Pencet tombol bintangnya qaqa^^
Kemarin Lee Jaemin tidak masuk lagi.
Pagi ini juga Lee Junseok tidak melihat kehadiran Lee Jaemin didalam kelas.
Tentu saja. Kemarin adalah hari dimana Jaemin bertolak ke London. Jadi entah itu kemarin, pagi ini, besok, lusa atau selamanya Jaemin tidak akan pernah muncul lagi disekolah. Lebih baik tidak usah dipikirkan lagi. Jangan mencari yang tidak ada.
The show must go on.
Saat ini Junseok berada di perpustakaan. Sesaat setelah bel istirahat berbunyi, Junseok langsung kesana. Ada tugas yang mau diselesaikan. Itu tugas kimia dari Pak Changmin yang sebenarnya masih seminggu lagi deadline-nya.
Junseok hanya ingin memanfaatkan waktu luang. Toh dia juga tidak pergi ke kantin untuk makan, katanya tidak lapar. Katanya juga akhir-akhir ini dia kehilangan nafsu makan.
Kehilangan Lee Jaemin, selera makannya ikut menghilang. Dan yang lebih parah, semangat hidupnya juga meredup.
Kali ini Junseok duduk di spot favoritnya, disamping jendela kaca perpustakaan yang lebar. Bukan apa-apa, Junseok hanya memanfaatkan cahaya alami sebagai penerangan. Alasan lainnya, Junseok bisa melihat pemandangan sekolahnya dari kaca perpustakaan. Meski pemandangan hanya sebatas siswa yang berlalu-lalang.
Dengan kacamata yang ia kenakan, Junseok mulai membolak-balikkan satu per satu lembaran berwarna putih dihadapan. Bola matanya menekuni rangkaian kalimat yang menyusun buku materi kimia.
Ngomong-ngomong kalau boleh jujur sebenarnya level ketampanan Lee Junseok naik berkali lipat ketika anak itu memakai kacamatanya. Apalagi ditambah dengan ekspresinya ketika fokus dengan buku.
At some points, he looks so sexy with his book.
"Permisi, kita boleh duduk disini kan?"
"Hmmm."
Tanpa sedikitpun beranjak dari bukunya, dapat terlihat jelas dari ekor mata Junseok ada dua orang gadis entah itu kakak kelas, adik kelas atau teman satu angkatan Junseok tak paham. Yang jelas Junseok setuju mereka bergabung. Asal mereka tak gaduh saja.
Tapi...
"Psst psstt... itu Lee Junseok kan? Kelas 2-1?"
"Eanjirr iya. Ganteng juga sih ya ternyata kalo diperhatiin."
"Bisa-bisanya modelan kaya begini di bully. Pada goblok kayaknya anak-anak."
Meski berbisik nyatanya Junseok masih bisa mendengarnya dengan jelas. Terganggu? Jelas. Ini perpustakaan tapi mereka sangat berisik, Junseok jadi hilang konsentrasi.
"Ekhmm."
Satu deheman berhasil menutup mulut dua gadis yang gaduh. Sederhana tapi efektif. Karena Junseok mengeluarkan jurus yang paling ampuh yaitu ekspresi dingin diwajahnya. Demi apapun itu sangat menakutkan. Sepertinya itu jurus yang ditakuti semua orang.
Kecuali Lee Jaemin.
Sudahlah jangan membahasnya lagi, anak itu sudah pergi jauh.
"Anjrit lah serem. Cabut aja yuk."
"Ehm... maaf ganggu."
Bukan isapan jempol belaka jika wajah dingin Junseok sangat menyeramkan. Buktinya dua gadis tadi lantas menarik diri. Takut Junseok mengamuk sepertinya. Padahal tidak mungkin Junseok melakukannya. Ini perpustakaan dan mereka perempuan, bukan lawan sepadan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Missing Puzzle Piece
Fanfic"Aku akan selalu ada disampingmu. Mengiringi langkahmu seperti bayangan yang tak mungkin meninggalkan tuannya, barang sedetik." Fanfic ini terinspirasi dari dreamies dan persahabatannya yang kompak, terutama Jeno dan Jaemin. Kalau kalian mau tahu c...
