Mereka bilang cinta bisa tumbuh setelah mengenal. Mereka bilang kita bisa belajar mencintai seseorang.
Tapi bagi Jeonghan, pernikahannya dengan Seungcheol tidak mungkin bisa membuahkan cinta.
Sama sekali tidak ada rasa cinta di antara mereka. Hanya dendam dan ego yang mengiringi pernikahan bisnis itu. Dan setelah tahu bahwa Choi Seungcheol kemungkinan masih menyimpan rasa pada sang mantan kekasih, dia semakin yakin bahwa pria itu benar-benar hanya ingin mempermainkannya.
Jeonghan melangkah lesu menuju ruang kerjanya. Setelah menutup pintu, dia menjatuhkan tubuhnya pada kursi, menumpu kedua sikunya pada meja. Entah mengapa setelah mendengar pembicaraan di antara Seungcheol dan Eunjung, perasaan kalut terus menyerangnya tanpa ampun.
Di tengah kekalutan itu, ponselnya mendadak berdering keras, membuatnya terperanjat. Dia buru-buru mengangkatnya tanpa mengecek nama yang muncul di layar ponselnya. "Halo?"
"Jeonghan, ini Ayah. Bagaimana kabarmu?"
Mendengar suara familiar itu, perasaan gusar Jeonghan sedikit mereda. "Kabarku baik. Bagaimana kabar Ayah sendiri?"
"Ayah juga baik. Kamu betah bekerja di perusahaan Seungcheol sekarang?"
Jeonghan mengusap keningnya yang mulai berdenyut sambil menjawab pelan, "Begitulah."
"Bekerjalah dengan baik di sana. Jangan kecewakan Seungcheol. Dia sangat baik hati karena mau mengabulkan permintaan Ayah untuk mentransfermu ke perusahaan itu."
Detik itu, perasaan gusar yang tadi sempat lenyap kembali merayap di hatinya. Bahkan sampai membuat nafasnya tersendat.
"Ayah... yang memintaku agar dipindah ke perusahaan ini?"
Dan jawaban dari seberang sana semakin memperparah kegusarannya. "Benar."
Jeonghan mendengus tak percaya. Ternyata selama ini, orang tuanya sendiri yang ingin menendangnya dari perusahaan keluarga mereka? "Mengapa? Ayah tidak suka aku bekerja di perusahaan keluarga kita?" tanyanya kecewa.
Cukup lama tidak terdengar jawaban dari seberang, sampai Jeonghan kehilangan kesabarannya dan membiarkan emosinya pecah.
"Apa karena aku tidak berguna? Apa karena aku tidak bisa memenangkan tender yang Ayah harapkan? Apa karena para karyawan di sana membenciku? Apa aku benar-benar setidak berguna itu di mata Ayah?!"
"Tidak, Jeonghan. Ayah--"
Jeonghan mematikan sambungan sebelum sang ayah selesai bicara. Dia terlanjur sakit hati. Bahkan rasa benci di hatinya kembali tersulut. Seharusnya dia menjauhi segala hal yang berhubungan dengan Choi Seungcheol. Seharusnya dia punya cukup harga diri untuk bisa menolak tawaran bekerja di perusahaan pria itu. Seharusnya dia tidak harus mendengar segala penghinaan itu. Seharusnya...
Seharusnya dia tidak menikahi Choi Seungcheol sejak awal.
Tapi apa dia rela menghancurkan harapan kedua orang tuanya dan membiarkan perusahaan keluarganya bangkrut? Berbagai penyesalan dan kebimbangan yang muncul di benaknya secara serentak membuat kepalanya berdenyut hebat. Merasa tidak sanggup lagi menjalani sisa hari itu, dia membereskan semua barang-barangnya ke dalam tas dan bersiap pulang.
Ketika membuka pintu, Mingyu kebetulan sedang melintas. Mendapati Jeonghan menenteng tas, pria itu seketika berhenti melangkah. "Loh, Jeonghan? Kau mau ke mana?"
"Maaf, aku izin pulang cepat. Kepalaku sakit."
Mingyu belum sempat menanggapi ucapan itu karena Jeonghan mendahuluinya berbicara, "Dan sepertinya aku tidak akan datang lagi ke perusahaan ini untuk seterusnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Long Time Admirer
Любовные романыKekalahan dalam persaingan bisnis membuat Yoon Jeonghan harus menikahi Choi Seungcheol, pria yang sepuluh tahun lalu pernah menyatakan cinta padanya, yang juga ditolaknya dengan keji. Dendam yang lama bersarang dalam hati Seungcheol menjadikan perni...
