23. Nuraga

209 34 6
                                        

Nuraga
────
Berbagi rasa.

.

•·················•·················•

❛❛Jika kamu mencintai seseorang maka lepaskanlah, biarkan dia terbebas. Jika dia kembali maka dia menjadi milimu. Jika tidak, artinya sejak awal kamu tidak pernah memilikinya.❞

•·················•·················•

Malam itu saat aku sedang berbaring perutku tiba-tiba saja terasa sedikit sakit. Orangtuaku sedang pergi ke rumah nenekku, sekedar absen mingguan tapi aku tidak ikut, hanya mereka berdua sedang abang ku sudah menikah dan tinggal di luar kota. Aku sudah bilang kan diawal jika aku memiliki GERD, semacam penyakit maag. Sepertinya pemicu ini karena aku habis makan mie ayam. Tapi aku masih bisa meng-handle-nya. Aku berpikir nanti pagi sakitnya juga akan hilang, walaupun sepanjang malam aku akan tersiksa terlebih dahulu.

Aku meraih ponselku dan memainkannya untuk mendistraksi dari rasa perih dan mualnya, ini sungguh tidak nyaman. Sampai akhirnya sebuah panggilan telepon masuk, nama Jisung tertera pada layarnya. Bibirku otomatis menyunggingkan senyum tipis.

"Halo siapa disana?" Jakam itu lebih dulu menyapa, suaranya terkesan dibuat-buat menjadi dalam dan tegas.

Aku menautkan alis, takut jika itu salah sambung. "Ji?"

"Kamu jawab, polisi, gitu."

Aku mengangguk bodoh, padahal Jisung tidak akan melihatnya juga. "Saya Polisi."

"Hai polisi saya Jisung mau lapor." Ujarnya dengan suara tegas seperti sersan pada mayor. Mungkin disana anak nakal itu juga menghormat sebelumnya.

"Lapor apa?" Sautku dengan nada yang dibuat tegas pula, agar mirip dengan Jisung.

"Saya udah pacaran sama Chenle lebih lebih lebih lebih dari 24 jam."

Aku tersenyum, "Kalau begitu Chenle jawab dia mau cu...ti."

"Tidak bisa! Cuti berlaku saat Iebaran saja."

"Kenapa begitu? Kan saya polisinya." Aku pura-pura marah mengikuti skenario Jisung. Aku jadi geli sendiri saat membayangkan ini. Bagaimana aku bisa sepede itu ya?

"Dia belum cuti saya sudah merindu."

Aku sontak tertawa keras saat anak nakal itu mulai menggombal. Sudah kebal pikirku. "Hahahaha berani gombalin polisi?"

"Akh sakit gembul." Tiba-tiba Jisung meringis dari seberang telepon. Suaranya mengecil, seperti telepon itu sengaja dijauhkan.

Aku diam berusah mendengarkan apa yang sedang terjadi. "Halo Ji." Sapa ku ulang, tapi tetap hanya suara gemerisik yang aku dengar. Jisung tidak menjawab.

"Abang agi ngomong cama ciapa?" Aku agak menjauhkan ponselku, suara berisik bercampur suara anak kecil terdengar jelas. Membuat telingaku sakit. Sepertinya anak kecil itu mencoba merebut ponsel Jisung.

"Aku mau ngomong abang, jangan ambil hpnaa huaaa hiks hiks." Aku tersenyum dibalik sambungan telepon itu, pasti Jisung sedang kewalahan disana menghadapi anak kecil yang tiba-tiba saja datang. Entah itu adik Jisung atau siapanya. Aku masih belum tahu.

"Diam dulu jangan nangis, baru abang kasih."

"Iya Lala diam." Seketika suara rengekan anak kecil itu hilang berganti suara tawa Jisung.

Midnight Memories (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang