Budayakan follow sebelum membaca :)
-ANNA-
Jika saja hari itu Ana nekat. Jika saja hari itu semuanya setuju. Jika saja hari ini terjadi pada hari yang lalu. Mungkin tidak akan seburuk ini. Mungkin tidak akan ada keramaian tanpa undangan. Mungkin. Se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
...
•Akar Kayu Bajakah•
Jeno tiba-tiba muncul di pintu masuk rumah Ana. Wajahnya menunjukkan raut khawatir dan tidak percaya secara bersamaan. Setelah dikabari Handoko pagi tadi, mengenai kondisi Ana.
Jeno adalah adik kandung Srihar. Ia belum menikah padahal usianya sudah berpijak diangka 30. Ia masih betah sendiri, tanpa pacar apalagi istri.
Bagi Jeno, keluarga adalah urutan pertama. Ia tidak bisa menyenangkan orang lain jika ia belum bisa menyenangkan keluarganya.
Sora ini Jeno langsung meluncur ke rumah Handoko. Berniat ingin melihat kondisi keponakan tercinta. Ia belum tahu apa yang bersemayam di payudara Ana tetapi ia membawa beberapa kantong asoy akar Kayu Bajakah.
Katanya sih bisa mengobati kanker, tumor, dan beberapa penyakit lain. Jeno berharap dengan ini benjolan di payudara Ana mengecil dan berakhir hilang.
Jeno memasuki rumah Handoko. Ia langsung menuju dapur dan meletakkan akar kayu bajakah yang ia bawa. Kemudian Jeno berlalu ke ruang tengah. Duduk di sofa sembari melihat sekeliling.
Ia celingak-celinguk karena tidak menemukan sosok manusia. Ia heran, bisa-bisanya rumah ini dibiarkan kosong dengan pintu terbuka. Bisa saja nanti ada orang-orang iseng yang masuk dan berbuat hal-hal tidak diinginkan.
Tapi untunglah tidak ada kejadian seperti itu hari ini. Jeno cukup lega. Bagaimanapun, keluarga yang paling Jeno sayangi adalah keluarga Srihar. Mengingat betapa baiknya Handoko.
Lalu, Jeno sibuk bermain Hp. Meninggalkan pemikirannya perihal rumah kosong dengan pintu terbuka.
Ketika sedang asik, tiba-tiba sosok Ana dengan wajah bantal muncul didepan kamar. Gadis itu menguap kemudian menatap Jeno.
"Loh? Paman Jen, kapan datang?" tanya Ana sembari berjalan mendekat. Jeno yang merasa terpanggil pun mendongak, menatap keponakannya yang kini duduk disebelah Jeno.