Di luar jendela, cahaya senja menyelimuti angkasa. Kedua kakiku melangkah lenggang, menyusuri lorong sekolah untuk mengambil buku yang tertinggal di kelas. Kebetulan kelasku berada di ujung lorong sehingga harus kulalui beberapa ruangan lain sebelum mencapainya.
Namun langkahku tertahan di depan pintu sebuah ruang kelas. Dari jendela kaca yang bening, kudapati sesosok pria familiar. Dia adalah Yoon Jeonghan, murid terpopuler di sekolah ini. Ketampanannya nyaris tak bercela hingga tiada seorang pun di sekolah ini yang tidak mengetahuinya. Aku menebak-nebak apa yang sedang dia kerjakan pada jam selarut itu. Aku berdiri tepat di depan pintu dan mulai mengintip ke dalam ruangan.
Kulihat pria itu bersandar pada jendela sembari menggenggam sapu. Sepertinya dia kebagian tugas piket membersihkan kelas. Wajahnya tertimpa cahaya mentari senja, dan rambutnya berayun pelan karena tiupan angin semilir. Dengan setengah mata terpejam, dia menikmati suasana kelas yang tenang di sore hari. Kulihat dengan jelas kedua ujung bibirnya mengembang ketika matanya menangkap sesuatu di luar jendela.
Saat itu, aku benar-benar terpesona dengan penampakan yang ada di hadapanku. Jantungku berdebar cepat. Tak sekalipun aku mengerjap melihat keindahan nyata itu. Bagaimana bisa seseorang terlihat begitu menawan seperti malaikat?
Begitu saja aku melupakan barang yang hendak kuambil. Aku menunggunya hingga dia berberes pulang. Aku buru-buru berlari ketika dia mulai beranjak dari kursinya, melupakan niat awalku untuk mengambil barang yang tertinggal di dalam kelas.
Sejak hari itu, tanpa sadar aku selalu memerhatikannya. Dalam kesehariannya, Jeonghan memang tampak dingin dan pendiam. Namun ada sesuatu dari pria itu yang begitu menarik hati. Aku tak pernah berani mengajaknya bicara meski selalu mencari kesempatan agar bisa berpapasan dengannya. Aku hanya bisa mencari sosoknya ketika bel pulang sekolah berbunyi, memandang kepergiannya dari jauh. Aku tak pernah memiliki keberanian untuk menyapanya, hingga hari kelulusan tiba.
Hingga aku memanggilnya ke atap gedung pada siang terik itu.
---------------------------
Tubuh Jeonghan merinding menatap pria yang tersenyum puas di depannya. Dengan rasa takut, dia beringsut mundur.
"Bo-bohong... jangan bercanda. Mana mungkin kau adalah--"
"Pria yang pernah menyatakan cinta padamu," tandas Seungcheol menutup ucapannya.
Jeonghan beranjak bisu. Dengan sepenuh tenaga, dihirupnya udara kuat-kuat, lalu diembuskannya dengan berat. Setengah mati dia berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"...baiklah...Choi Seungcheol. Kau adalah pria yang waktu itu. Lalu? Kau menikahiku karena ingin balas dendam? Kau sakit hati karena aku pernah menolakmu?" Jeonghan berbicara dengan nada menantang.
Awalnya Seungcheol tidak langsung menjawab, namun senyum tipis tersungging di bibirnya beberapa detik kemudian.
"10 tahun adalah waktu yang lama, Jeonghan," dia tertawa kecil. "Namun jika kau mengatakan ini adalah balas dendam... mungkin ada benarnya."
Jeonghan ternganga mendengar pernyataan itu. "Kau...kau benar-benar sengaja memberi syarat itu untuk balas dendam padaku?"
Pria bermata indah itu kembali tersenyum. "Ya, aku ingin membuatmu menderita dengan menikahimu."
Jeonghan menggeleng tak percaya. "Kau...kau benar-benar pengecut. Hanya karena sakit hati, kau membalas dendam dengan cara seperti ini?"
Seungcheol kali ini memperbesar senyumnya. "Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan. Namun perjodohan ini tidak dapat dibatalkan lagi. Sebaiknya kau mulai menerima kenyataan dan merubah sikapmu terhadapku," ujarnya dan dia pun mendekatkan bibirnya ke telinga Jeonghan. "...Karena sebentar lagi, aku akan menjadi suamimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Long Time Admirer
عاطفيّةKekalahan dalam persaingan bisnis membuat Yoon Jeonghan harus menikahi Choi Seungcheol, pria yang sepuluh tahun lalu pernah menyatakan cinta padanya, yang juga ditolaknya dengan keji. Dendam yang lama bersarang dalam hati Seungcheol menjadikan perni...
