"Kau setuju menikah dengannya?!"
Jeonghan mengangguk sembari melahap keripik kentangnya. Setelah Seungcheol dan kedua orang tuanya pulang malam itu, dia segera bertolak menuju rumah Wonwoo untuk menginap. Untung saja kali ini kedua orang tuanya memperbolehkan.
Saat itulah Jeonghan membeberkan semua yang terjadi pada Wonwoo. Dia bahkan menceritakan dengan detail kesepakatan yang telah dibuatnya bersama Seungcheol.
"Kau menyetujui semua syarat yang dia berikan?" Wonwoo tercengang.
"Ya, tapi dia janji tidak akan menyentuhku seenaknya."
"Tapi kak, tidakkah syarat itu terlalu...ambigu? Dia bisa saja menjebakmu agar mau melakukannya."
Jeonghan meringis mendengar perkataan Wonwoo. "Kau kira aku bodoh? Tentu saja aku takkan sudi membiarkannya menyentuhku. Selama aku tidak mau, maka tidak akan ada masalah. Kesepakatan itu kusetujui hanya agar dia menyetujui syarat-syarat yang kuberikan. Lagipula kalau sampai dia menyentuhku, aku bisa minta cerai."
"Jadi apapun yang terjadi...syarat itu tidak akan kau penuhi?"
Tanpa Jeonghan sadari senyum licik tersungging di bibirnya. "Tentu saja tidak. Kau pikir aku mau selamanya hidup dalam situasi seperti itu? Aku hanya perlu menikah dan kemudian cerai dengannya."
"Cerai? Bagaimana caranya?"
Jeonghan meremas kantong potato chip-nya yang telah habis tak bersisa. "Tidak tahu. Aku akan memikirkan cara apapun agar bisa bercerai, selain tidur dengannya."
Mendengar ucapan percaya diri Jeonghan, Wonwoo tersenyum penuh arti. "Kau yakin? Bagaimana kalau kau malah jatuh cinta padanya?"
Ucapan itu menghapus senyum di wajah Jeonghan. "Apa maksudmu?"
"Choi Seungcheol dikenal sebagai pria yang mampu menaklukkan hati siapapun. Kau yakin tidak akan jatuh hati padanya?"
"Hei, kau meragukanku? Maaf, aku sama sekali tidak tertarik padanya."
Kepercayaan diri Jeonghan memang berada pada level yang berbeda, sampai Wonwoo tertawa mendengarnya. "Kita lihat sampai mana kau bertahan. Mau taruhan denganku? Kalau kau sampai jatuh hati padanya hanya dalam kurun waktu enam bulan, kau harus mentraktirku selama setahun penuh."
Tantangan itu terdengar tidak menakutkan sama sekali bagi Jeonghan. Dia balik menantang. "Kalau tebakanmu salah, kau yang harus mentraktirku. Aku tak main-main dengan ucapanku, Wonwoo."
"Aku juga tidak main-main," Wonwoo tersenyum penuh percaya diri. "Aku yakin seratus persen akan menang."
Melihat kepercayaan diri Wonwoo, Jeonghan memutar kedua bola matanya.
Hanya dalam enam bulan? Kau meremehkanku, Wonwoo. Bahkan seumur hidupku, aku tak akan pernah mencintai pria itu.
----------------------------
Wedding Day
Tak terasa waktu cepat sekali bergulir, dan tibalah hari pernikahan mereka. Jeonghan dibangunkan pukul tiga pagi oleh ibunya. Pagi-pagi buta perempuan itu sudah memanggil tim make up profesional yang siap mendadaninya.
Pukul 8, mereka sudah berpenampilan rapi dan bertolak menuju venue pernikahan. Jeonghan melihat keluarga besarnya telah banyak berdatangan, dan mereka sudah memenuhi seisi venue untuk menyaksikan momen terpentingnya hari itu.
Ah, tidak. Momen terburuk sepanjang hidupnya.
Di ruang tunggu, Nyonya Yoon merapikan jas dan kemeja putra semata wayangnya itu. Beberapa menit sebelum upacara pernikahan berlangsung, sang ibu memeluknya dengan sangat erat. "Jeonghan, sebentar lagi ibu harus benar-benar melepasmu. Kau sudah besar dan bahkan akan menikah," ucapnya terharu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Long Time Admirer
RomansKekalahan dalam persaingan bisnis membuat Yoon Jeonghan harus menikahi Choi Seungcheol, pria yang sepuluh tahun lalu pernah menyatakan cinta padanya, yang juga ditolaknya dengan keji. Dendam yang lama bersarang dalam hati Seungcheol menjadikan perni...
