[17] |pertemuan malapetaka|

900 115 42
                                        

Pertemuan Malapetaka
___
|perhatian 1347 kata|
<○○●●●___■___●●●○○>

~AFTER ORION~

RESTORAN bernuansa hangat  itu dipilih Zuli dan keluarga besarnya untuk pertemuan dua keluarga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

RESTORAN bernuansa hangat  itu dipilih Zuli dan keluarga besarnya untuk pertemuan dua keluarga.

Ada Zidan, Zafran, Egi -istri Zidan-, Zuli dan juga Aini yang sudah duduk sambil berbincang. Mereka berada di meja yang terletak di lantai dua restoran. Di hadapan mereka sudah tersedia beraneka macam makanan dan minuman. Termasuk makanan kesenangan dua orang yang sedang mereka bicarakan, Zulfan dan Zulfian.

"Sepertinya anak kamu itu banyak miripnya sama Zuli, Ni," sela Zidan di tengah perbincangan Aini dengan Egi.

"Sepertinya begitu," kata Aini malu-malu.

"Kan Mas, aku sama Aini ini udah ditakdirkan berjodoh. Buktinya anak kita saling miripkan. Zulfan mirip aku polahnya, dan Zulfian sekarang malah kayak Aini kan."

"Iya-in aja deh Om," sahut Zafran yang mengundang gelak tawa di lantai dua restoran.

Untuk lantai dua restoran ini sudah dibooking oleh keluarga Diraja, khusus malam ini.

"Permisi, maaf semuanya saya terlambat." suara bariton milik Zulfian mengalihkan perhatian keluarga Diraja dan Aini yang ada di sana.

"Wah si sulung udah datang tuh," Egi menggoda pasangan yang akan segera menikah itu.

Zulfian berjalan mendekat ke salah satu kursi kosong yang membelakangi tangga.

"Duduk Fi," titah Zuli.

Zulfian menarik kursinya dan duduk tenang di sana.

"Maafkan saya, tadi ada urusan sebentar, Om, Tante, Mas, Ayah dan Bu--"

"Bunda Aini, panggil begitu saja Fi. Dia calon Ibumu," sergah Egi dengan senyuman hangatnya.

Zulfian mengerutkan keningnya. Ia menatap lekat wanita yang duduk bersebelahan dengan Ayahnya itu.

"Bunda?" lirihnya.

Aini tersenyum tanpa mengeluarkan suara.

"Iya Fian. Dia Dosen sastra yang pernah Ayah ceritakan sama kamu. Namanya Bu Aini, ia sudah pernah berkunjung ke rumah sakit saat kamu dirawat. Mulai sekarang kamu bisa panggil Bu Aini, bunda ya," Zuli menambahkan.

"Iya Fian, kamu enggak usah sungkan ya." suara selembut sutra itu akhirnya keuar dari bilah bibir Aini.

Zulfian sangat mengenali suara itu, iya dia hafal betul dengan suara Ibu kandungnya sendiri di masa Orion.

"Bunda," reflek Zulfian memanggil Aini.

Mata pemuda boxy smile itu berkaca-kaca untuk ke sekian kalinya. Ia tidak menyangka kalau Ibunya benar-benar masih hidup. Zulfian pikir itu hanya imajinasinya saja, tapi sekarang Bundanya sudah ada di depan mata, bahkan akan segera melangsungkan pernikahan dengan Ayahnya.

AFTER ORION [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang