Renjana
─────
Perasaannya hati yang kuat.
Secondhand serenade ~ Fall for you
.
•·················•·················•
❛❛Sejauh dari apa yang aku raskan ini, kuletakan tepat disebelah rasa takut, yang terkadang begitu mengganggu.❞
⚘
•·················•·················•
Aku yakin bocah itu pasti sangat puas menertawakan kejadian tadi. Sekembalinya dia dari dapur, benar saja Jisung masih terkikik geli. Aku menatap tangannya waspada, tapi ternyata di tangannya sudah tidak ada hewan yang katanya eksotis itu melainkan berganti sebuah kotak kecil bludru berwarna biru dongker. Aku berdiri dari tempatku sambil menyipitkan mataku.
"Itu hadiahnya?'
Jisung mengangguk. "Aku tidak tahu kamu suka atau tidak tapi..." Jisung berjalan memutar menuju punggung belakangku, "saat aku melihat ini, aku teringat padamu." Jakam itu memasangkan sebuah kalung dileherku. "Kamu harus menerimanya, aku sudah merengek habis-habisan sama bunda jangan buat aku malu sebagai pria sejati"
Aku menaikan sebelah alisku "pria sejati merengek?"
"Demi dirimu apasih yang tidak." Ngeles jisung.
Kalung berwarna silver. Aku memegang liontin kecil itu bermaksud melihatnya, namun pria itu benar-benar membuatku speechless. Ini serius huruf J. Aku mengernyit, kok? Mataku otomatis menatap Jisung. "In, ini gak salah?"
"Apanya?'
"Bandulnya."
"Bandul tuh apa?"
"Ini nih." Aku mendekatkan liontinnya didepan mata Jisung.
"Apa?"
"Kamu salah orang."
"Emang kamu bukan orang?"
"Ih.. bukan gitu, maksudnyakan nama aku Chenle kok J?"
"Emang kenapa? Kan aku yang beli."
Aku memiringkan kepalaku. Kaget dengan ucapan Jisung. "Y, ya bener juga sih. Hemm." Aku cemberut.
"Biar kamu inget udah punya aku."
"Maksudnya?'
Jisung menangkup kedua pipiku. "J for Jung Jisung, JI.... SU... NG. Kamu punya aku! Paham tuan putri?"
Aku otomatis mengangguk. Jisung mulai pandai bertindak romantis. Dadaku berdegup kencang, membuat napasku sedikit sesak. Aku memegang bandul itu, tersenyum senang. Aku tidak akan membiarkan Jisung pergi dariku. Pikirku singkat.
"Cantik." Lirih Jisung yang terdengar hanya gumaman saja.
"Um?"
"E, eh ke saung yuk?" Ajak Jisung mengulurkan tangannya untuk aku sambut lalu setelah tangan kami bertautan dia menarik tanganku menuju pekarangan rumahnya.
Aku menatap tautan tangan itu, serasa tidak nyata. Tangan jisung sedikit berkeringat dingin dan gemetar. Ah sepertinya jakam itu sedang gugup. Aku kembali tersenyum dalam diam melihat preman sekolahku dapat gugup juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Midnight Memories (End)
Teen FictionSuka cerita ini? you can follow me for more stories♡ Kenangan itu datang ketika aku tidak meminta kehadirannya. *** Aku, Wong Chenle akan menceritakan tentang dia, pria yang tiba-tiba saja hadir disetiap lembaran hari-hariku. Sosoknya seperti noda...
