Chapter 35 (Where are you ?)

501 47 38
                                        

Hari ini adalah hari paling mendebarkan dalam hidup Huang Chengxin. Ia belum menutup matanya sama sekali semenjak Jiaqi dibawa ke ruang operasi. Rasa kantuknya mendadak hilang setelah dihantui rasa ketakutan yang begitu dalam. Hal yang sama dialami pula oleh Ao qilin. Melihat temannya yang merasa gelisah dari semalam membuat ia ikut-ikutan tidak merasa kantuk barang sedetik saja.

Sekarang sudah menunjukan pukul 7 pagi, yang artinya si pendonor sudah memberikan jantungnya atau bahkan mungkin sedang persiapan untuk pengambilan. Chengxin tak henti merafalkan doa agar semuanya berjalan lancar tapi di sisi lain ia tetap merasa iba.

“Sudahlah.. kau membuatku tegang. Aku yakin sore nanti kita akan melihat Jiaqi dengan jantung barunya.”

Chengxin mengangguk sambil meremat ujung pakaiannya. Berulang kali ia menghela nafas untuk sedikit mengobati perasaan gugup, namun tetap saja hasilnya selalu sama.


‘ddrrt..ddrrt’

Qilin pertama kali sadar jika ponsel Chengxin berbunyi didekat tasnya. Ia mengambil ponsel tersebut dan sedikit tersenyum ketir saat mengetahui siapa yang menelpon Chengxin. Di atas layar terdapat notifikasi puluhan panggilan yang tidak diangkat oleh sahabatnya itu.

“Angkatlah..suamimu menelpon. Beri dia kabar baik.” Ujar Qilin sambil memberikan ponselnya.

Chengxin terdiam sejenak lalu pada akhirnya ia mengangkat panggilan itu akibat raut wajah Ao Qilin yang terlihat seperti memohon.

“Hallo ?”

‘A-akhirnya kau bicara padaku.’

“Hmmm..”

‘Oh iya, aku mendengar berita dari Ziyi jika Jiaqi sudah mendapat donor jantung. Benarkah ?’

“Hmmm..”

‘Aku sangat bahagia Jiaqi akan segera sembuh. Tapi maaf, aku tidak  bisa menemanimu disana. Sebentar lagi aku pergi keluar kota. Aku usahakan kembali secepatnya.’

“Tidak usah berusaha. Jika kau memang sibuk jangan buru-buru pulang.”

‘Baiklah. Jangan merindukanku kalau begitu. Aku mencintaimu sayang.’

“....”

“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”

“Ya. Hati-hati di jalan.”

Chengxin dengan cepat menutup telpon agar ia bisa berhenti mendengar ucapan suaminya. Jujur saja dirinya masih enggan mengucapkan kata cinta setelah masalah besar yang menimpa. Bukan hanya karena itu, Chengxin sengaja agar Yuhang bisa fokus bekerja disana dan tidak memikirkan hal lain. Pernah satu kali ia mendapati suaminya pulang terburu-buru ditengah rapat ke rumah dengan alasan rindu. Konyol memang, tapi di sisi lain ia merindukan hal demikian.

“Kau keterlaluan. Padahal suamimu hanya meminta kata cinta dari mulutmu.” Ujar Qilin dengan suara parau.

Chengxin terkekeh melihat wajah sedih sahabatnya, “Nanti aku akan menghadiahinya banyak ciuman setelah dia pulang. Yuhang akan manja jika aku menuruti kemauannya.”

“Aku lapar. Ayo kita makan dulu.”

Berada dalam kondisi tegang membuat mereka merasa lapar juga. Qilin menarik lengan Chengxin untuk mencari makanan yang mengenyangkan setelah semalaman mereka tidak mengisi perut sedikit pun. Tak membutuhkan waktu lama, Qilin mengajak si manis duduk di kantin sebelah rumah sakit. Menurut beberapa pengunjung, makanan disini terkenal cukup enak.

Mereka memesan dua mangkuk bubur dan dua gelas susu hangat. Meskipun masih pagi, namun suasana tempat ini sudah cukup ramai. Kemudian Chengxin mengalihkan atensinya kepada Qilin yang tak berhenti senyum sedari tadi sembari memainkan ponsel.

Dia (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang