Bicara memang mudah. Itu yang Jeonghan sadari di tengah perjalanan menuju venue acara hari itu. Menang dari Choi Seungcheol berarti mengalahkan ribuan pesaing lainnya yang memiliki sepak terjang tinggi. Deretan nominasi kaum elit dan pebisnis terkenal seakan menamparnya dengan realita, bahwa kemungkinan untuk menang yang dimilikinya terbilang kecil. Tapi tidak ada salahnya bukan, berharap? Lagipula kepercayaan diri yang akan mengawali kesuksesan seseorang, begitu kata ayahnya dulu.
"Gugup?"
Tentu saja Jeonghan gugup. Dia hanya pintar menyembunyikannya dari Seungcheol, sang rival. "Tidak," Jeonghan berdusta.
Seungcheol yang duduk di bangku kemudi tersenyum. "Bagaimana jika kau kalah? Apa itu berarti rencanamu gagal?"
Jeonghan menghela nafas. "Entahlah."
Keheningan bernaung sebelum Seungcheol sengaja berkata, "Hm... apa aku sebaiknya berjaga-jaga membeli pengaman?"
Jeonghan mendelik. "Kau tidak akan membutuhkannya," balasnya sinis.
Seungcheol tertawa. "Aku hanya bercanda."
Lucu sekali. Bagi Choi Seungcheol, hukuman perjanjian itu adalah gurauan. Namun tidak dengan Jeonghan yang semalaman memeras otak untuk mencari cara menghindar.
Ballroom hotel tempat acara penghargaan diadakan sudah padat tamu. Kebanyakan yang hadir berpenampilan rapi dan formal. Tak sedikit mobil mewah yang berlalu lalang mengantar deretan figur bisnis terkenal. Itu pertama kalinya Jeonghan menghadiri acara penghargaan besar, dan berada di tempat itu secara langsung membuat dirinya merasa tertekan.
Untungnya dia datang bersama Seungcheol, orang yang sudah terbiasa menjejaki acara semacam itu. Jeonghan mengekornya memasuki ballroom hotel. Belum sampai sepuluh detik hadir di sana, beberapa tamu datang mendekati Seungcheol untuk beramah-tamah dengannya. Sementara Seungcheol sibuk berbincang, Jeonghan menyingkir ke sisi ruangan untuk mengambil segelas jus. Dia berusaha menyegarkan otaknya yang sejak tadi mencemaskan hasil pertaruhan mereka. Masalahnya dia tak hanya sedang mempertaruhkan harga diri, namun juga tubuhnya yang berharga. Di tengah kegundahan itu, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. "Hei, Jeonghan."
Suara itu memperburuk suasana hati Jeonghan. Suara familiar yang tidak dia sukai, dan dia harap tidak akan didengarnya lagi. Namun dia tidak punya pilihan selain menoleh dan berhadapan dengan Jung Dongguk untuk kesekian kalinya. Dia lupa pria itu merupakan pewaris dari perusahaan ternama yang tak mungkin tak masuk ke dalam daftar tamu undangan.
"Aku tidak menyangka kau akan datang ke sini. Menemani suamimu?" Dongguk bertanya sembari matanya menjelajahi penampilan Jeonghan dari atas hingga bawah.
"Aku datang sebagai salah satu nominasi penghargaan," jawab Jeonghan sambil mengutuk mata jelalatan Dongguk dalam hati.
Rupanya informasi itu mengejutkan Dongguk. "Nominasi? Perusahaanmu masuk nominasi?"
Intonasi suara pria itu terkesan mencemooh, sehingga Jeonghan makin kesal saja. Menyadari ekspresi jutek yang Jeonghan berikan untuknya, Jung Dongguk segera menutupi kesalahannya dengan tertawa. "Maaf aku tidak bermaksud menyinggungmu. Tapi aku tidak menyangka perusahaan kecil ayahmu berhasil menjadi nominasi."
Saat itu Jeonghan sampai pada titik kesabarannya. Dia letakkan gelas minumannya ke atas meja dan segera beranjak pergi. Melihat tindakan itu, Dongguk tentu saja berusaha mengejarnya. "Hei, Jeonghan. Kau mau ke mana?"
Baru saja ujung jemari Dongguk menyentuh lengannya, Jeonghan segera menepisnya dengan kasar. "Diam. Jangan bicara denganku lagi."
Dongguk terbelalak. "A-apa? Kenapa? Jeonghan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Long Time Admirer
Storie d'AmoreKekalahan dalam persaingan bisnis membuat Yoon Jeonghan harus menikahi Choi Seungcheol, pria yang sepuluh tahun lalu pernah menyatakan cinta padanya, yang juga ditolaknya dengan keji. Dendam yang lama bersarang dalam hati Seungcheol menjadikan perni...
