Insiden Manis
__
|perhatian 1090 kata|
<○○●●●___■___●●●○○>
~AFTER ORION~
SETENGAH tiga pagi Aini sudah sibuk bareng Bu Inem masak di dapur. Walaupun sudah ada asisten rumah tangga yang bejibun di rumah istana Zuli ini, tapi tetap saja Aini tidak bisa meninggalkan keiasaan lamanya.
"Bu Inem kalau mau sholat tahujjud gak apa, biar saya yang melanjutkan masaknya. Lagian hari ini saya sedang libur," kata Aini dengan senyuman ramahnya.
"Ya sudah Nyah, kalau begitu saya pamit dulu ya, nanti saya ke sini lagi."
"Iya Bu Inem." kata Aini.
Setelah kepergian Bu Inem dari dapur, Aini melanjutkan aktivitasnya mengiris bawang merah.
Ia bersenandung ria menikmati acara memotongnya, hingga sebuah pelukan dirasakannya dari belakang punggungnya.
Aini menoleh, melihat siapa pelakunya.
"Mas, sudah bangun?" tanya Aini tanpa merasa risih.
"Hmm. Kamu masak apa sih? Harum banget," kata Zuli dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Saat ini suami Aini itu sedang melingkarkan kedua lengannya di pinggang Aini, dagunya ia tumpukan di pundak kanan sang istri dan matanya yang belum sepenuhnya terjaga.
"Kamu ini ngigau ya Mas. Aku lagi potong bawang ini," kata Aini diiringi kekehan pelan.
"Hmm." Zuli berdehem dan semakin mendesakkan wajahnya diperpotongan leher Aini.
"Mas kalau masih ngantuk tidur lagi gih! Nanti aku bangunin kalau udah mau Subuh," bujuk Aini mulai merasa keberatan dengan beban tubuh Zuli.
Tanpa kedua insan itu sadari, putra sulung mereka sedang berjalan menuju dapur untuk mengambil air hangat guna menetralisir rasa mualnya akibat baru bangun tidur.
Zulfian cukup terkejut melihat adegan romantis kedua orang tuanya di dini hari ini.
Mendadak dia malu dan panik sendiri, inginnya buru-buru pergi meninggalkan dapur tanpa ketahuan. Namun kepanikan Zulfian justru membuat fokusnya ambyar, dan tanpa sengaja langkahnya membuat kening berharganya terjedot etalase tempat piring pajangan.
Duak!!
Zuli dan Aini terkejut mendengar suara gaduh di belakang mereka.
"Fian," panggil keduanya serempak, Zuli spontan melepas rengkuhannya pada Aini dan langsung berjalan mendekati putra sulungnya.
"Fian kamu enggak apa Nak," tanya Zuli sambil membungkuk memeriksa keadaan putranya.
Zulfian mengusap lembut keningnya yang sudah memerah, ia lantas menyunggingkan senyuman konyolnya.
"Aku mau ngambil air tadi. Tapi gak jadi kok udah gak haus. Aku balik kamar dulu ya Yah, Bun," katanya lantas cepat-cepat bangkit dan melesat menaiki tangga menuju kamarnya.
Zuli cengo seketika, dia menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Aneh."
"Kamu sih Mas, udah tahu lagi di dapur, malah nempel-nempel mulu. Malu tau dilihat Fian," gerutu Aini lantas pergi menyambung aktivitasnya memotong bawang.
KAMU SEDANG MEMBACA
AFTER ORION [✔]
Fiksi Penggemar[BROTHERSHIP : AFTER ORION] [SEQUEL DARI THE ORION CONSTELLATION] Tidak diwajibkan untuk membaca seri pertama. Karena sequel jelas sekali berbeda. Beberapa part mungkin akan menyangkut seri pertama tapi tidak keseluruhan. Terima kasih. ____________...
![AFTER ORION [✔]](https://img.wattpad.com/cover/243753872-64-k226955.jpg)