Bab 18: Penalti

5.6K 554 40
                                        

Jeonghan sadar dia tak suka kalah, apalagi diremehkan. Apapun akan dia lakukan untuk membuktikan kemampuannya dan mematahkan anggapan merendahkan itu. Tapi kali ini dia sudah terlalu gila. Termakan oleh omongan Seungcheol, dia sampai mengabaikan harga diri dan prinsipnya dengan menyentuh pria itu. Kini, mereka berdua sedang menggeluti sesi make out yang panas di atas ranjang. Sudah beberapa menit mereka berkutat dalam aktivitas itu, dan tentu saja, Jeonghan mendominasi.

Seungcheol membiarkan pria di atasnya memimpin. Dia hanya menikmati bagaimana Yoon Jeonghan yang selama ini sangat anti disentuh mengambil inisiatif untuk pertama kalinya. Meski dia tahu hal itu Jeonghan lakukan karena terpancing omongan asalnya, dia tak peduli dan tetap meladeni 'pembuktian diri' itu.

Namun gerakan Jeonghan terhenti ketika tangannya memegang ritsleting celana Seungcheol. Kesadaran seperti datang menggiringnya kembali pada akal sehat. Benarkah dia mau melakukan hal ini hanya karena termakan emosi? Bukankah dia membenci Seungcheol? Mengapa hanya karena dibandingkan dengan Eunjung perbuatannya sampai melewati batas? Segala pertanyaan itu berputar di benaknya selama beberapa saat hingga menciptakan jeda.

"Kalau kau takut, sebaiknya berhenti."

Suara Seungcheol membuyarkan lamunannya. Hebat, dia seperti bisa membaca pikiran Jeonghan hanya dengan melihat getaran kecil pada bibirnya. Jeonghan sendiri tak bisa menyangkal bahwa dia merasa takut untuk melanjutkan. Namun dia tak sudi mengakui hal itu pada Seungcheol.

"Diam..." Jeonghan mendesis.

"Kenapa kau melakukan ini? Bukankah kau tidak suka bersentuhan denganku?"

Pertanyaan itu semakin membungkam Jeonghan. Nafasnya terhela berat, sukar untuk menjawab.

Tiba-tiba Seungcheol membalik posisi tubuh mereka dengan cepat. Tubuh besar Seungcheol menindihnya, membatasi celah baginya untuk menghindar. Belum sempat bereaksi kaget, Jeonghan rasakan kejang ketika jemari Seungcheol menyapu bagian tubuhnya yang paling sensitif.

"Kau tampaknya tidak memiliki pengalaman di bagian ini?"

Oh, tidak. Dia lihai! Rabaan nakal itu seakan mengalirkan percikan listrik ke seluruh sudut tubuh Jeonghan. "J--jangan sentuh aku!"

Seungcheol tersenyum dan berbisik. "Perhatikan baik-baik bagaimana cara melakukannya."

Jeonghan menelan ludah. Apa yang...?

Dia tak sempat bersuara karena Seungcheol menyegel bibirnya. Dia juga rasakan ritsleting celananya terbuka, dan sebuah tangan mulai bermain pada area intimnya. Sentuhan mendadak itu memberi Jeonghan perasaan panik yang hebat. Tadi dia berani bersikap agresif, tapi sekarang...

"Lepas!" Dengan sekuat tenaga, Jeonghan mencoba mendorong tubuh Seungcheol. Sayangnya badan pria itu seperti tembok. Bergeming keras dan kokoh. 

"Sst... tenanglah. Diam dan nikmati."

Jeonghan masih memberontak. "Aku tidak mengizinkanmu menyentuhku?!"

Gerakan tangan Seungcheol terhenti. Dia mendengus tipis. "Bukankah kau yang tadi menciumku duluan? Kau menginginkan ini terjadi, jadi ada masalah siapa yang menyentuh siapa?"

Jeonghan menelan ludah. Ucapan itu ada benarnya. Tindakan agresifnya tadi seakan menjadi lampu hijau yang mengisyaratkan bahwa dia ingin mereka bercinta. Dia memang terlalu terbawa emosi, dan dia akui itu kesalahannya. Tapi seharusnya dia yang 'menyentuh', bukan sebaliknya!

Namun protes yang ingin Jeonghan layangkan harus tertunda karena jemari di bawah sana sudah menjelajah semakin jauh, menyelinap ke antara helai pakaian. Tubuhnya seketika bergetar karena tangan Seungcheol menyentuh bagian tubuh privatnya itu dan mulai memainkannya.

My Long Time AdmirerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang