku."

Ancaman itu sayangnya hanya dibalas dengan anggukan asal Wonwoo.

Pukul enam sore, berangkatlah mereka menuju kediaman orang tua Jeonghan. Nyonya Yoon menyambut para tamunya dengan hangat dan membawa mereka menuju ruang makan. Tampak meja persegi berukuran besar di sana sudah terisi berbagai macam hidangan lezat.

Sekitar lima menit kemudian, suara bel pintu masuk berkumandang.

"Itu pasti Seungcheol. Jeonghan, tolong bukakan pintu," perintah Nyonya Yoon yang tengah sibuk mengatur piring dan gelas di meja makan.

Dengan malas, Jeonghan menyeret kakinya menuju pintu, diikuti Wonwoo yang belum juga menyurutkan rasa penasarannya. Ketika pintu dibuka, tampak Seungcheol yang hadir masih dalam busana kerjanya.

"Selamat malam. Maaf aku telat," sapanya sambil menyungging senyum.

Jeonghan membiarkan pintu terbuka lebar dan hanya membalas singkat, "Masuk."

My Long Time AdmirerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang