"Dia cuma syok, selebihnya tak ada komplikasi lain" Pria itu memberitahukan kondisi Jisoo usai memeriksanya, "Hanya pingsan, sebentar lagi siuman" Lanjutnya mengimbuhi kalimat yang sebelumnya lantas berbalik dan menjauh dari tepi ranjang.
"Kekacauan ini siapa yang berulah?" Tuan Jeon angkat suara, ia tampak tak percaya dengan tempelan gambar-gambar didinding ruang tamu rumahnya dan beberapa ada dibagian luar sekalipun sudab dibereskam oleh pelayan.
Tak ada yang menjawab, Jimin memasang wajah tanpa dosa seperti tak pernah melakukan apapun. Pria mungil itu nampak lebih memerhatikan Rose yang memucat mungkin gugup atau takut karena kalimat Tuan Jeon terdengar mengintimidasi sekali.
Disisi lain terdapat Jungkook, pria itu baru saja pulang dengan alasan habis ke gym pagi hari sudah dari subuh tadi. Alibi yang luar biasa padahal semalaman ia menganggu Lisa, tepatnya memaksa tidur disisi wanita itu sampai membuat keributan sampai Lisa sakit kepala.
Menarik kursi ke sana kemari sampai akhirnya nekat menyatukan ranjang sebelah dengan ranjang tempat Lisa berbaring agar terdapat banyak ruang untuknya berdekatan dengan dua orang yang ia cintai.
Malahan sebetulnya Jungkook tidak mau pulang, pria itu mau bersama Lisa dan bermain dengan anaknya yang masih berbentuk segumpal daging dalam rahim Lisa. Bahkan Jungkook sampai menawari bebek-bebekkan pada anaknya itu, Lisa dibuat kesulitan tidur karena Jungkook rewel dan mengoceh melulu, mengusap perutnya lalu memeluknya.
Dasar gila!
"Kenapa ayah menatapku? Ayah menundingku?" Jungkook bertanya skeptis, ia melihat sang ayah memandanginya tanpa berkata apapun saat yang lain sibuk hening.
"Sudah, semuanya keluar dulu. Biarkan Jisoo istirahat" Nyonya Jeon memberi perintah, Jimin mengangguk lebih dulu dan segera membawa Rose keluar dari sana.
Disusul oleh Tuan Jeon yang sepakat dengan ucapan sang istri lalu Tuan Kim yang cemas setelah dikabari putrinya pingsan, untunglah situasi sudah kembali kondusif setelah disogok dengan uang—mereka sudah pasti bungkam setelah ini.
Giliran Jungkook yang ingin keluar dari sana karena merasa tak ada yang perlu dibahas apalagi diperpanjang, toh cuma Jisoo bukan Lisa. Lebih baik ia kembali ke rumah sakit dan bermain dengan para kesayangannya.
"Jungkook, kau ikut dengan Ibu" Cegah Nyonya Jeon memberi perintah sebelum Jungkook lebih dahulu keluar, lalu dia berjalan mendahului Jungkook yang mengekor dibelakangnya.
Nyonya Jeon membawa Jungkook ke balkon, wanita itu memegang pembatas berlapis emas dengan ukiran indah tetapi bukan itu yang mau dibahas olehnya, Nyonya Jeon berdehem dulu karena situasinya agak canggung setelah kejadian ia menampar Jungkook waktu itu.
Suasana makin tidak enak terlebih Jungkook kelihatan diam saja tanpa ada terbesit sedikit saja niat untuk membuka pembicaraan lebih dulu, Jungkook masih kecewa dengan Sang Ibu terakhir kali.
"Maaf" Nyonya Jeon mengawalinya, mungkin ini yang tepat untuk sekarang mengurangi sedikit kecanggungan diantara hubungan ibu dan anak yang sempat renggang. Ah, Nyonya Jeon baru ingat...mereka memang tidak sedekat kelihatannya.
Jungkook menghela napas, ia berdiri berjarak dari ibunya sendiri. Pria itu memalingkan mukanya, lebih memilih menatap hamparan bunga dibawah sana. "Ibu tidak pernah mau mengerti, aku sudah paham jadi tak perlu diperbesar. Aku baik-baik saja"
Dia jengah, tolong sudah jangan tanya. Jungkook lelah tapi ia mengaku bersalah, "Rencana ini milikku, kau bisa mengusirku saja Bu"
"Lebih bahagia jika diusir karena aku bisa hidup dengan Lisa" — Bukannya sedih ia malah mengulum senyum dengan kepala tertunduk. Sekilas terlihat sedang meratap tapi sebenarnya sedang bahagia, Nyonya Jeon tertipu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SWEET REVENGE
Fanfiction✔️[M]Lisa hanya ingin balas dendam pada Jisoo dengan merebut calon suaminya setelah dimasa lalu kekasihnya direbut oleh wanita itu akan tetapi siapa sangka kalau lelaki yang menjadi calon suami kakaknya adalah Jeon Jungkook, korban muntahannya pada...
